Tuesday, January 19, 2010

Hujan di Muharram


Muharram disapa hujan, tetes demi tetesnya jatuh basahi alam. Menyatu dengan tanah, bagai persenyawaan yang membentuk sari pati kehidupan. Mengukir indah laju perjalanan.


Di balik jendela, seorang perempuan muda melempar pandang ke luar, duduk menatap hujan. Meresapi Kemahabesaran Tuhan atas rahmat hujan. Baginya ia bagai kekasih yang lama dirindukan. Hatinya pun brseru, "Baarokallah.. untuk para pencinta dan perindu hujan.. Mengapa tak kau sulam benang-benang asa ketika mentari tersenyum menyambut pagi?, sambutlah kesejukan yang memenuhi ruang hati".


"Ufuk sinarnya kan memberkas cita, dan bermekaranlah bunga-bunga jiwa. Yang mati mulai tumbuh, yang layu mulai tegak, yang kuncup mulai mekar merekah. Jangan ragu mengambil langkah wahai pencinta, karena hujan di Muharram tetaplah indah seindah sabda agung sang Nabi mengkhususkan ibadah shaum didalamnya. Seindah lantunan adzan di waktu shubuh yang menyeru kemenangan ketika para hamba pulas di buai mimpi. Maka, sampaikanlah shalawat kepadanya, layaknya cinta para pencinta dan perindu hujan mencari berkah di Muharram suci".


14 januari 2009. Bumi Mutiara, 04.00 am

2 comments:

Munawir said...

hahahaha... ga ada yang komen di sini yak.. padahal di facebook lumayan rame... :)

Anonymous said...

assalamualaikum. wr wb.
salam ukhuwah... ukhti anggota DPR yah...smoga amanah. aku rindu dengan zaman itu. zaman dimana diri ini senantiasa diingatkan dan saling mengingatkan dalam tarbiyah,zaman ketika ada idealisme tentang kebenaran, zaman ketika dapat mabit dan tahajjud bersama. kini beberapa ustadz ustadzah telah memasuki ranah politik. sungguh kalian adalah panutan kami. siapa lagi orang2 yg dapatkami amanahi untuk merubah ini jikalau para ustadz gk mampu memikul ini. memikul sebuah idealisme dan kejujuran diatas segalanya. insyaAllah doaku meyertai kalian....