Monday, April 18, 2011

Rindu


Ada sebait kata tentang rindu terukir disana. Diantara bangunan-bangunan kokoh yang mengapit dua bukit, diantara lintangan rumput ilalang yang tumbuh subur menghijau, dan diantara anak-anak berseragam yang berlari-larian dengan riang. Berawal dari sebuah keceriaan tentang cinta, hidup terasa bahagia karena jiwa telah menemukan belahan jiwanya. Tuhan menyematkan "rindu" ke dalam palung hati. Tentang sebuah nama yang telah terpatri. Di tiap hela nafas, namanya turut hadir. Di tiap pandangan mata, wajahnya pun turut hadir, di tiap bangun dan tidurnya, ingatan tentang sang kekasih jiwa tak pernah lekang. Rindu, selalu berisi tentang bahasa cinta yang tiada habisnya. Bagai meneguk anggur kesucian, terus-menerus mabuk karenanya. Namun ketika semua hilang, cinta hanya tinggal kisah berselimutkan duka. Cinta, adalah bahasa kebahagiaan, sekaligus bahasa kedukaan.

Jika kau mencintai seseorang, maka ungkapkanlah.. Jika kau merindukan seseorang, maka katakanlah.. Sebelum terlambat dan ia semakin hilang, karena waktu tak akan pernah kembali, ia kan terus bergulir menjemputnya dan membawanya kian menjauh pergi. Jangan kau dekap erat sang duka. Usah kau simpan lara sendiri. Maka, jemputlah sang cinta..

Hanya sebaris rindu buat sesiapa yang punya cinta di Qolbu…
…dan didalam kekangan waktu mencari redhaNya aku seperti kehilangan, mencari cinta manusia selepas mencintainya!. Ketika cinta laluku kembali menghadirkan wajahnya,  kulihat alam ikut bersedih melihatku. Sememangnya dia telah berpunya. Dipunyai sang dunia yang datang tiba tiba… dan aku kembali menjadi  pencinta gila yang berharap menemukan anggur kasihnya menyemburat disekeliling nafas hidupku!

Seharusnya aku perlu menghidupkan sebuah kehidupan yang mulia sebagai jalan mencarinya diakhirat sana. Ketika waktu menghadirkan kesejatian, lalu mengajak ku bertanya kenapa aku harus terus menarikan huruf cinta melingkar lingkar merangkaikata mengenangkannya?. Sedangkan Tuhan telah menurunkan sekeranjang buah keharuman jiwa dihadapanku untuk aku menebarkan wangian  keabadian itu untuk manusia menyedutnya.  Ketika waktu kembali bertanyakan pada ku. Menanya kesungguhanku. Akankah aku tempuh jalan kesucian ini dan akankah ku larikan jiwaku ini dipadang alam menumpah sujud sujud ku dan merengkuh malam malam dakwahku sampai jiwaku terengkuh dalam dakapanNya?

Memang aku mengharapkan Dia menebarkan hawaNya disekeliling nafas hidupku untuk menyedarkan aku bahawa jalan kesucain yang kutempuh ini akan memberi ilham jari jemariku menari kan tulisan menanamkan benih kesejatian dan kuharap dari karya yang sederhana ini bisa menghilangkan kegelisahan jiwa jiwa manusia!

Dalam menengok dunia yang serba sepi ini, dapat aku fahami bahawa cinta yang agung itu sebenarnya ialah sentiasa memuliakan jiwa dalam ketulusan dan semangat yang mengelora untuk senantiasa menghadirkan diri dihadapan Sang hidup yang terus hidup… dan dalam sebaris rindu ini aku mengharapkan dalam detik hati nya sudi untuk bertemu ku disana … mungkin!
muharrikdaie ~ dalam dakapan senja
(http://muharrikdaie.wordpress.com/2011/02/15/hanya-sebaris-rindu/)

Kehidupan manusia, tidak terlepas dari dunia romantisme. Sebuah anugerah dari Sang Maha Pemberi Cinta. Sebuah dunia yang berisi tentang bahasa perasaan. Sebuah gejolak rasa yang tumbuh dari dalam hati karena hadirnya sebentuk wujud keindahan. Sebuah fithrah yang hadir karena sebentuk kejujuran, sebuah fithrah yang lahir karena hati yang mendamba belahan jiwa. Adalah manusiawi jika manusia mencintai, adalah manusiawi jika manusia mengagumi. Adalah manusiawi jika manusia menyimpan asa, cita, dan harap kepada yang dicintai. Bila getar-getar itu datang, maka siapa yang bisa menghindari? Siapa yang mampu menolaknya?. Cinta, bisa membersihkan akal dan nurani, menjadi cerdas dan baik karenanya. Namun cinta pun bisa membutakan hati. Merusak tatanan cinta kepada Ilahy yang dengan susah payah dibangunnya. Ibarat menghancurkan sebuah bangunan yang telah berdiri kokoh. Tinggal kita yang memilihnya. Akan kemana arah cinta yang telah di anugerahkan Sang Kholik kita bawa?. 


Wallahu a'lam bishshowwab

No comments: