Thursday, March 15, 2007

Ketika Roda Harus Tetap Berputar

Sejatinya...
Manusia hanya hamba.
Seorang hamba,
hanya mengikuti apa yang diperintahkan Penciptanya.
------

Sejatinya... Hidup itu sebuah perjalanan. Proses untuk semakin mengenal Sang Khalik, proses untuk mengenal hakikat hidup, proses untuk menjadi manusia yang sempurna dengan segenap ketidaksempurnaan, karena tidak ada yang sempurna selain Allah...

Sejatinya... hidup itu adalah sebuah tadribat. Sebuah latihan yang terdiri dari episode per episode. Setiap episode terdiri dari setiap kisah, dan setiap kisah memiliki banyak sekali hikmah.

Sejatinya... hidup layaknya sebuah oase. Oase yang terkadang nampak jelas, namun tak jarang menampakan kepalsuan. Kepalsuan sendiri nampak karena kita sendirilah yang sering berandai andai, karena pada dasarnya kita tidak tahu. Lantas, siapa yang lebih tahu tentang hakikat oase kehidupan...?
Selain dari pada DIA...

Jalannya roda kehidupan tak selalu bertemu tebing yang terjal, tak selalu bertemu jurang yang curam, tak selalu tertutup kabut yang tebal, dan ketika roda tak mampu menahan batu penghalang, maka selanjutnya retak dan patah bahkan bisa terlepas begitu saja dari penopangnya. Ketika kita tak bisa menahan setiap getir ujian kehidupan, maka apa yang hendak dilakukan?

Sebagian ada yang berlari, sebagian ada yang tegar menghadapi meski getir merajai seluruh isi hati. Manusia makhluk tak sempurna, namun berusaha menyempurnakan dirinya. Terkadang nampak kokoh padahal jauh di dalamnya kerapuhan diam bersemayam. Lantas sesungguhnya apa yang hendak disempurnakan jika bukan iman?

Setiap detik waktu berjalan ada khudu' dan khouf yang bersemayam. Khudu' dan khoufnya mengalir sesuai aliran darah karena merasa ada yang mengawasi. Lantas siapa yang mengawasi selain dari DIA...
Khudu' dan khouf berirama dengan raja' dan harap maka ia akan menjadi sebuah keindahan. Jika keindahan tersebut dibalut dengan tawadhu' dan takwa, maka ia menjadi kebahagiaan hakiki. Kebahagiaan hakiki yang dinanti nanti sejatinya adalah jika nanti kita bisa menatap wajah 'Sang Ilahy'. Karena itulah kebahagiaan hakiki, di saat kita bisa merajai seluruh keinginan dan segala bentuk nafs yang berada dalam jiwa kita. Sehingga saat tiba waktunya kita bisa menatap wajah agung Sang Pencipta. Lantas, manusia mana yang tidak menginginkannya.

Ratusan bahkan ribuan goresan tak pernah menjadi batu sandungan ketika manusia masih punya iman. Jutaan bahkan milyaran caci maki tak akan jadi penghalang ketika manusia meyakini bahwa ia ada yang mengawasi, ia ada yang melindungi, ia ada yang menguatkan dan mengokohkan.

Lalu... janganlah pernah bersedih hati, dan jangan sia siakan setiap bulir air matamu hanya untuk sesuatu yang fana. Bangkit, lalu berjalanlah perlahan, kemudian berlarilah menuju Allah... biarkan roda kehidupan terus berputar sesuai arah tujuan dan tetapkan satu tujuan dalam azzammu yang kokoh. Terus dan terus... hingga kau temukan ketenangan di sana, jauh di dasar hatimu... bersama Robb-mu, Robb kita bersama...

Waallahu a'lam bish showab

Secercah perenungan dalam setiap lembar sujud
Ya Allah... tetapkan hati kami untuk tetap setia memeluk cinta-Mu
Teruntuk saudaraku yang sedang lara, semoga Allah mengistiqomahkan
Amiin...

1 comment:

Abu Amin Cepu said...

Semoga Bermanfaat buat semua dan senatiasa bersumber pada Kebenaran.Barokallohufiikum