Thursday, March 24, 2011

Indahnya Memaafkan

 
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma'aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.  Aamiin"
QS Al Baqoroh: 286
Manusia diciptakan sebagai  ladang koreksi terhadap sikap keliru dan menyimpang yang dilakukan manusia lain.
Banyak peristiwa besar yang dibiarkan tanpa penyelesaian, berawal dari kejadian kecil yang sungguh mudah diselesaikan pada saat terjadi.
Memaafkan adalah bentuk paling indah dan paling tinggi dalam kasih sayang. Balasannya, anda akan memperoleh kedamaian dan kebahagiaan yang tak sempat terkatakan, atau terucap melalui kata-kata. 
Tugas utama yang sangat mulia bagi pemaaf bukanlah terletak pada nilai sesaat dari usaha memberi maaf melalui lisan, tetapi lebih pada hasil dari membentuk pemaaf-pemaaf  baru (lanjutan) yang siap memaafkan pihak lain dari contoh yang berhasil diteladani.
 Bertakwalah kalian kepada Allah, perbaikilah hubungan yang terputus di antara kalian, karena Allah selalu ingin mendamaikan di antara orang-orang muslim yang tengah berselisih. (HR Imam Al Hakim)
Meski sulit dalam praktik, sikap memaafkan tidak harus dijauhkan dari target atau objeknya. Sebab, rangkaian memaafkan bukan ditujukan sesaat setelah peristiwa aniaya dilakukan. Ia menuntut sinergi yang berkesinambungan saat peristiwa serupa atau yang mendekatinya kembali terulang. Letak ujian yang sesungguhnya tersemat disana, tepat pada saat gambaran kekeliruan yang pernah terjadi terulang dan menuntut adanya perlakuan serta sikap serupa, yaitu kembali memaafkan.
Kita seharusnya berterima kasih pada pelaku kesalahan.Sebab, dari mereka kita bisa mengetahui dan belajar menghindarkan diri dari kesalahan yang sama. Kita bisa tahu kalau tindakan itu bernilai salah jika ada contohnya. Betapa kita tidak akan tahu makna benar jika tidak pernah ada yang melakukan kesalahan.
Berlapang dada sangat dibutuhkan setelah kata maaf kita berikan. Sebab, jika lapang dada menjadi tanda bahwa kita siap menerima jika kesalahan serupa atau bahkan bernilai lebih kembali menimpa kita, baik dari pelaku kesalahan yang sama, atau pun pihak lain, kepada kita.
Berilah maaf!. Tidakkah kalian ingin jika Allah juga memaafkan kesalahan kalian kepada-Nya?
"Ya Allah.. jika Engkau tidak marah kepadaku, maka sungguh tidak ada yang lebih aku butuhkan selain itu. Namun maaf-Mu, aku rasakan lebih luas bagiku".  (HR Imam Ath Thabari)
Mengirim cahaya ke kegelapan hati manusia adalah satu tugas yang sungguh sangat mulia.
Pintu-pintu surga dibuka setiap hari Senin dan Kamis. Lalu orang-orang yang tidak berbuat syirik kepada Allah akan Dia ampuni dosa-dosa mereka. Kecuali bagi mereka yang masih menyimpan rasa dendam dan kebencian terhadap sesama (saudaranya). Lalu Allah katakan untuk mereka yang tengah berselisih: "Tangguhkanlah ampunan untuk kedua orang ini, hingga mereka berdamai". (HR. Muslim)
Kita harus segera menyatukan rasa sakit hati dan membakarnya, sebagai energi positif untuk menempuh perjalanan hidup ke depan.
Menganggap remeh kata maaf sama artinya dengan memandang rendah diri sendiri. Karena maaf sangat dibutuhkan oleh siapa saja, termasuk diri sendiri.
Kejujuran merupakan hak milik yang paling berharga. Kepuasan adalah harta benda paling bernilai. Kepercayaan menjadi sahabat yang paling baik.
Pengetahuan diperoleh dengan belaja, kepercayaan diperoleh melalui keraguan pada awalnya, keahlian digapai melalui pelatihan, dan cinta diraih dengan cinta.
Maafkanlah jika anda ingin dimaafkan
Bersikaplah waspada terhadap dampak buruk dari perbuatanmu. Sebab, setiap amalan pasti akan mendapatkan balasan yang setimpal. Untuk itu berhati-hatilah dalam berbuat. (Imam Ali).
Benteng terkuat dalam sejarah anak Adam adalah maaf.  Perlindungan terbaik dalam hidup adalah terletak pada kekuatan kata maaf. Kekuatan yang amat dahsyat tersemat bagi pemaaf. Dan, keajaiban sesungguhnya yang jauh dari ungkapan verbal adalah sanubari yang pandai memaafkan.
Apabila anda merasa ragu atas cinta seseorang, maka bertanyalah kepada sanubari anda sendiri tentang hal yang sama. (Ali bin Abi Thalib) 
Posisi sakit akan selalu berada di atas (menyelimuti) sifat dasarnya, yaitu sehat. Ia disebut sakit, karena sifatnya yang membelenggu kesehatan sebelumnya. Pada saat belenggu sakit itu terlepas atau dilepaskan, maka kembali posisi awalnya, yaitu sehat (tidak sakit lagi).
Ketika berhadapan dengan orang lain, ingatlah bahwa anda tidak berurusan dengan makhluk logika, tatapi dengan makhluk emosi.
Keraguan hanya bisa dihilangkan dengan tindakan.
Siapa saja bisa marah, dan marah itu mudah dilakukan. Tapi, marah kepada orang yang tepat, dengan derajat kemarahan yang tepat pula, pada saat yang tepat, untuk tujuan yang tepat, dengan cara-cara yang tepat, semua itu sungguh tidaklah mudah.
Siapa yang memanjatkan do'a kepada-Ku, Aku pasti akan mengabulkan untuknya. Siapa yang meminta kepada-Ku, Aku pasti akan memberinya, dan siapa yang memohon maaf kepada-Ku, niscaya Aku memberinya maaf. (HR Bukhori dan Muslim)
Semua orang pernah melakukan kesalahan, tapi hanya mereka yang bijak yang bisa belajar dari kesalahan itu.
Dalam praktik toleransi, satu musuh adalah guru yang terbaik. Dan guru yang teraik pasti akan memberikan pelajaran terbaik pula kepada murid-murid yang mau mengikuti arah kebenaran yang diajarkan.
Tragedi kehidupan terjadi ketika kita tua lebih awal dan terlambat menjadi orang bijaksana.
Kebenaran bukan untuk semua orang, tapi hanya untuk mereka yang mencarinya.
Jika anda ingin dihormati orang lain, maka hormatilah diri anda sendiri. Hanya dengan itu anda akan memaksa orang lain menghargai anda.
Hadapi masa lalu tanpa penyesalan. Hadapi hari ini dengan tegar dan percaya diri. Siapkan masa depan dengan rencana yang matang dan tanpa rasa khawatir. Dan, hindari berfikir menggunakan kalimat "kalau saja".
Keajaiban akan dialami oleh mereka yang mempercayainya 
(Terapi Maaf, Ibnu Ibrahim).
Hasil bedah buku TERAPI MAAF - IBNU IBRAHIM
Selamat memaafkan dan selamat menikmatinya

Tuesday, March 22, 2011

Karena Allah Mencintai Kita


Saudaraku, pernahkah terbesit dalam hatimu, mengapa Allah memberi kita ujian bertubi hingga kita harus sama-sama tersakiti?. Aku, masih terus berusaha memaknai dan mengambil hikmah dari semua kejadian yang kita alami. Dahulu.. kita memulainya dengan baik, dengan ikhlas saling menerima satu sama lain dengan segenap kelebihan dan kekurangan kita. Lalu, ketika detik-detik waktu terus bergulir hingga hari demi hari menjadi minggu, bulan, hingga tahun, kita mengalami berbagai ujian demi ujian karena sebuah "proses" yang teramat panjang. Selama rentang waktu itu pula masuklah mereka, orang-orang ketiga yang kemudian saling berebut pengaruh di hati dan fikiran kita, hingga menghancurkan semua yang kita awali dengan baik-baik,  dengan niat baik, menyempurnakan ibadah kepada Allah. Semua yang pernah kita niatkan dan kita rencanakan hancur berantakan.

Niat baik, tidak selalu dianggap baik, jika dilakukan dengan cara-cara yang tidak baik. Berulang kali kita mengalaminya, dan berulang kali pula kesalahan demi kesalahan kita lakukan karena kita hanyalah manusia yang penuh kekhilafan dan fithrahnya kita pembuat kesalahan. Kemudian sebuah kalimat pun terlontar kembali, "niat saya baik atau niat kami baik". Sekali lagi, niat baik haruslah dilakukan dengan cara-cara yang baik agar dinilai baik dan hasilnya juga baik. Jika niat baik dilakukan dengan cara-cara tidak baik, maka juga akan dinilai tidak baik. Semoga hal ini bisa menjadi ladang koreksi bagi kita dalam meletakan niat pada setiap perbuatan.

Pada suatu titik, tanda tanya yang selalu bersliweran di kepala akhirnya terjawab sudah, mengapa sedemikian rupa Allah menguji kita hingga harus mengalami jatuh bangun berkali-kali membangun ta'aruf dan bahkan sama-sama tersakiti?. Jawabannya hanya 1, karena Allah begitu mencintai kita dan Allah ingin kita menjadi hamba-Nya yang lebih baik lagi, terus menerus menjadi lebih baik. Ketika Allah menghendaki kebaikan pada hamba-Nya, maka Ia akan memberikan ujian.Ujian mengajarkan kita makna kehidupan. Mendewasakan kepribadian dan menguatkan spiritual. Ujian mengajarkan kita tentang kebijaksanaan, membuat kita lebih kuat mental, lebih tangguh, tahan terhadap ancaman dan tantangan kehidupan. Makin banyak masalah, maka semakin kuat. Semakin berat beban diangkat maka memberi peluang bagi kita untuk semakin kokoh. Karena datangnya masalah pertanda Allah mencintai kita.

Subhanallaah..!, saudaraku.. pernahkah kau tersadar?, begitu besar cinta Allah kepada kita, saking besarnya cinta Allah, kita harus  mengalami semua ini. Kemudian, ada banyak cara ketika Allah ingin menyadarkan kita dari kelalaian, lalu menjadikan kita orang baru. Tiba-tiba kita merasa hidup kembali. Seperti saat ini, ketika aku terbangun dari semua mimpi "buruk" ini, aku tersadar bahwa saat ini cukup 1 hal yang bisa ku lakukan, berdo'a dan terus menerus berdo'a, agar Allah mengampuni kesalahan-kesalahan dan dosa kita, serta dosa mereka, orang-orang yang pernah berperan membantu kita, baik membantu dalam kebaikan atau dukungan maupun yang membantu menghancurkan semuanya. Ya.. tugas kita saat ini hanya berdo'a memohon ampun untuk diri  kita sendiri dan orang-orang di sekitar kita. 

Mungkin.. dikarenakan nurani itu sering disebut sebagai "Hati Terdalam" atau "Hati Kecil", maka wajar saja jika "Bisikannya" sulit didengar. Letaknya begitu jauh di dasar jiwa, dalam dan kecil, ia mampu menyimpan semuanya, rapat, utuh, dan tak tersentuh. Saking dalamnya, butuh idzin dan ridho ALLAH untuk bisa mendengarnya. Itu sebabnya dalam beribadah, semakin dalam, semakin kecil, semakin pelan, semakin dekat denganNYA. Semoga semua do'a-do'a yang mendatangkan kebaikkan dikabulkan Allah.. Aamiin..
Hati manusia layaknya sebuah samudera yang dalam. Ia sanggup menampung segala deraan ujian dan cobaan. Ia sanggup menyimpan segala luka goresan dan sakit hati. Terkadang hati itu dingin seperti es, namun terkadang hangat di musimnya. Ia bisa merasakan berbagai rasa, namun ia pun bisa dengan mudah memaafkan. Hati manusia sedalam lautan, seluas samudera, karena ia mampu memaafkan.. (Every Body Ever Hurt). Aku, yang terus berusaha memaafkanmu sejak dulu, sejak pertama kali kesalahan -kesalahan itu terjadi hingga berulang pun, hingga saat ini, aku tetap berusaha memaafkan.

Saat ini, episode hidupku memasuki bab belajar ikhlas. Standar kompetensinya adalah berusaha memaafkan meski didera sakit dan luka bertubi. Kompetensi Dasarnya adalah menikmati indahnya disakiti dan dilukai. Allah tidak menguji melebihi kemampuan hamba-Nya. Tetap berusaha sekuat tenaga untuk tegar. Tetap berusaha untuk menikmati indahnya ujian memaafkan. 

Thursday, March 17, 2011

Ya Robb.. Sembuhkanlah..

Ya Robb..


Mengapa aku jadi sedemikan takutnya kepada makluk yang bernama 

Laki-laki


Tolong hamba Ya Allaah.. 

Sembuhkan trauma ini, Aamiin..

Tuesday, March 15, 2011

Aku dan Trauma (2)


Bumi Mutiara, 05 March 2011
Hari ini, takdir membawaku ke tempat yang jauh. Jauh dari negeri kelahiranku. Anganku membawaku  menyebrang ke Negara tetangga untuk menuntut ilmu. Aku berusaha melupakan dan menghilangkan semua kejadian itu dengan menuntut ilmu di tempat yang jauh. Ku harap, dengan memokuskan otak dan fikiran dengan belajar, perlahan-lahan aku bisa melupakan semuanya, terutama trauma itu. Aamiin..

Aku masih mengenang semuanya. Tahap demi tahap proses dan kejadiannya. Semua masih lekat diingatkanku, beserta semua janji-janji manis yang pernah diucapkannya. Walau bagaimanapun semua sudah terjadi, dan akan ku bawa hingga kelak akhir hidupku, bahkan sampai akhirat nanti. Suatu saat, aku menunggumu di depan sana, saat kita menceritakan semua yang pernah menimpa kita, disana di hadapan Sang Khalik, Pemilik Ruh Kita, kita akan mempertanggungjawabkan semuanya.

Aku tak bisa melupakan hari itu, 04 Desember 2010, hari ketika Papa jatuh sakit dan tiba-tiba muntah di hadapanku setelah sekian kali ia menanyakan surat-surat administrasi pernikahan yang tak kunjung ia kirim. Saat itu, aku bagaikan sebuah mainan yang digantung. Sesuka hati ia permainkan. Sesuka hati ia gantung tanpa kejelasan, apakah akan ia kirim atau tidak semua surat-surat administrasi itu. Hingga membuat Papa sakit. Hal yang paling menyakitkan di dunia ini adalah jika orang tua kita disakiti atau dilukai. Tak ada yang bisa membayar/menggantikannya, meskipun mereka membeli dunia seisinya sekali pun. Orang tua adalah segala-galanya. Aku, tak akan pernah bisa melupakan kejadian itu. Papa, maafkan aku, maafkan kami, maafkan.. 

04 Desember 2010
BLAR!, Papa muntah di hadapanku. Kotoran muntahnya berceceran dimana-mana, di lantai dan di pakaianannya. Aku berteriak histeris karena kaget dan kalut. “Papa.. Papaaa..”, aku menangis histeris karena takut sesuatu terjadi pada Papa. Aku berusaha memapahnya ke kamar. Papa berjalan pelan sembari beristighfar. Matanya memerah karena menahan sakit akibat muntah yang tiba-tiba. Aku memapah tubuhnya membawanya berbaring di kamar dan meletakan badannya lurus di tempat tidur. Papa hanya beristighfar terus beristighfar. Aku melihat jelas ada lelehan bening di matanya. 

“Papa.. papa.. maafkan aku, maafkan kami, gara-gara kami Papa jadi sakit”. 

Papa hanya diam dan minta diambilkan minum. Aku terus menangis, sesenggukan. Tak bisa ku tahan kalut hatiku. Setelah mengambil air minum dan memberinya ke Papa, Papa meminta ditinggal sendirian karena mau beristirahat. Ku lihat tatapan matanya yang kian sayu dan hanya diam membisu. Aku kembali ke ruang tengah, membersihkan bekas muntah Papa dengan lap basah. Aku terus menangis sesenggukan, tetes demi tetes air mataku jatuh ke lantai tepat di tempat muntah Papa jatuh berceceran. Sesekali aku terdiam, sambil terus terisak. Setelah membersihkan semuanya, aku kembali ke kamar. Disana, ku lanjutkan tangis itu, sesenggukan dan menderu, pilu. Sakit sekali rasanya, sakit hatiku. Ya Robbi.. mengapa Engkau memberi ujian seberat ini padaku dan keluargaku, Ya Robbi.. kuatkan kami.. kuatkanlah kami..

07 Desember 2010
Aku sudah tak tahan didzolimi. Papa sudah sakit, aku pun demikian. Saat kembali mengingatkan surat-surat kelengkapan administrasi pernikahan yang harus ia lampirkan, sekonyong-konyongnya dan dengan begitu mudahnya ia mengatakan:

"Cetak aja sendiri foto saya di facebook, kan banyak tuh".

Astaghfirullaahaladzhiim.. aku, tak bisa berhenti beristighfar dalam hati saat terus berinteraksi dengannya. Setelah sebelum-sebelumnya ia berkata dengan perkataan-perkataan yang menyakiti, belum puas ia tambah lagi luka di hati. Akhirnya kesabaran ini menguap sudah, saat itu hanya sakit yang terasa. Sakit yang terus menerus mendera. SMS itu pun terkirim sudah. HANCUR!.

Ruang Muhasabah
Ya Rabb.. mengapa di dunia ini harus ada dia dalam hidupku?,  mengapa harus ada orang sejahat itu?, hamba meyakini semua takdir-Mu baik, semua yang Engkau gariskan itu baik. Namun, terkadang hati ini terlalu dangkal untuk bisa memahami semua ajaran-ajaranMu melalui semua hikmah kejadian yang Engkau titipkan di hidupku. Aku yang lemah.

* * *


Angin sepoi-sepoi bandara membelaiku lembut wajahku. Sesekali ku pejamkan mata menghayati setiap belaian angin dan helaan nafas yang ku hirup bersama berjalannya detik waktu. Ku pejamkan mataku sembari terus mendengarkan lantunan melodi piano Yanni “The End Of August” di telingaku. Ya.. setiap denting melodinya adalah isi hatiku saat ini. Isi hati yang ingin segera pergi jauh, terbang tinggi, dan memulai hidup yang baru di tempat yang jauh. Semoga langkah ini diberkahi, Aamiin. Tatapan penuh kulempar sejauh lapangan sembari melihat pesawat-pesawat yang parkir dan siap meninggalkan landasan. Selamat tinggal, selamat tinggal masa lalu, selamat tinggal luka, selamat tinggal...

09 Desember 2010
Sepulangnya Mama dari sekolah, aku menyambutnya seperti biasa. Saat itu mataku bengkak. Beberapa saat kemudian, Mama masuk ke rumah dan menghampiriku yang hanya duduk terdiam memandang kedatangannya di depan pintu. Kulihat raut wajahnya yang nampak kepayahan. Tak dapat ku tahan isakku saat itu, hingga akhirnya ia tumpah bersama pecah suara tangis yang pilu. Mama menghabur ke tubuhku. Ia memelukku erat dan aku menangis di dadanya sembari memeluk erat tubuh Mama. Kurasakan tetes demi tetes embun menetes di kepalaku. Mama menangis. Tangisku makin menjadi dan pelukku ke tubuh Mama makin erat. 

“Sabar nak.. sabar nak ya..” 

Suara isak Mama terdengar parau di telingaku. Hari itu, detik itu, kami menangis bersama. Dalam peluk erat bersama. Hangat darah yang dipompa dari jantungku terasa mengalir begitu deras. Makin membuat aku mencintai keluargaku, terutama kedua orang tuaku, yang dengan ikhlas memaafkan kami dan sabar menerima semua keputusan itu. Meski sakit bagi kami karena semua persiapan yang hampir matang itu sudah kami lakukan. Ya Allah.. Jadikanlah kami hamba-hambaMu yang ikhlas. 

Saat itu, aku memeluk erat ruhku, jiwaku, tak ada yang kucintai selain ruhku. Aku tak boleh terus terpuruk karena semua itu. Aku mencintai diriku, aku harus bangkit kembali membangun hidupku, karirku, masa depanku. 

Akhir Juni 2008
Matahari bersinar cerah. Dari balik jendela kamar kakakku di Villa Nusa Indah 5, Kluster Kasuari. Aku masih melihat lukisan nyata alam yang tersaji indah di seberang sana. Ya, dari jendela kamar depan rumah kakakku inilah aku sering mengintip tuan gunung berbaris gagah di sebrang kali Villa 5. Terkadang ia tersipu malu bersembunyi di balik awan, terkadang ia dengan PD-nya menampakkan keindahannya, berdiri kokoh disana. Pagi ini, kembali aku merencanakan survey ke beberapa tempat di sekitar Villa Nusa Indah untuk melihat beberapa sekolah. Setelah gagal dalam seleksi Research dan Analis PT Garuda Food Maret lalu, aku sempat merencanakan untuk pulang ke Palembang dan mencari kerja disana. Tetapi kakak yang membeli rumah di Villa Nusa Indah 5 Ciangsana Bogor memintaku untuk menetap di Jakarta sembari mencari kerja dan menjaga rumahnya karena ia dan keluarga kecilnya tinggal di Kalimantan, Kakak pertamaku bertugas di Pertamina Kalimantan. Hingga akhirnya takdir membawaku kesebuah tempat yang penuh pembelajaran, sebuah sekolah Islam yang kemudian menggores takdirku dengan ilmu sepenuh ikhlas dan sakit yang bertubi-tubi.

Tumpukan Tisyu
Waktu berbilang waktu, terus berlalu berganti hari demi hari. Aku, tetap disini bersama semua kenangan dan luka yang akan ku bawa sampai mati. Tak kan pernah bisa lupa semua kejadian-kejadian itu. Dan ku harap, ia pun demikian. Semoga sakit yang ku rasa, juga kau rasakan. Aamiin..

Kutipan Catatan Desember 2010

Monday, March 07, 2011

Ketika Tangan dan Kaki Berkata

By Chrisye

Akan datang hari
Mulut dikunci
...Kata tak ada lagi

Akan tiba masa
Tak ada suara
Dari mulut kita

Berkata tangan kita
Tentang apa yang dilakukannya
Berkata kaki kita
Kemana saja dia melangkahnya
Tidak tahu kita
Bila harinya
Tanggung jawab, tiba...

Rabbana...
Tangan kami
Kaki kami
Mulut kami
Mata hati kami
Luruskanlah
Kukuhkanlah
Di jalan cahaya
Sempurna
Mohon karunia kepada kami hamba-Mu yang hina

4 Someone:
Saat pengadilan akhirat bicara. Semoga kelak kita tidak tertahan di pintu surga karena apa yang pernah menimpa kita, Aamiin..

Thursday, March 03, 2011

Badai Pasti Berlalu


By Chrisye

Awan hitam
di hati yang sedang gelisah
daun-daun berguguran
satu satu jatuh ke pangkuan

kutenggelam sudah
ke dalam dekapan
semusim yang lalu
sebelum ku mencapai
langkahku yang jauh

kini semua bukan milikku
musim itu telah berlalu
matahari segera berganti

gelisah kumenanti tetes embun pagi
tak kuasa ku memandang datangmu matahari

kini semua bukan milikku
musim itu telah berlalu
matahari segera berganti

badai pasti berlalu
badai pasti berlalu
badai pasti berlalu
badai pasti berlalu

Monday, February 28, 2011

Aku dan Trauma

28 Februari 2011

Tepat setahun setelah pertemuan itu. Minggu bertemu Senin, Senin berganti Selasa, Selasa berganti Rabu, dan seterusnya. Kita ibarat menghitung hari demi hari dari sebongkah sejarah masa lalu yang penuh pembelajaran, menuju masa depan akhirat yang pasti. Ibarat tangis meringis dari bibir yang manis menjadi senyum menyungging penuh keikhlasan karena badai ujian akhirnya berlalu pasti. Waktu terus berjalan, kawan. Hidup bagai ujian, dan setiap kita memiliki ujian masing-masing yang tentu telah Allah perhitungkan bahwa kita pasti mampu dan sanggup menghadapi. Ujian tak pernah salah sasaran. Siswanya sudah Allah tentukan untuk menjadikan kita lulus mendapat predikat terbaik atau sebaliknya. Tadribat (latihan) dari Allah tidak pernah salah sasaran. Semua sudah digariskan kepada siapa dan bagaimana ujian itu terjadi. Semua baik bagi kita. Allah yang Maha Mengatur sudah menggariskannya sedemikian rupa agar kita menjadi hamba-Nya yang lebih baik lagi.

Di dunia fana ini, hanya Janji Allah yang pasti. Janji manusia terkadang tak mampu ia tepati karena khilaf dan lupa atau karena ia berada di bawah pengaruh dan tekanan orang lain, yang menjadikannya tak mampu menjadi diri sendiri, kehilangan jati diri dan nuraninya sendiri, karena pada dasarnya manusia itu tempat khilaf dan salah. Itulah manusia, makhluk yang Allah ciptakan dengan kelemahan (dho'if) dan keterbatasan. Apalah artinya kita?. Manusia yang kemana-mana membawa kotoran, bagai debu yang diombang-ambingkan angin takdir. Kita hanya manusia, hamba (budak) Allah yang menjalani saja apa yang digariskanNya dari sebuah kitab yang sudah tertulis, Lauh Mahfuz. Saya menuliskan sebuah kisah nyata yang saya alami sendiri, tragis dan miris, namun menuai hikmah, yang akhirnya membawa saya masuk ke dalam ruang pembelajaran bernama bab memaafkan dan memahami. Kemudian disana saya banyak belajar tentang makna memahami perbedaan karena memang setiap kita lahir dalam keadaan berbeda.

Inilah janji-janji Allah yang terus membuat saya kuat bertahan, meski badai bagai tak henti-hentinya menghadang.

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (QS 2:286)

Kami tidak memikulkan beban kepada sesorang melainkan sekedar kesanggupannya. (QS 6:152)

Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang melainkan sekedar kesanggupannya. (QS 7:42)

Kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya (QS 23:62)

Ada begitu banyak janji yang Allah berikan bagi hamba-hambanya yang sabar dan ikhlas menghadapi ujian. Meski jikalau ujian itu diberikan pada yang lain, belum tentu yang lain mampu menghadapi.

Apakah anda berharap orang lain akan memahami anda?, Mengerti kondisi anda?, sekali lagi tidak. Orang lain hanya bisa berkomentar, berprasangka, berargumen terhadap permasalahan yang anda alami. Mereka tidak akan pernah bisa menyelami isi hati anda karena mereka tidak mengalami dan menjalani apa yang anda alami. Oleh karena itu fahami saja mereka. Dengan begitu engkau menjadi lebih kuat dibanding mereka. Hadapi dan nikmatilah ujian hidup anda. Karena Allah sudah mengukur batas kekuatan anda. (Fithri Ariani, Saat Badai itu Datang Lagi. 09 Februari 2011)

"Manusia yang pada dasarnya baik, bisa berubah menjadi sebaliknya saat ia mendapat tekanan perorangan, kelompok, atau lingkungannya. atau berada di bawah pengaruh orang lain."

Aku dan hidupku
Sekarang, yang tertinggal hanya trauma dan luka. Ibarat badai yang datang tiba-tiba, kemudian hilang juga tiba-tiba, namun meninggalkan bekas yang porak poranda. Saya, bagai baru terbangun dari tidur panjang yang melelahkan. Terjebak dalam mimpi indah membangun masa depan dan janji-janji manis. Terjepit di antara duri kawat yang menyakit, namun tak bisa berlari karena tak mampu memilih (mimpi yang menjadi nyata di bunga tidur, Juni 2010). Ibarat sebuah layang-layang, yang diterbangkan tinggi, kian meninggi. Menjauh, kian menjauh. Diterpa angin berkali-kali, nyaris jatuh berkali-kali. Berusaha bertahan (memaafkan) berkali-kali, kemudian setelah terbang makin meninggi, talinya diputus begitu saja. Sakit. Hanya sakit yang terasa. Trauma, terutama jika mengingat badainya (Desember 2010).

Kontak bathin antara anak dan ayah bisa membuat segalanya berubah. Saat anak sakit, orang tua pun akan sakit saking kuat ikatan bathin mereka. Karena didarahnya mengalir darah ayahnya, karena sang ayah menyayangi anaknya. Saat itu, semua bagai badai yang datang bertubi-tubi. Bermula dari angin yang berhembus pelan, awan putih di pelataran langit biru yang berarak indah berubah menjadi mendung hitam, kemudian menjadi rintik-rintik hujan, ia menyerinai menari mengisi detik demi detik membuat pusaran angin kemudian menjadi badai yang melibas tanpa batas, dan menghancurkan segalanya. Dan saat itu, kita sudah tak bisa lagi berlari atau menghindar dari catatan goresan tulisan langit "takdir" yang Allah tentukan. Aku, dan trauma..

04 Desember 2010
Papa marah di depan saya. Setiap hari, tak henti-henti ia menanyakan itu, saya bingung dan kalut. Sudah berkali-kali mengingatkan, namun tak jua datang. Sudah kehabisan cara dan kehilangan kekuatan. Janji hanya tinggal sampah yang muncrat bagai comberan. Semua bagai larutan asam pekat yang menyakitkan. "Mana surat-surat administrasinya?, Papa mau urus semuanya, biar cepat selesai", dan selanjutnya setiap hari...  "Mana.. mana.. mana.. sini Papa yang menghubungi, mana nomornya, mau dikirim tidak? ". BLAR!, Papa muntah di hadapan saya. Papa sakit sejak 3 Desember - 17 Desember 2010. Tidak mau makan, tidak mau minum obat, hanya diam dan melamun. Saya kalut bukan kepalang. Saya yang mencuci pakaian-pakaian Papa ketika ia sakit. Air bilasannya bercampur dengan tetesan air mata saya. Saat itu, hanya ada saya, Papa, dan Allah. Dan jika teringat itu semua, hanya luka yang tersisa, terus menganga. Luka di atas luka yang belum kunjung sembuh, lalu ditimpa dengan luka-luka baru. Astaghfirullaahaladzhiim..

Saya.. Fithri Ariani, hanya hamba Allah yang dho'if penuh kehilafan. Diuji bertubi-tubi dengan ujian yang sama. Berkali-kali memaafkan dan berkali-kali pula terluka. Saya diciptakan untuk memaafkan. Diciptakan untuk menjadi manusia yang kuat bertahan. Namun, saya.. hanyalah manusia biasa yang penuh keterbatasan. Saya tidak sekuat itu. Saya terluka dan trauma.

Perbincangan Hati
"Maafkan aku Papa. Aku sudah tidak percaya laki-laki. Aku benci laki-laki. Namun aku akan tetap mencintai Papa, Kakak, dan adik laki-lakiku, serta keponakan-keponakan laki-lakiku, serta keluarga laki-lakiku. Maafkan aku Papa, walau pun Papa dan kakak atau adik laki-lakiku adalah lelaki, tapi aku sudah tak percaya laki-laki. Sekarang aku hanya ingin hidup dengan hidupku sendiri. Tidak ingin lagi bersentuhan dengan urusan berbau laki-laki, cinta, atau lawan jenis. Traumaku sudah sangat dalam. Lukaku sudah tak terperi. Meski dalam kehidupan normal aku tidak akan bisa lepas dari berinteraksi dengan laki-laki, tapi tembok yang kubuat kian meninggi. Terus ku bangun meninggi. Biar tak ada lagi yang mendaki. Aku, sakit hati.

Ku tulis semua dengan air mata. "Maafkan aku, jika ku harus menulis lagi tentang luka. Bila suatu saat engkau membacanya, lihatlah aku. Aku yang meninggalkanmu dan kau tinggalkan dengan sisa-sisa luka, yang seumur hidup akan tetap terus kubawa. Maafkan aku. Semoga Allah mengampuni kita, dan semoga apa yang ku alami, tidak akan pernah engkau atau saudara perempuanmu, atau anak perempuanmu kelak alami. Karena kau pasti tak kan kuat menghadapi seperti saat aku diuji."

Kutipan Catatan Desember 2010

Monday, February 14, 2011

Wahai Yang Maha Pemberi Cinta

Wahai Allah Yang Maha Pemberi Cinta..
Lindungilah mereka yang tengah jatuh cinta,
Ridhoilah setiap detik waktu yang mereka lalui,
Berkahilah setiap hela nafas yang mereka hirup,
Ampunilah segala dosa-dosa mereka. Aamiin..

Wahai hamba Allah yang tengah di mabuk cinta,
Palingkan cintamu kepada Allah.
Sungguh.. Allah Pencemburu,
Jika mencintai sesuatu melebihi cinta kepadaNya,
maka bersiaplah, IA mengambil apa yang kita cintai dari sisi kita.

Tetaplah istiqomah,
Letakkan cintamu di tengah-tengah (adil/seimbang).
Semoga engkau bisa.. Aamiin..

Thursday, February 10, 2011

Bahagianya Merayakan Cinta - Kuliah Twitter Ust. Salim A Fillah

Artikel ini saya kutip dari sebuah postingan di Facebook. Sekedar sharing dan berbagi baik untuk rekan-rekan yang belum menikah, mau pun yang telah menikah, terutama untuk saya sendiri. Semoga bermanfaat dan memberi inspirasi bagi kita untuk menjadi lebih baik lagi dalam menata pernikahan, mulai dari niat, persiapan, hari akad, hingga terbentuknya keluarga. Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kuliah Twitter "Persiapan Pernikahan" Bersama ustadz Salim Fillah:

1. Dalam isyarat Nabi tentang Nikah, ialah sunnah teranjur nan memuliakan. Sebuah jalan suci untuk karunia sekaligus ujian cinta-syahwati.

2. Maka Nikah sebagai ibadah, memerlukan kesiapan & persiapan. Ia tuk yang mampu, bukan sekedar mau. “Ba’ah” adalah parameter kesiapannya.

3. Maka berbahagialah mereka yang ketika hasrat Nikah hadir bergolak, sibuk mempersiapkan kemampuan, bukan sekedar memperturutkan kemauan.

4. Persiapan Nikah hendaknya segera membersamai datangnya baligh, sebab makna asal “Ba’ah” dalam hadits itu adalah “Kemampuan seksual.”

5. Imam Asy Syaukani dalam Subulus Salam, Syarh Bulughul Maram menambahkan makna “Ba’ah” yakni: kemampuan memberi mahar & nafkah. Nikah

6. Mengompromikan “Ba’ah” di makna utama (seksual) & makna tambahan (mahar, nafkah), idealnya anak lelaki segera mandiri saat baligh. Nikah

7. Jika kesiapan Nikah diukur dengan “Ba’ah”, maka persiapannya adalah proses perbaikan diri nan tak pernah usai. Ia terus seumur hidup.

8. Izinkan saya membagi Persiapan Nikah dalam 5 ranah: Ruhiyah, ‘Ilmiyah, Jasadiyah (Fisik), Maaliyah (Finansial), Ijtima’iyah (Sosial)

9. Persiapan Nikah perlu start awal. Salim nikah usia 20 th, tapi karena persiapannya dimulai umur 15 th, maka tak bisa disebut tergesa.

10. Sebaliknya, ada orang yang Nikah-nya umur 30 th, tapi persiapan penuh kesadaran baru dimulai umur 29,5 th. Itu namanya tergesa-gesa.

11. Kita mulai dari yang pertama; Persiapan Ruhiyah. Ialah nan paling mendasar. Segala persiapan Nikah lainnya berpijak pada yang satu ini.

12. Persiapan Ruhiyah (Spiritual) ada pada soal menata diri menerima ujian & tanggungjawab hidup nan lebih berlipat, berkelindan. Nikah

13. (QS Ali Imran 14): Sebelum nikah ujian kita linear: pasangan hidup. Begitu Nikah berjejalin: pasangan, anak, harta, gengsi, investasi.

14. Sebelum Nikah, grafik hidup kita analog dengan amplitudo kecil. Setelah menikah, ia digital variatif; kalau bukan NIKMAT, ya MUSIBAH.

15. Maka termakna jua dalam Persiapan Ruhiyah terkait Nikah adalah kemampuan mengelola SABAR dan SYUKUR menghadapi tantangan-tantangan itu.

16. SABAR & SYUKUR itu semisal tentang pasangan; ia keinsyafan bahwa tak ada yang sempurna. Setiap orang memiliki lebih & kurangnya. Nikah

17. Khadijah itu lembut, penyabar, penuh pengertian, & dukung penuh perjuangan. Tapi tak semua lelaki mampu beristeri jauh lebih tua. Nikah

18. ‘Aisyah: cantik, cerdas, lincah, imut. Tapi tak semua lelaki siap dengan kobar cemburunya nan sampai banting piring di depan tamu Nikah

19. Persiapan Ruhiyah Nikah adalah mengubah ekspektasi menjadi obsesi. Dari harapan akan apa nan diperoleh, menuju nan apa akan dibaktikan.

20. Jika Nikah masih terbayang sbb: lapar ada yang masakin, capek ada yang mijitin, baju kotor dicuciin. Itu ekspektasi. Bersiaplah kecewa.

21. Ekspektasi macam itu lebih tepat dipuaskan oleh tukang masak, tukang pijit, & tukang cuci;) Ber-obsesilah dalam Nikah. “Apa obsesimu?”

22. Obsesi sebagai Persiapan Ruhiyah Nikah semisal: Bagaimana kau akan berjuang sebagai suami/isteri ayah/ibu untuk mensurgakan keluargamu?

23. Usai itu, di antara persiapan Ruhiyah Nikah adalah menata ketundukan pada segala ketentuanNya dalam rumahtangga & masalah-masalahnya.

24. Lalu persiapan ‘Ilmiyah-Tsaqafiyah (Pengetahuan) Nikah, meliput banyak hal semisal Fiqh, Komunikasi Pasangan, Parenting, Manajemen, dll

25. Bukan Ustadz-pun, tiap muslim harus sampai pada batas minimal lmu syar’i nan dibutuhkan dalam berhidup, berinteraksi, berkeluarga Nikah

26. Lalu tentang komunikasi pasangan; seringnya masalah rumahtangga bukan krn ada maksud jahat, melainkan maksud baik nan kurang ilmu Nikah

27. Sungguh harus diilmui bahwa lelaki & perempuan diciptakan berbeda dengan segala kekhasannya, untuk saling memahami & bersinergi. Nikah

28. Contoh beda hadapi masalah & tekanan; Wanita: berbagi, didengarkan, dimengerti. Lelaki: menyendiri, kontemplasi, rumuskan solusi Nikah

29. Bayangkan jika perbedaan itu dibawa dalam sikap dengan asumsi: “Aku mencintaimu seperti aku ingin dicintai” Konflik pasti meraja. Nikah

30. ->Suami pulang dgn masalah berat disambut isteri yg memaksa ingin tahu & dengar problemnya, padahal ia ingin sendiri & bersolusi. Nikah

31. . Lihatlah Khadijah saat Muhammad pulang dr Hira’ dengan panik & resah. Dia tak bertanya, dia sediakan ruang sendiri & kontemplasi. Nikah

32. Sebaliknya-> Isteri yg sdg ingin didengar lalu curhat ke suami, suami malah tawarkan solusi. Padahal dia hanya ingin dimengerti. Nikah

33. Isteri: Mas aku capek, rumah berantakan bla-bla-bla. Suami: OK, kita cari pembantu. I: O, jadi aku dianggap pembantu?!. S: Lho?! Nikah

34. BEDA lagi: Suami single tasking, bisa marah kalau isterinya nan multitasking memintanya kerjakan beberapa hal berrangkai-rangkai. Nikah

35. BEDA lagi: Isteri sering berkalimat tak langsung nan tak difahami suami. Ie: Mas, Salma belum dijemput, aku masih harus masak! Nikah

36. -> Jawab suami: Oh, kalau gitu biar nanti Salma pulang sendiri” Dijamin para isteri gondok, sebab maksudnya: Tolong jemput Salma! Nikah

37. BEDA. Bagi suami masalah hrs disederhanakan (Spiral ke dalam). Bagi isteri, tiap detail & keterkaitan sgt penting (Spiral keluar) Nikah

38. Dan banyak lagi BEDA yang jk tak diilmui potensial jd masalah serius. Lengkapnya di Bahagianya Merayakan Cinta #BMC http://bit.ly/gW5rG4

39. Next: Parenting. Waktu kita sempit; belum puas belajar jd suami/isteri, tiba-tiba sdh jd ayah/ibu. Maka segeralah belajar jd Ortu #Nikah

40. Anak adl karunia yg hiasi hidup, amanah (lahir dalam fitrah, kembalikan ke Allah dalam fitrah), pahala, sekaligus fitnah (ujian). #Nikah

41. Maka mengilmui hingga detail-detail kecil soal parenting adalah niscaya. ie Hadits: renggutan kasar pd bayi membekas di jiwa. #Nikah

42. Uji kecil buat calon ibu & ayah: “Apa yang anda lakukan saat anak lari-larian di depan rumah lalu GABRUSS, jatuh berdebam?” #Nikah

43. LAZIM: “Sudah dibilang, jangan lari-lari! Tuh, jatuh kan!” -> Anak belajar utk menganggap dirinya selalu bersalah dalam hidupnya. #Nikah

44. LAZIM: “iih, batunya nakal ya Nak! Sini Ibu balaskan!” -> Anak belajar salahkan keadaan sekitar utk excuse dr kurangnya ikhtiyar. #Nikah

45. LAZIM: “Hm, nggak apa-apa, nggak sakit, cuma kayak gitu!” -> Ketakpekaan. Hati-hati dibalas saat kita sdh tua & sakit-sakitan;P #Nikah

46. Alangkah bahaya tiap huruf dari lisan bg masa depan anak kita. Latihlah dia agar lempang (tanpa dusta & tipu) dlm taqwa (QS 4: 9) #Nikah

47. Kita masuk persiapan Jasadiyah (Fisik) untuk #Nikah. Ini jua perkara penting sebab terkait dengan keamanan, kenyamanan, & ketenagaan.

48. Awal-awal, periksa & konsultasilah ke dokter atas termungkinnya sgl penyakit tubuh, lebih-lebih nan terkait kesehatan reproduksi #Nikah

49. Per #Nikah-an itu utuh di segala sisi diri, maka menjalani terapi & rawatan tertentu untuk membaikkan fisik adalah jua hal yang utama.

50. Fisik kita & pasangan bertanggungjawab lahirkan generasi penerus yang lebih baik. Maka perbaiki daya & staminanya sejak sekarang. #Nikah

51. Perbaiki pola asup, tata gizi seimbang. Allah akan mintai tg jawab jajan sembarangan jika ia jadi sebab jeleknya kualitas penerus #Nikah

52. Bangun kebiasaan olahraga ilmiah; tak asal gerak tapi membugarkan, menyehatkan, melatih ketahanan. Tugas fisik berlipat 3 setelah #Nikah

53. Jadi, target persiapan fisik #Nikah itu 3 tingkatan; PRIMER: sehat & aman penyakit, SEKUNDER: bugar & tangkas, TERSIER: beauty & charm;)

54. Selanjutnya, persiapan Maliyah (finansial), ini yang paling sering menghantui & membuat ragu sepertinya. Padahal ianya sederhana. #Nikah

55. Yang tepat bicara persiapan Maliyah ini sebenarnya Ust. @ahmadgozali, izinkan Salim lancang singgung sedikit dgn ilmu nan dangkal #Nikah

56. Konsep awal; tugas suami adalah menafkahi, BUKAN mencari nafkah. Nah, bekerja itu keutamaan & penegasan kepemimpinan suami. #Nikah

57. Ingat & catat: Persiapan finansial #Nikah sama sekali TIDAK bicara tentang berapa banyak uang, rumah, & kendaraan yang harus anda punya.

58. Persiapan finansial #Nikah bicara tentang kapabilitas hasilkan nafkah, wujudnya upaya untuk itu, & kemampuan kelola sejumlah apapun ia.

59. Maka memulai per #nikah-an, BUKAN soal apa anda sudah punya tabungan, rumah, & kendaraan. Ia soal kompetensi & kehendak baik menafkahi.

60. ‘Ali ibn Abi Thalib memulai #Nikah bukan dari nol, melainkan minus: rumah, perabot, dll dari sumbangan kawan dihitung hutang oleh Nabi.

61. Tetapi ‘Ali menunjukkan diri sebagai calon suami kompeten; dia mandiri, siap bekerja jadi kuli air dengan upah segenggam kurma. #Nikah

62. Maka sesudah kompetensi & kehendak menafkahi yang wujud dalam aksi bekerja -apapun ia-, iman menuntun: #Nikah itu buat kaya (QS 24: 32)

63. Agak malu, Salim juga minus saat nikah; hutang yang terrencanakan terbayar dalam 2 tahun menurut proyeksi hasil kerja saat itu. #Nikah

64. Tetapi Allah Maha Kaya, dan #Nikah menjadi pintu pengetuknya. Hadirnya isteri menjadi penyemangat; hutang itu selesai dalam 2 bulan.

65. Buatlah proyeksi nafkah #Nikah secara ilmiah & executable, JANGAN masukkan pertolongan Allah dlm hitungan, tapi siaplah dgn kejutanNya;)

66. Kemapanan itu tidak abadi. Saya memilih #Nikah di usia 20 saat belum mapan agar tersiapkan isteri untuk hadapi lapang maupun sempitnya;)

67. Bahkan ketidakmapanan yang disikapi positif menurut penelitian Linda J. Waite (Psikolog UCLA), signifikan memperkuat ikatan cinta #Nikah

68. Ketidakmapanan nan dinamis menurut penelitian Karolinska Institute Swedia, menguatkan jantung, meningkatkan angka harapan hidup. #Nikah

69. Karolinska Institute: kemapanan lemahkan daya tahan jantung thd serangan. Di Swedia, biasanya yang kena infark langsung wafat PNS #Nikah

70. Persiapan #Nikah yang sering terabai ialah nan kelima ini: Ijtima’iyah (Sosial). Pernikahan adalah peristiwa yg kompleks secara sosial.

71. Sebuah per #Nikah-an yang utuh punya visi & misi kemasyarakatan untuk menjadi pilar kebajikan di tengah kemajemukan suatu lingkungan.

72. Untuk itu, mereka yang akan me #Nikah hendaknya mengasah keterampilan sosialnya jauh-jauh hari, sekaligus sebagai bagian pendewasaan.

73. Membiasakan mengkomunikasikan prinsip-prinsip nan diyakini terkait per #Nikah-an & kehidupan kepada Ortu bisa jadi bagian dari latihan.

74. Prinsip Quran tentang hubungan dengan Ortu ialah ‘persahabatan’, Wa Shaahibhuma (QS Luqman 15). Gunakan itu untuk dewasakan diri. #Nikah

75. Maka kadang Salim menilai kedewasaan kawan yang ingin me #Nikah dengan keberhasilannya untuk komunikasikan prinsip pada Ortu scr ma’ruf.

76. Persiapan kemasyarakatan: kumpulkan modal sosial sebanyak-banyaknya; bahasa, ilmu sosio-antropologis, kelincahan organisasi, dll. #Nikah

77. Per #Nikah-an kita harus hadir sbg pengokoh kebajikan masyarakat, bukan beban ataupun pelengkap-penderita. Utama lagi, jadi pelopor.

78. Mulailah dgn perkenalan berkesan pada lingkungan. Saat walimah nanti; tetangga rumah tinggal setelah #Nikah adl yg plg berhak diundang.

79. Jika harus pindah tempat tinggal, mulai jg dgn perkenalan. Pr tokoh: datangi silaturrahim. Masyarakat umum: undang tasyakuran. #Nikah

80. Stl itu, target besarnya adl menjadikan pintu rumah kita sbg yang plg pertama diketuk saat masyarakat sekitar memerlukan bantuan. #Nikah

81. Tentu berat menopangnya sendiri. Mk yang harus kita punya bkn hanya ASET, melainkan juga AKSES. Bangun jaringan slg menguatkan. #Nikah

82. Ilmuilah bgmn cr menguruskan jaminan kesehatan miskin, beasiswa tak mampu, biaya RS, mobil jenazah gratis, dll DEMI TETANGGA KITA #Nikah

83. Tampillah sbg yang penting & bermanfaat dlm hajat-hajat kebahagiaan maupun duka tetangga, juga rayaan-rayaan sosial-masyarakat. #Nikah

84. Tampillah sbg yang terbaik sejangkau suai kemampuan; Imam Masjid, muadzin, Guru TPA, Bendahara RT, Ketua RW, Pendoa jenazah, dst #Nikah

85. Tampillah sbg nan paling besar kontribusi dlm kebaikan-kebaikan sosial: Agustusan, Syawalan, Kerja Bakti, Arisan, Pengajian, dst #Nikah

86. Ringkas kata untuk persiapan sosial #Nikah ini adalah bermampu diri utk menjadi pribadi & keluarga yg AMAN, RAMAH, BERMANFAAT #Nikah

87. Tuntaslah KulTwit Persiapan #Nikah yg diambil dr bagian awal buku Bahagianya Merayakan Cinta

Saturday, February 05, 2011

Menggenggam Rembulan

Aku, kembali sendiri menatap langit. Rembulan terang menyajikan eksotika malam yang bulat. Tak pernah ada engkau disana, sedari dulu hingga sekarang. Lembaran-lembaran sudah selesai. Hanya tinggal puing-puing sejarah, suram. kau ukir di takdirku. Janji-janji tinggal buaian kata, yang tak pernah kau tepati.

Aku, menanam sebatang pohon di atas kuburan "CINTA". Kusiram agar tak layu, ku pupuk agar terus tumbuh dan tumbuh, subur menghijau hingga menjadi taman di dalam hati. Cinta, kuhadirkan dalam genggaman. Ku ambil dari dalam jiwa. Ku persembahkan untuk yang layak menerimanya. Dan aku, menyimpan sepotong hati. Ku genggam dan kuberikan padamu, karena engkau layak dicintai.

Maafkan aku wahai lelaki, hati ini tak bisa membuka, sejak kau ketuk pintunya. Tak pernah bisa membagi. Tak kan bisa kau selami. Lukanya terlampau perih, karena satu demi satu kau coba bertubi. Biar waktu kan sembuhkan. Hingga datang jawaban pasti, dari Tuhan.