Thursday, June 22, 2006

Rosulullah dan Sakratul Maut

(Detik-Detik Menjelang Wafatnya Rosulullah saw)

Sakratul maut merupakan hukum Allah yang berlaku bagi semua hamba-Nya.
"Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula)." (Az – Zumar: 30)

Ketika fajar pada hari senin tanggal 12 Rabi’ul Awwal tahun ke-11 Hijriyah telah masuk, dan orang-orang pun telah sholat di belakang Abu Bakar, tiba-tiba kain penutup yang melintang di kamar ‘Aisyah terbuka dan Rosulullah saw pun muncul dari baliknya lalu sambil tersenyum memandang mereka yang sedang berbaris sholat. Kemudian abu Bakar pun mundur hendak memberi tempat kepada beliau, karena mengira beliau akan melaksanakan sholat. Demikian pula kaum muslimin. Mereka nyaris menangguhkan sholat dan hendak keluar dari shaft karena bergembira menyaksikan Rosulullah saw. Namun beliau segera memberi isyarat dengan tangannya agar mereka tetap melanjutkan sholat. Kemudian beliau masuk kamar lagi seraya melabuhkan kain penutup itu.

Karena mengira Rosulullah telah sembuh, maka setelah menunaikan sholat, orang-orang pun bergegas meninggalkan masjid. Namun itu adalah pandangan perpisahan beliau kepada para sahabatnya. Rosulullah saw ke kamar ‘Aisyah lalu berbaring seraya menyandarkan kepalanya di dada ‘Aisyah. ‘Aisyah berkata : Ketika aku sedang memangku Rosulullah saw, tiba-tiba Abdurrahman masuk seraya membawa siwak. Aku lihat Rosulullah terus-menerus memandangnya sehingga aku tahu beliau menginginkan siwak. Aku Tanya "ku ambilkan untukmu?" Setelah memberi isyarat "Ya" lalu ku berikan siwak itu kepada beliau. Karena siwak itu terlalu keras, maka ku tawarkan untuk melunakkannya dan beliau memberi isyarat setuju. Kemudian beliau memasukkan kedua tangannya ke dalam bejana berisi air lalu mengusapkan wajahnya. Menghadapi sakratul maut ‘Aisyah berkata : Saat itu di hadapan beliau terdapat bejana berisi air, kemudian beliau mengusapkan ke wajahnya seraya berkata "Laa Ilaaha Illallah, sesungguhnya kematian itu punya sekarat". Fathimah ra berucap "Alangkah berat penderitaan ayah!" namun beliau menjawab "Sesudah hari ini, ayahmu tidak akan menderita lagi". Kemudian beliau mengangkat tangannya seraya berucap "Fir Rafiqil A’laa" sampai beliau wafat dan tangannya lunglai.
Maka tersiarlah berita kematian Rosulullah saw ditengah masyarakat. Abu Bakar datang dengan menunggang kudanya dari kediamannya di Sunuh (ia kembali ke rumahnya karena mengira bahwa Rosulullah telah sembuh) hingga tiba di masjid. Abu Bakar tidak berbicara pada siapapun hingga ia masuk ke rumah ‘Aisyah dan langsung melihat Rosulullah yang sedang ditutup dengan kain buatan Yaman. Setelah menyingkap wajah beliau lalu Abu Bakar mendekap dan mencium beliau sambil menangis berkata : "Ayah dan ibuku jadi tebusanmu, Allah tidak akan mengumpulkan kepadamu dua kematian. Adapun kematian yang telah ditetapkan atasmu maka hal itu telah engkau jalani". Kemudian Abu Bakar keluar, sementara Umar ra sedang berbicara dengan orang-orang bahwa Rosulullah saw tidak mati tetapi sedang pergi menemui Robbnya sebagaimana Musa bin Imran dan beliau tidak akan mati sebelum orang-orang munafiqin punah. Kemudian Abu Bakar mendatanginya seraya berkata : "Tunggu sebentar wahai Umar, diamlah!" namun Umar tidak menggubrisnya dan terus berbicara dengan emosional. Melihat Umar tidak mau berhenti, maka Abu Bakar pergi menemui orang-orang dan mereka pun menemui Abu Bakar seraya meninggalkan Umar. Abu Bakar lalu berkata: "Amma Ba’du, wahai manusia! Barang siapa diantara kalian menyembah Muhammdad, maka ketahuilah bahwa Muhammad telah meninggal dan barang siapa yang menyembah Allah sesungguhnya Allah Maha hidup dan tidak mati. Allah berfirman :

"Muhammad itu adalah tidak lain seorang Rosul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa Rosul. Apakah jika ia wafa atau /dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak akan mendatangkan mudhorat kepada Allah sedikitpun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur". (Ali Imron: 144)

