Monday, January 18, 2010

Temaram Sinar

Setiap hari, aku masuk melalui pintu itu. Pintu berwarna putih di sebuah rumah tinggal sederhana berpagar hijau. Didepannya tumbuh berjejer tujuh pohon palem yang subur. Nampak asri ditambah beberapa kembang asoka. Bersamaku, tinggal seorang ibu setengah baya, sang pemilik rumah. Seorang janda tegar dengan pengalaman hidup sarat makna yang terlihat dari garis wajahnya.

Di salah satu ruang di sudut rumah itu, cahaya temaram lampu yang sinarnya samar menemani tiap hariku. Bersamanya aku menjalankan aktifitas, membaca buku, internet surfing, beribadah, hingga tidur dan bangunku. Bersamanya, aku mengurai detik-detik waktu. Mencoba hayati setiap masa yang berlalu dari tiap kisah yang ku lihat, ku baca, dan ku rasa. Yang meski samar, tetap ku coba bertahan belajar mengambil hikmahnya.

Suatu hari, kedua orang tuaku datang berkunjung. Mereka masuk ke ruangan bercahaya samar itu. Saat itu, thypesku kambuh untuk yang ketiga kalinya, dikarenakan terlalu lelah bekerja ditambah ada beberapa permasalahan yang cukup kompleks. Kedatangan mereka juga untuk menemani kelahiran putra kedua kakakku yang lahir pada tanggal 19 Oktober 2009. Itu kali pertama mereka datang menjengukku setelah sekian lama aku berusaha mandiri dan hidup dari hasil keringat sendiri. Orang tua yang selalu ku rindu. Mereka nun jauh disana, di kota kelahiranku.

Kali pertama mereka datang, Papa.. tertegun memperhatikan ruangan itu. Ruangan tanpa jendela, yang hanya ditemani oleh lampu yang sinarnya temaram. Hanya ada ventilasi kecil di atas pintu ruangan itu. Papa hanya diam seribu bahasa. Wajahnya berkerut, ia terlihat menahan sesuatu dibenaknya. Entah apa yang ia rasa. Sedih, kecewa, atau bangga melihat anaknya yang terkulai lesu. Ku coba menyelami perasaannya saat itu. Sedangkan Mama, maklum.. ibu-ibu.. banyak petuah-petuah yang keluar dari mulutnya. "Bisa baca buku terus ditemani lampu kecil begini?, apa ga sakit matamu?", bla-bla-bla, etc, en so on... Itulah pertanyaan yang paling nempel ditelingaku hingga saat ini karena terlalu banyak nasehat tentang kesehatan yang keluar dari mulutnya. Sedangkan Papa, tak banyak bicara namun menyiratkan sejuta makna. Papa.. ku tau kau sedih. Tapi jangan pernah khawatir, bukankah kau mendidik anak-anakmu menjadi tangguh? Setangguh burung yang terbang di angkasa. Insya Allah.. anakmu akan baik-baik saja, karena ada DIA yang selalu menjaganya :).

Ada sebuah tempat tidur cukup luas disana. Sebuah bupet, tempatku menyusun buku-buku favoritku. Di seberang tempat tidur itu, ada sebuah lemari tua bercermin bening. Disana aku sering melihat bayanganku, dengan seribu raut yang kadang aneh, lucu, lugu, narsis, hingga miris. Kini, Januari 2010, tiga bulan sudah berlalu sejak kedatangan kedua orang tuaku. Sejak "protes" lampu keluar dari mulut bunda tersayangku. Ku lihat sinar temaram lampu ruanganku. Cahayanya makin redup saja. Entah kapan akan berganti dengan lampu yang baru, yang lebih terang. Menunggu bu kos menggantinya ketika lampu itu putus dengan sendirinya..? atau.. membeli sendiri?. Entahlah, aku enggan memperhatikan lampu yang sering membuatku tersenyum itu. lampu "protes" mamaku. Protes yang menunjukkan rasa kasihnya. Kasih sayangnya yang selalu ku rindu. Mama.. Papa.. jangan pernah khawatir, karena temaram sinar lampu ruanganku tak kan pernah meredupkan sinar di hatiku. Insya Allah.. Amiin..

don't worry about me. B'coz Allah always with me :)

No comments: