Saturday, July 05, 2008

Kenangan Terindah 2

(Refleksi Jelang 25 Tahun Perjalanan)

13 Juni 2008

Hari ini Ciangsana tak nampak mendung, namun menjelang shubuh, angin berhembus kencang dan hujan pun turun cukup deras. Setelah sekian lama ku nanti hujan sejak kepindahanku kesini, akhirnya hujan juga. Ku ingat malam kemarin sebelum tidur aku sempat berdo’a meminta hujan pada Allah. Subhanallah.. keesokkan harinya Allah langsung mengabulkannya. Maha Suci Allah, yang mengabulkan setiap do’a. Ya, kebiasaan sebelum tidur adalah berdo’a sembari mengingat-ingat saudara-saudaraku yang pernah menghiasi hidupku, baik dan buruk, sembari memohon ampunanNya atas segala khilaf selama hidupku dan khilaf mereka terhadapku. Agar tidurku jadi lebih tenang, sebab jika aku tidak kembali terjaga keesokkan harinya, kaki ini akan lebih ringan menghadapNya. Masih dalam bed restku, dengan tubuh lemah terbaring di tempat tidur, masih kurasakan getar-getar rindu, rindu kenangan indah hidupku...

Menjelang Kepindahan Kembali ke Palembang
Selama kurang lebih 5 tahun kami tinggal di Kecamatan Tanjung Pandan, Ibu kota Kabupaten Belitung. Kami tinggal di komplek Pemda. Di komplek ini banyak sekali batu-batu gunung. Tersusun rapi di sekitar halaman rumah-rumah. Jalan-jalannya curam dan banyak tanjakkan/tebing yang panjang. Lokasinya masih banyak hutan. Tepat di belakang rumah kami ada sebuah bukit yang masih hijau. Ada jalan setapak di hutan belakang rumah. Jalan ini tembus menuju bukit. Di hutan belakang rumah inilah aku, kakak adikku dan teman-temanku sering bermain-main karena ada sumber mata air dan beberapa kali-kali kecil disana. Kami memancing, berenang dan memanjat pohon, dari pohon-pohon itu teman-temanku sering melompat ke air. Selama tinggal disini aku sekolah naik sepeda. Orang Belitung menyebut sepedaku sepeda keranjang karena didepannya ada keranjang. Sekolahku jauh sekali dari rumah. SD N 16 jaraknya kurang lebih 4 Km. Lumayan jauh untuk anak SD naik sepeda. Hehehe... Setelah masuk SMP 1 Tanjung Pandan, malah tambah jauh lagi. Dari rumah, sekitar 6 km dan masih dengan sepeda dengan jalanan yang curam menanjak.

Tahun 1995 Papa bertugas di Kecamatan Manggar (sejak otonomi daerah tahun 2001, Bangka – Belitung memisahkan diri dari Provinsi Sumatera Selatan dan Kecamatan Manggar menjadi Kabupaten Belitung Timur). Setahun kemudian Kak Jemy kembali ke Palembang dan kuliah di Pertambangan UNSRI. Sedangkan Yu’ Ren yang saat itu lulus SMP meraih NEM Matematika tertinggi se-Tanjung Pandan melanjutkan sekolah di SMU N 12 Jakarta Timur. Sedangkan aku dan dua adikku, Feby dan Icha, ikut Papa dan Mama pindah tugas ke Kecamatan Manggar. Saat itu aku kelas 2 SMP, Feby kelas 6 SD dan Icha kelas 3 SD.

Di Manggar aku punya seekor kucing, namanya Pinpon. Pinpon kucing yang cerdas, berani dan penurut. Ia akur berteman dengan peliharaan kami yang lain. Pernah suatu hari kami melihat Pinpon membantu angsa mengumpulkan rumput-rumput kering ketika angsa di rumah mau bertelur. Subhanallah... Pinpon juga telaten menjaga rumah sampai anjing tetangga takut padanya. Ia paling tak bisa melihat kecoa, tikus dan hewan-hewan tanah lainnya. Karenanya rumah bebas dari tikus dan kecoa. Pinpon kucing yang unik, ketika aku sedih, Pinpon mendekat dan berputar-putar di kakiku. Seolah mengerti dan ingin menghiburku. ”Ya Allah.. salam rindu untuk Pinpon, pertemukanlah kami kelak di SurgaMu. Amiin..”

Di rumah juga pernah dimasuki tokek yang beberapa hari tinggal di atap rumah. Sehingga saat ia bersuara, rumah menjadi ramai. Kita serumah tertawa dan meniru-niru suara tokek. ”Tokek.. tokek... sini turun, main yuk, ada Mama, ada Papa, ada Yu’ Fit, ada Feby, ada Icha, ada pinpon, ada angsa, ada bangau, ada ayam”. Hehehe... Setelah Masuk ke jenjang SMU, 1,5 tahun masih bersekolah di Belitung, namun pertengahan kelas 2 SMU, orang tuaku memutuskan mutasi ke Palembang. Kami sekeluarga pun pindah. Dengan berat hati ku terima keputusan orangtua setelah 10 tahun lebih ku habiskan masa kanak-kanak hingga remaja di pulau damai nan indah ini, mengingat kondisi Belitung saat itu (setelah pecahnya reformasi dan demo di sana-sini, Mei 1998).

Belitung, Ya.. ku simpan kenangan dalam ingatan, ketika menjelang senja aku dan teman-teman sering berjalan-jalan ke pantai sembari bermain sepeda atau dengan kuda besiku, kami menyisiri bibir pantai, terkadang sambil berlarian mengejar bola-bola rumput jarum yang tersapu ditiup angin, atau sembari mengumpulkan kerang. Tak lupa kami pun membawa bekal. Atau ketika setiap hari ahad, Papa dan Mama mengajak serta aku dan kedua adikku menikmati akhir minggu ke Pantai, kami memancing, memanggang ikan, minum es kelapa muda dan membeli hasil laut dari nelayan yang baru merapatkan kapalnya. Ada kepiting, lopster, cumi, kerang, ikan pari dan berbagai jenis ikan laut. Jika teringat masa-masa itu, rasanya rindu sekali. Ingin ku ulang lagi masa kanak-kanak dan remajaku yang indah, bersahabat dan menyatu dengan alam Belitung yang permai. Melly, Yanti, Aci, Fia, mereka ke-empat teman remajaku. Ya Allah, sampaikan salam rinduku pada mereka, semoga Engkau Lindungi dan Memberkahi setiap langkah kami serta pertemukanlah kembali kami di surga-Mu. Amiin..

No comments: