Pendendam dan pemaaf, dua kata yang sama-sama diawali dengan awalan pe-, tapi memiliki makna yang jauh berbeda. Dua kata ini, diidentikan dengan karakter/sifat manusia. Seorang yang pendendam adalah orang yang sulit memaafkan. Jika ia disakiti atau merasa tersakiti baik sengaja atau pun tidak, ia akan sulit untuk memaafkan dan melupakan kesalahan orang lain terhadapnya, sebaliknya terkadang ia sendiri tidak berusaha untuk mengintrospeksi kesalahan-kesalahannya. Begitu ingin dihargai dan dihormati oleh orang lain. Biasanya, seorang yang memiliki sifat pendendam sering kali pandai bersandiwara dan mendramatisir keadaan. Terkadang laganya mirip-mirip artis sinetron. Seorang yang pendendam biasanya populer dengan ungkapan "Kalau aku sudah sakit hati, aku akan sulit untuk memaafkan". Padahal terkadang dirinya sendirilah yang menjadi penyebab ia disakiti atau tersakiti.
Adalah hal yang sangat manusiawi jika manusia disakiti ia sulit melupakan, karena dampak tersakiti tersebut membutuhkan jeda waktu untuk proses penyembuhannya pasca trauma yang ditimbulkan. Biasanya seorang pendendam tidak ingin bahkan enggan melihat atau kontak mata dan bertemu langsung apa lagi sampai bercengkrama dan berkomunikasi dengan orang yang ia anggap telah menyakitinya. Ia lebih memilih menghindar dari orang tersebut. Hal ini diperparah lagi jika situasi dan kondisi yang sudah runyam dan komunikasi yang buruk diprovokatori oleh pihak ketiga yang sengaja atau pun tidak sengaja ingin nampak baik dihadapannya dan seolah-olah lebih memihaknya.
Namun, untuk ukuran manusia normal seseorang yang pernah disakiti atau tersakiti tidak membutuhkan waktu yang lama untuk memaafkan kesalahan orang lain, apa lagi sampai membutuhkan waktu menahun untuk memaafkan. Jika pada dasarnya orang tersebut memiliki kepribadian atau sifat dasar yang baik, ia akan sangat mudah memaafkan kesalahan-kesalahan orang lain terhadap dirinya dan bisa bersikap biasa saja dengan orang yang dianggap pernah menyakitinya. Kemudian hal ini kita kenal dengan orang yang berkepribadian pemaaf.
Seorang dengan kepribadian pemaaf adalah orang yang ikhlas dalam menjalani segala sesuatunya. Jika mendapatkan ujian atau cobaan, berupa disakiti atau tersakiti orang lain, ia tidak berlama-lama larut dalam bayang-bayang sakit hati apa lagi sampai menanam kebencian terhadap orang lain. Adalah hal yang wajar jika di awal ia merasakan sakit hati bahkan sampai mengeluh. Namun biasanya hal itu tidak berlangsung lama. Berbeda dengan orang yang berkepribadian pendendam.
Beberapa kasus menunjukkan bahwa seorang pendendam memiliki trauma masa kecil yang sudah tertanam dalam alam bawah sadarnya atau sengaja ditanamkan oleh kondisi lingkungan sekitarnya. Misalnya, seseorang yang memiliki orang tua lengkap, tapi tidak merasakan figur salah satu orang tuanya, baik itu ayah atau pun ibunya. Sebagai contoh, seorang anak yang tidak pernah atau jarang bertemu salah satu orang tuanya lantaran pekerjaan yang jauh mau pun perpisahan. Anak tersebut tidak merasakan kehadiran figur salah satu orang tuanya tersebut terutama kasih sayang dan perhatian.
Maka, anak tersebut akan sering mencari-cari perhatian dari lingkungan sekitarnya sebagai akibat kurangnya bahkan tidak adanya perhatian dari salah satu orang tuanya. Hal ini diperparah lagi jika salah satu figur orang tua yang hidup bersamanya atau keluarga terdekatnya menanamkan nilai-nilai yang tidak baik pada anak tersebut, misal menjelek-jelekkan figur salah satu orang tua yang tidak hidup bersamanya. Sebagai contoh, ia mengatakan bahwa sang ayah yang jauh tidak pernah menafkahi keluarga atau sang ibu tidak peduli padanya dan lebih memilih meninggalkannya atau bekerja mementingkan karirnya. Akibatnya, dalam diri anak tersebut tertanam sifat pendendam atau mudah benci terhadap orang yang dianggap telah menyakitinya dan orang yang disayanginya.
Dahulu, dalam perjalanan dakwahnya Rosulullah Muhammad saw menghadapi banyak ujian dan cobaan. Pernah suatu ketika Nabi mendakwahi kaum kafir Quroisy untuk menyembah Allah, ia ditentang bahkan dicaci maki, difitnah, dianiyaya, disakiti lahir bathinnya.Ketika Malaikat Jibril bertanya padanya apakah Nabi akan mendo'akan kaum kafir agar mendapat azab, Nabi Muhammad malah memaafkan dan mendo'akan agar kaum kafir Qurois diampuni dan mendapatkan petunjuk dan hidayah Allah. Inilah suri tauladan yang baik, yang tidak ada cela dalam kepribadiannya, yang kita diperintahkan untuk mempelajari dan mengikuti akhlaknya sebagai bekal kita di akhirat kelak.
Pada akhirnya, semua bermuara pada satu kata, yaitu keikhlasan. Keikhlasan yang hakikatnya kita jalani di dunia ini dalam proses pembelajaran kita sebagai hamba Allah. Semua yang ada di alam semesta adalah media bagi kita untuk belajar, meski caranya harus melewati proses yang amat pahit sekali pun.
Rosulullah bersabda, "Balaslah perbuatan buruk dengan kebaikan, dan balaslah perbuatan baik dengan kebaikan pula", mengingatkan kita akan pentingnya perbuatan baik terutama memaafkan kesalahan orang lain. Maka alangkah baiknya jika kita memulai ibadah di bulan Ramadhan dengan saling memaafkan. Mengosongkan folder di fikiran kita yang berisi daftar kesalahan saudara-saudara kita, terlebih lagi jika mereka adalah keluarga kita sendiri, baik orang tua, saudara kandung, ipar, dan lainnya.
Semoga Ramadhan kali ini kita bisa menggali sebanyak-banyaknya ilmu dan hikmah, serta menabung kebaikan terutama dengan memaafkan agar ibadah Shoum Ramadhan yang kita jalani menjadi lebih baik dan lebih berkah dari sebelumnya sehingga menjadi amal yang akan dihitung sebagai pahala yang memberatkan timbangan kebaikan di akhirat kelak. Aamiin ya Robbal'aalamiin..
Sepertiga malam, 28 Juli 2010. Teruntuk diriku sendiri.
Allahumma baariklana fii Rajab wa Sya'ban wa balighna Ramadhan. Allahummaghfirlanaa ya Allaah.. Aamiin..
Menulis kisah tentang hidup, adalah sebuah kebahagiaan. Berguru pada alam semesta dari apa yang dilihat, didengar, difikir, dan dirasa. Memanusiakan manusia. Meramu kata per kata menjadi rangkaian cerita guna menuai hikmah. Moga kehadiran blog ini memberi kebaikan dan manfaat bagi semua. Aamiin ya robbal’aalamiin.. Take the rest time..
Wednesday, July 28, 2010
Saturday, July 10, 2010
...
...
Tak terasa, umurku sudah 27. Belum banyak hal-hal positif yg kulakukan. Belum produktif dlm hal kebaikan. Blm banyak kebermanfaatan ku berikan. Malah sebaliknya, dosa menumpuk, iman menipis.
Astaghfirullahaladzhiim.. Astaghfirullahaladzhiim..
Astaghfirullahaladzhiim..
Allaahummaghfirlii.. ya Allaah..
Satu do'a: Robbanaa laa tuzighquluubana ba'da idzhaadaitana wa hablana miladunka rohma innaka antal wahhaab.
Ya Allaah.. tetapkanlah hidayah dan imanku kpdMU hingga akhir hayatku. Aamiin
Tak terasa, umurku sudah 27. Belum banyak hal-hal positif yg kulakukan. Belum produktif dlm hal kebaikan. Blm banyak kebermanfaatan ku berikan. Malah sebaliknya, dosa menumpuk, iman menipis.
Astaghfirullahaladzhiim.. Astaghfirullahaladzhiim..
Astaghfirullahaladzhiim..
Allaahummaghfirlii.. ya Allaah..
Satu do'a: Robbanaa laa tuzighquluubana ba'da idzhaadaitana wa hablana miladunka rohma innaka antal wahhaab.
Ya Allaah.. tetapkanlah hidayah dan imanku kpdMU hingga akhir hayatku. Aamiin
Monday, July 05, 2010
Kamuflase Si "Kamuflaser"
Skli lg, ku coba cerna suara itu & klmt demi klmt yg diucapkannya. Ku rasa aku mengenal suaranya. Kmrn sore sehabis adzhan ashar ia mnghubungiku & menyebut sbuah nama yg tak ku knl. Lalu brtanya hal yg ckp sensitif u/ dijwb, Apakah sdh menikah, punya tunangan, / msh sndri. Malas aku mladeninya & ku jwb dgn asal jwb krn ia sndiri tdk mw mnjlskn sp dirinya.
Ku lht jam mnunjukkan pkl 00.57 WIB ktka HPku kmbali brbunyi dgn nmr pemanggil yg sama. Tengah malam begini ktika aku sdg tdr pulas, Ya Allaah..
Ku lht jam mnunjukkan pkl 00.57 WIB ktka HPku kmbali brbunyi dgn nmr pemanggil yg sama. Tengah malam begini ktika aku sdg tdr pulas, Ya Allaah..
Friday, July 02, 2010
Melukis Matahari
Siang ini, ku lukis matahari di tengah danau cinta sembari menyatukan serpihan-serpihan kertas bunga lembayung. Cerah cuaca ditingkahi sepasang kupu-kupu yg terbang menghisap madu bunga-bunga terompet ungu di sepanjang pinggir danau menambah semarak hariku.
Di sini, ku langkahkan kaki sembari menyusun kembali rangkaian-rangkaian cerita setengah jalan yg kita ukir dalam waktu.
Semoga yg ku rasa bukan bingkai separuh jalan krn setengahnya lagi adl milikmu yg ku harap selaras dgn bingkai jiwaku. 2)
Di sini, ku langkahkan kaki sembari menyusun kembali rangkaian-rangkaian cerita setengah jalan yg kita ukir dalam waktu.
Semoga yg ku rasa bukan bingkai separuh jalan krn setengahnya lagi adl milikmu yg ku harap selaras dgn bingkai jiwaku. 2)
Wednesday, June 30, 2010
Untuk Seseorang yang Hendak Menjadikanku Belahan Jiwanya
Selamat malam wahai seseorang yg hendak menjadikanku sbg tulang rusukmu.. ingin ku sampaikan padamu bahwa amanah itu bukanlah amanah ringan yg bs kau permainkan sesuka hatimu. Hati itu rentan, terkadang ia rapuh. Jk luka, ia akan lama sembuh. Maka, jagalah amanah itu agar tetap dalam perlindungan dan keberkahan Allah.
Selamat malam wahai seseorang yg hendak menjadikanku sbg belahan jiwamu, ingin ku sampaikan bahwa terkadang aku tak bs mengerti rasamu, namun terkadang ku bs merasa rindumu.
Bersambung..
Selamat malam wahai seseorang yg hendak menjadikanku sbg belahan jiwamu, ingin ku sampaikan bahwa terkadang aku tak bs mengerti rasamu, namun terkadang ku bs merasa rindumu.
Bersambung..
Monday, February 15, 2010
Tahajud Rindu
Malam-malam berlalu. Detik usia berkurang satu per satu. Hiruk pikuk dan gaduh dunia melalaikan jiwa-jiwa pemburunya. Tak jarang hela nafas terbuang sia. Namun bagi para pencinta, malam adalah waktu terindah yang dinanti, kehadirannya laksana pelepas dahaga akan cinta terdalam pada Sang Kekasih. Disana tak ada takut, tak ada ragu, tak ada sepi, krn hati bersorai menyambut uluran cinta Kekasih Tertinggi. Disana tak ada cerita tentang luka dan patah hati, tak ada kisah tentang sayap-sayap patah apa lagi tepukan Sebelah tangan. Tak ada kisah tentang air mata yang berderai-derai karena duka ujian, karena disana cinta tak pernah mengenal sayap-sayap patah, apa lagi tepukan sebelah tangan. Disana semua cinta terbalaskan, semua do’a terkabulkan. Disana hanya ada kebahagiaan karena jiwa memeluk erat cinta Sang Maha Pemberi Cinta. Jikalau pun ada air mata, hanya karena seruan agung menyambut pahala dan ladang amal sholih. Karena seberat apa pun ujian, pasti mengandung kebaikan. Dan semua kisah mengandung hikmah, Allah telah mengukur dan mengaturnya, kepada siapa IA akan memberikan ujian tersebut.Ketika
hidup hanya disandarkan kepada Allah dan dijadikan sarana ibadah kepadaNYA, semua keluh kesah, duka karena ujian dan musibah menjadi mentah karena segala ketentuan Allah menjadi baik adanya. Menjadi ladang pahala dan amal sholih yang tiada bandingnya. Tahajud-tahajud rindu itu pun bertemu muaranya. Berpeluh kisah laksana cahaya keshalihan yang meramaikan surga. Merekalah para pencari kesejatian dalam penghambaan, merekalah para perindu kenikmatan tiada tara yang dijanjikan. Merekalah jiwa-jiwa yang membahasakan rindu dalam tahajud akan kuasa Tuhan. PadaNYA cinta tercurah, padaNYA rindu bertaut, padaNYA asa senantiasa terjawab. Lewat khusyuknya sujud dan syahadat tahyat yang mesra.Menyatalah cinta pada setiap helaan nafas. Dalam lantunan ayat suci dan dzikr, ketika menanti panggilan mulia melalui adzan di shubuhnya yang syahdu.
Ya Allah.. jadikanlah malam-malam hamba sebagai malam cahaya dan terbenam dalam rindu tahajud kepadaMU.
Bumi Mutiara, 03.00 wiib. 21 Shaffar 1431 H – 05 Februari 2010
Tuesday, January 19, 2010
Hujan di Muharram

Muharram disapa hujan, tetes demi tetesnya jatuh basahi alam. Menyatu dengan tanah, bagai persenyawaan yang membentuk sari pati kehidupan. Mengukir indah laju perjalanan.
Di balik jendela, seorang perempuan muda melempar pandang ke luar, duduk menatap hujan. Meresapi Kemahabesaran Tuhan atas rahmat hujan. Baginya ia bagai kekasih yang lama dirindukan. Hatinya pun brseru, "Baarokallah.. untuk para pencinta dan perindu hujan.. Mengapa tak kau sulam benang-benang asa ketika mentari tersenyum menyambut pagi?, sambutlah kesejukan yang memenuhi ruang hati".
"Ufuk sinarnya kan memberkas cita, dan bermekaranlah bunga-bunga jiwa. Yang mati mulai tumbuh, yang layu mulai tegak, yang kuncup mulai mekar merekah. Jangan ragu mengambil langkah wahai pencinta, karena hujan di Muharram tetaplah indah seindah sabda agung sang Nabi mengkhususkan ibadah shaum didalamnya. Seindah lantunan adzan di waktu shubuh yang menyeru kemenangan ketika para hamba pulas di buai mimpi. Maka, sampaikanlah shalawat kepadanya, layaknya cinta para pencinta dan perindu hujan mencari berkah di Muharram suci".
14 januari 2009. Bumi Mutiara, 04.00 am
Monday, January 18, 2010
Temaram Sinar
Setiap hari, aku masuk melalui pintu itu. Pintu berwarna putih di sebuah rumah tinggal sederhana berpagar hijau. Didepannya tumbuh berjejer tujuh pohon palem yang subur. Nampak asri ditambah beberapa kembang asoka. Bersamaku, tinggal seorang ibu setengah baya, sang pemilik rumah. Seorang janda tegar dengan pengalaman hidup sarat makna yang terlihat dari garis wajahnya.
Di salah satu ruang di sudut rumah itu, cahaya temaram lampu yang sinarnya samar menemani tiap hariku. Bersamanya aku menjalankan aktifitas, membaca buku, internet surfing, beribadah, hingga tidur dan bangunku. Bersamanya, aku mengurai detik-detik waktu. Mencoba hayati setiap masa yang berlalu dari tiap kisah yang ku lihat, ku baca, dan ku rasa. Yang meski samar, tetap ku coba bertahan belajar mengambil hikmahnya.
Suatu hari, kedua orang tuaku datang berkunjung. Mereka masuk ke ruangan bercahaya samar itu. Saat itu, thypesku kambuh untuk yang ketiga kalinya, dikarenakan terlalu lelah bekerja ditambah ada beberapa permasalahan yang cukup kompleks. Kedatangan mereka juga untuk menemani kelahiran putra kedua kakakku yang lahir pada tanggal 19 Oktober 2009. Itu kali pertama mereka datang menjengukku setelah sekian lama aku berusaha mandiri dan hidup dari hasil keringat sendiri. Orang tua yang selalu ku rindu. Mereka nun jauh disana, di kota kelahiranku.
Kali pertama mereka datang, Papa.. tertegun memperhatikan ruangan itu. Ruangan tanpa jendela, yang hanya ditemani oleh lampu yang sinarnya temaram. Hanya ada ventilasi kecil di atas pintu ruangan itu. Papa hanya diam seribu bahasa. Wajahnya berkerut, ia terlihat menahan sesuatu dibenaknya. Entah apa yang ia rasa. Sedih, kecewa, atau bangga melihat anaknya yang terkulai lesu. Ku coba menyelami perasaannya saat itu. Sedangkan Mama, maklum.. ibu-ibu.. banyak petuah-petuah yang keluar dari mulutnya. "Bisa baca buku terus ditemani lampu kecil begini?, apa ga sakit matamu?", bla-bla-bla, etc, en so on... Itulah pertanyaan yang paling nempel ditelingaku hingga saat ini karena terlalu banyak nasehat tentang kesehatan yang keluar dari mulutnya. Sedangkan Papa, tak banyak bicara namun menyiratkan sejuta makna. Papa.. ku tau kau sedih. Tapi jangan pernah khawatir, bukankah kau mendidik anak-anakmu menjadi tangguh? Setangguh burung yang terbang di angkasa. Insya Allah.. anakmu akan baik-baik saja, karena ada DIA yang selalu menjaganya :).
Ada sebuah tempat tidur cukup luas disana. Sebuah bupet, tempatku menyusun buku-buku favoritku. Di seberang tempat tidur itu, ada sebuah lemari tua bercermin bening. Disana aku sering melihat bayanganku, dengan seribu raut yang kadang aneh, lucu, lugu, narsis, hingga miris. Kini, Januari 2010, tiga bulan sudah berlalu sejak kedatangan kedua orang tuaku. Sejak "protes" lampu keluar dari mulut bunda tersayangku. Ku lihat sinar temaram lampu ruanganku. Cahayanya makin redup saja. Entah kapan akan berganti dengan lampu yang baru, yang lebih terang. Menunggu bu kos menggantinya ketika lampu itu putus dengan sendirinya..? atau.. membeli sendiri?. Entahlah, aku enggan memperhatikan lampu yang sering membuatku tersenyum itu. lampu "protes" mamaku. Protes yang menunjukkan rasa kasihnya. Kasih sayangnya yang selalu ku rindu. Mama.. Papa.. jangan pernah khawatir, karena temaram sinar lampu ruanganku tak kan pernah meredupkan sinar di hatiku. Insya Allah.. Amiin..
don't worry about me. B'coz Allah always with me :)
Di salah satu ruang di sudut rumah itu, cahaya temaram lampu yang sinarnya samar menemani tiap hariku. Bersamanya aku menjalankan aktifitas, membaca buku, internet surfing, beribadah, hingga tidur dan bangunku. Bersamanya, aku mengurai detik-detik waktu. Mencoba hayati setiap masa yang berlalu dari tiap kisah yang ku lihat, ku baca, dan ku rasa. Yang meski samar, tetap ku coba bertahan belajar mengambil hikmahnya.
Suatu hari, kedua orang tuaku datang berkunjung. Mereka masuk ke ruangan bercahaya samar itu. Saat itu, thypesku kambuh untuk yang ketiga kalinya, dikarenakan terlalu lelah bekerja ditambah ada beberapa permasalahan yang cukup kompleks. Kedatangan mereka juga untuk menemani kelahiran putra kedua kakakku yang lahir pada tanggal 19 Oktober 2009. Itu kali pertama mereka datang menjengukku setelah sekian lama aku berusaha mandiri dan hidup dari hasil keringat sendiri. Orang tua yang selalu ku rindu. Mereka nun jauh disana, di kota kelahiranku.
Kali pertama mereka datang, Papa.. tertegun memperhatikan ruangan itu. Ruangan tanpa jendela, yang hanya ditemani oleh lampu yang sinarnya temaram. Hanya ada ventilasi kecil di atas pintu ruangan itu. Papa hanya diam seribu bahasa. Wajahnya berkerut, ia terlihat menahan sesuatu dibenaknya. Entah apa yang ia rasa. Sedih, kecewa, atau bangga melihat anaknya yang terkulai lesu. Ku coba menyelami perasaannya saat itu. Sedangkan Mama, maklum.. ibu-ibu.. banyak petuah-petuah yang keluar dari mulutnya. "Bisa baca buku terus ditemani lampu kecil begini?, apa ga sakit matamu?", bla-bla-bla, etc, en so on... Itulah pertanyaan yang paling nempel ditelingaku hingga saat ini karena terlalu banyak nasehat tentang kesehatan yang keluar dari mulutnya. Sedangkan Papa, tak banyak bicara namun menyiratkan sejuta makna. Papa.. ku tau kau sedih. Tapi jangan pernah khawatir, bukankah kau mendidik anak-anakmu menjadi tangguh? Setangguh burung yang terbang di angkasa. Insya Allah.. anakmu akan baik-baik saja, karena ada DIA yang selalu menjaganya :).
Ada sebuah tempat tidur cukup luas disana. Sebuah bupet, tempatku menyusun buku-buku favoritku. Di seberang tempat tidur itu, ada sebuah lemari tua bercermin bening. Disana aku sering melihat bayanganku, dengan seribu raut yang kadang aneh, lucu, lugu, narsis, hingga miris. Kini, Januari 2010, tiga bulan sudah berlalu sejak kedatangan kedua orang tuaku. Sejak "protes" lampu keluar dari mulut bunda tersayangku. Ku lihat sinar temaram lampu ruanganku. Cahayanya makin redup saja. Entah kapan akan berganti dengan lampu yang baru, yang lebih terang. Menunggu bu kos menggantinya ketika lampu itu putus dengan sendirinya..? atau.. membeli sendiri?. Entahlah, aku enggan memperhatikan lampu yang sering membuatku tersenyum itu. lampu "protes" mamaku. Protes yang menunjukkan rasa kasihnya. Kasih sayangnya yang selalu ku rindu. Mama.. Papa.. jangan pernah khawatir, karena temaram sinar lampu ruanganku tak kan pernah meredupkan sinar di hatiku. Insya Allah.. Amiin..
Tuesday, December 22, 2009
Terminal Revisi (Refleksi 1431 H)
Bertanyalah pada diri, tentang makna revisi dalam perjalanan hidup ketika bilangan usia terus bertambah. Sejatinya, setiap hela nafas itu berkurang. Lantas, berfikirlah, dimana iman kita letakkan, apakah ia menghujam ke dasar jiwa & menjadi cahaya didalamnya, menaungi setiap gerak gerik sehingga senantiasa merasakan pengawasan Allah hingga takut berbuat dosa, atau hanya sekedar lantunan kosong tak bermakna dlm setiap sujud yang meninggalkan noda pada prilaku kita.
Renungkanlah.. apakah semua itu ujian bagi org yg beriman, atau malah peringatan bagi orang-orang yang lalai & mudah tergoda dengan bujuk rayu syetan? karena tanpa kita sadari terkadang prilaku kita masih jahiliyah. Perkara inilah yang di benci dalam Islam karena itu Rosulullah brsbda "Seorang muslim tidak terjerumus dua kali di lubang yg sama". Lantas jika kmbali berulang maka itu adalah kegagalan dan musibah, dan musibah adalah peringatan. Kemudian, setelah tersadar dari khilaf berulang, tulislah daftar kesalahan dan keboddohan itu, kemudian revisilah diri agar kesalahan itu tidak berulang di masa datang.
Tanpa disadari kita menciptakan kebiasaan-kebiasaan tertentu dalam hidup kita. Kemudian kebiasaan tsb terpola secara otomatis dalam keseharian kita. Yang terbiasa bangun malam untuk melaksanakan tahajud maka akan memiliki kekuatan hubungan dengan Allah serta memberi dampak positif bagi ruhiyyahnya. Yang terbiasa membaca Al Quran, akan bersahabat dengan isi dan bacaannya. Yang terbiasa berpuasa maka akan terbiasa menjaga dirinya. Termasuk yang terbiasa dengan maksiat atau dosa-dosa pun akan menganggap maksiat atau dosa sebagai perkara yang biasa. Perkara dosa yang dibiasakan akan menyebabkan dosa itu menumpuk kemudian butalah mata hatinya sehingga tak mampu lagi melihat maksiat sebagai dosa.
Akhirnya, revisilah bagian usang dari hidup kita. Berkacalah pada cermin yang bening agar kita bisa melihat bagaimana diri kita sebenarnya. Bermuhasabahlah dan introspeksi diri selama kita msh di beri kesempatan untuk hidup di dunia. Kesalahan dalam menempatkan tujuan dan menjalani hidup menyebabkan hilangnya arah dan melemahnya iman sebagai pertanda hilangnya harapan. Padahal tidak ada harapan yang benar-benar hilang karena dari Allahlah kita memperoleh harapan. Kegagalan dalam proses perbaikan adalah ujian. Ujian adalah bentuk kasih sayang Allah karena dari sana keimanan kita sedang dibentuk. Disinilah terminal kita untuk melakukan revisi.
Mengakui kesalahan, memperbaiki diri dan berjanji, bertekad dengan azzam yang kuat tidak akan mengulangi. Kita hanyalah seonggok jasad hidup yg dipenuhi noda. Bagi yang tak memahami hakikat dirinya sebagai hamba yang hina akan kehilangan arah dan hidup tanpa tujuan yang jelas. Maka mulailah melangkah, rajutlah asa, camkan dalam jiwa bahwa hanya Allah tujuan dan taatilah Allah, rosulullah. Hiduplah dalam naungan iman dan Islam dengan kaffah.
Fithri Ariani
Refleksi Terminal Revisi Jelang 1431 H
Baarokallahulana.. ketika hela nafas masih diberi.
Ya Allah.. perbaikilah hamba. amiin.
17 Desember jam 23:07 ·
-ditulis setelah melaui tahun-tahun berjalan dengan beragam hikmah-
Renungkanlah.. apakah semua itu ujian bagi org yg beriman, atau malah peringatan bagi orang-orang yang lalai & mudah tergoda dengan bujuk rayu syetan? karena tanpa kita sadari terkadang prilaku kita masih jahiliyah. Perkara inilah yang di benci dalam Islam karena itu Rosulullah brsbda "Seorang muslim tidak terjerumus dua kali di lubang yg sama". Lantas jika kmbali berulang maka itu adalah kegagalan dan musibah, dan musibah adalah peringatan. Kemudian, setelah tersadar dari khilaf berulang, tulislah daftar kesalahan dan keboddohan itu, kemudian revisilah diri agar kesalahan itu tidak berulang di masa datang.
Tanpa disadari kita menciptakan kebiasaan-kebiasaan tertentu dalam hidup kita. Kemudian kebiasaan tsb terpola secara otomatis dalam keseharian kita. Yang terbiasa bangun malam untuk melaksanakan tahajud maka akan memiliki kekuatan hubungan dengan Allah serta memberi dampak positif bagi ruhiyyahnya. Yang terbiasa membaca Al Quran, akan bersahabat dengan isi dan bacaannya. Yang terbiasa berpuasa maka akan terbiasa menjaga dirinya. Termasuk yang terbiasa dengan maksiat atau dosa-dosa pun akan menganggap maksiat atau dosa sebagai perkara yang biasa. Perkara dosa yang dibiasakan akan menyebabkan dosa itu menumpuk kemudian butalah mata hatinya sehingga tak mampu lagi melihat maksiat sebagai dosa.
Akhirnya, revisilah bagian usang dari hidup kita. Berkacalah pada cermin yang bening agar kita bisa melihat bagaimana diri kita sebenarnya. Bermuhasabahlah dan introspeksi diri selama kita msh di beri kesempatan untuk hidup di dunia. Kesalahan dalam menempatkan tujuan dan menjalani hidup menyebabkan hilangnya arah dan melemahnya iman sebagai pertanda hilangnya harapan. Padahal tidak ada harapan yang benar-benar hilang karena dari Allahlah kita memperoleh harapan. Kegagalan dalam proses perbaikan adalah ujian. Ujian adalah bentuk kasih sayang Allah karena dari sana keimanan kita sedang dibentuk. Disinilah terminal kita untuk melakukan revisi.
Mengakui kesalahan, memperbaiki diri dan berjanji, bertekad dengan azzam yang kuat tidak akan mengulangi. Kita hanyalah seonggok jasad hidup yg dipenuhi noda. Bagi yang tak memahami hakikat dirinya sebagai hamba yang hina akan kehilangan arah dan hidup tanpa tujuan yang jelas. Maka mulailah melangkah, rajutlah asa, camkan dalam jiwa bahwa hanya Allah tujuan dan taatilah Allah, rosulullah. Hiduplah dalam naungan iman dan Islam dengan kaffah.
Fithri Ariani
Refleksi Terminal Revisi Jelang 1431 H
Baarokallahulana.. ketika hela nafas masih diberi.
Ya Allah.. perbaikilah hamba. amiin.
17 Desember jam 23:07 ·
-ditulis setelah melaui tahun-tahun berjalan dengan beragam hikmah-
Thursday, December 10, 2009
Sajadah

Sesaat.. sajadah itu kembali menjadi saksi seonggok jasad lemah tak berdaya. Merunduk di bawah kuasa Sang Pencipta yang menjadikannya ada. Dengan kepasrahan ia berserah pada Pemilik Jiwa.
Di atas sajadah ia meminta. Robbana.. di pematangMu hamba bersujud, ketika adzan sayup memanggil. Mengadukan segala sesak di dada. Mengadukan segala beban di jiwa. Mengadukan asa yang tak kan sirna dengan segala warna yang Kau ciptakan. Agar ia menjadi indah seindah permata.
Iman layaknya mutiara. Ia membawa kepada jalan cahaya. Jalan orang-orang yang Allah beri petunjuk, agar mereka menjadi penyeru kebenaran di bumi-Nya. Dan merekalah orang-orang yang beruntung. Orang-orang yang beriman berserah diri sepenuhnya kepada Allah. Di kala malam mereka bangun, menghilangkan malas dan nikmatnya tidur. Kepasrahan menghantarkannya kepada kedamaian. Di sana segalanya mereka curahkan.
Sajadah.. menjadi saksi setiap hamba yang berserah diri. Menjadi saksi, ketika lafadz puja dan puji mengalir dari setiap lidah lisanul kahfi. Menjadi saksi setiap bulir air mata hamba-hamba yang bertaubat. Semoga sajadah-sajadah itu, menjadi saksi taubat kita di akhirat kelak. Amiin..
Ya Allah.. perbaikilah sholatku, ibadahku, dan amalku. Semoga bisa kembali khusyuk.. amiin..