Sebelum Abu bakar membacakan ayat ini, seolah-olah mereka tidak tau kalau Allah telah menurunkan ayat tersebut, sehingga semua yang mendengarkan ucapan Abu Bakar dengan serentak ikut membacanya. Umar ra berkata: "Demi Allah, setelah aku mendengar Abu Bakar membaca ayat tersebut aku merasa tidak berdaya, kedua kakiku lemas sehingga aku terduduk ke tanah karena aku mendengar dia membacakan bahwa nabi saw telah meninggal dunia". Para perawi dan ahli ilmu sepakat bahwa nabi saw wafat pada usia 63 tahun di awal tahun ke 11 Hijiyah. 40 tahun beliau jalani sebelum di angkat menjadi Rosul, 13 tahun dakwah di Mekah, dan 10 tahun di Madinah setelah hijrah. Bukhori meriwayatkan bahwa Rosulullah tidak meninggalkan satu pun dinar atau dirham atau budak lelaki/budak perempuan, selain daripada baghalnya yang putih yang biasa ditungganginya dan senjata serta tanah yang sudah di ikrarkan sebagai shodaqoh untuk ibnu sabil.

BEBERAPA IBRAH:
  1. Peristiwa wafatnya Rosulullah mengungkapkan hakikat terbesar dalam kehidupan ini. Hakikat yang menjadi pangkal bagi tiran yang mempertuhankan dirinya. Hakikat yang mengantarkan diri pada kefanaan. Suatu hakikat yang memberi kesadaran (baik suka atau terpaksa) kepada orang-orang yang membangkang atau pun orang-orang yang taat, para penguasa, orang-orang yang mempertuhankan dirinya, para Rosul, nabi, orang-orang pilihan, orang-orang kaya, dan orang-orang kafir. Ia adalah hakikat yang menegaskan sepanjang zaman dan setiap tempat, di setiap telinga orang yang mendengar dan setiap kepala yang berfikir, bahwa tidak ada Uluhiah kecuali bagi Yang Maha Kekal Abadi, tidak ada satupun yang dapat menolak keputusanNya, tiada batas bagi kekuasaanNya, tiada tempat lari dari hukumNya, dan tiada ada yang dapat mengalahkan segala urusanNya. Hakikat itu adalah hakikat kematian dan sakratul maut karena dengan fenomena itu Allah menundukkan segenap penduduk dunia ini semenjak fajar kehidupan sampai terbenamnya. Allah berfirman :
    "Sesungguhnya engkau pasti menemui kematian dan sesungguhnya mereka juga pasti menemui kematian" (Az Zumar : 30)
    Adalah mudah bagi Allah untuk menjadikan RosulNya terbebas dari sakratul maut dengan segala penderitaannya, tetapi hikmah Ilahiah menghendaki bahwa ketentuan Allah ini berlaku bagi semua orang betapapun kedudukannya di sisi Allah, agar manusia hidup dalam suasana tauhid. Juga agar mereka mengetahui bahwa segala yang ada di langit dan bumi pasti akan kembali kepada Yang Maha Rahman sebagai hamba. Tidak ada seorang pun yang boleh menolak ‘ubudiah dan merasa tidak perlu mengingat sakratul maut, setelah kekasih Allah pun tidak dapat lolos darinya.
  2. Tidak ada pengutamaan dalam Hukum Islam kecuali dengan Amal Shalih
  3. Disyari’atkan Ruqyah yaitu dengan membaca berbagai macam ta’awwudz (permintaan perlindungan kepada Allah, sebagai do’a). Dari ‘Aisyah : Apabila ada seseorang yang sakit, Rosulullah saw biasanya mengusapkannya dengan tangan kanan beliau seraya mengucapkan: "Idzhabil ba’sa robbanass. Waa syufi wa antassyafi la syifa’a illa syifa ‘uka syifa ‘an la yugho diru saqoma.
    "Ya Allah, hilangkanlah penyakit ini, wahai Penguasa seluruh manusia, sembuhkanlah. Engkaulah Yang menyembuhkan, tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, sembuhkanlah dengan kesembuhan sempurna tanpa meninggalkan rasa sakit"
  4. Pandangan terakhir Rosulullah kepada para sahabatnya bahkan umatnya yang terekam di benak beliau dan yang menjadikan saksi antara mereka dengan Allah yaitu ketika para sahabat dan umat melaksanakan Sholat. Hikmah Allah telah menghendaki bahwa pandangan terakhir itu ialah Sholat! Kehendak Allah telah menentukan bahwa Sholat merupakan pesan terakhir beliau. Wallahu'alam Bishowab
    Created by : Fitrah Al Jannah, 190606. Ya Allah, jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang senantiasa bersyukur atas rahmat-Mu, dan Istiqomahkanlah kami di jalan-Mu. Amiin….

    Sbr:SIRAH NABAWIYAH – Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Al – Buthy (1397 H/1977 M)

No comments: