Monday, February 28, 2011

Aku dan Trauma

28 Februari 2011

Tepat setahun setelah pertemuan itu. Minggu bertemu Senin, Senin berganti Selasa, Selasa berganti Rabu, dan seterusnya. Kita ibarat menghitung hari demi hari dari sebongkah sejarah masa lalu yang penuh pembelajaran, menuju masa depan akhirat yang pasti. Ibarat tangis meringis dari bibir yang manis menjadi senyum menyungging penuh keikhlasan karena badai ujian akhirnya berlalu pasti. Waktu terus berjalan, kawan. Hidup bagai ujian, dan setiap kita memiliki ujian masing-masing yang tentu telah Allah perhitungkan bahwa kita pasti mampu dan sanggup menghadapi. Ujian tak pernah salah sasaran. Siswanya sudah Allah tentukan untuk menjadikan kita lulus mendapat predikat terbaik atau sebaliknya. Tadribat (latihan) dari Allah tidak pernah salah sasaran. Semua sudah digariskan kepada siapa dan bagaimana ujian itu terjadi. Semua baik bagi kita. Allah yang Maha Mengatur sudah menggariskannya sedemikian rupa agar kita menjadi hamba-Nya yang lebih baik lagi.

Di dunia fana ini, hanya Janji Allah yang pasti. Janji manusia terkadang tak mampu ia tepati karena khilaf dan lupa atau karena ia berada di bawah pengaruh dan tekanan orang lain, yang menjadikannya tak mampu menjadi diri sendiri, kehilangan jati diri dan nuraninya sendiri, karena pada dasarnya manusia itu tempat khilaf dan salah. Itulah manusia, makhluk yang Allah ciptakan dengan kelemahan (dho'if) dan keterbatasan. Apalah artinya kita?. Manusia yang kemana-mana membawa kotoran, bagai debu yang diombang-ambingkan angin takdir. Kita hanya manusia, hamba (budak) Allah yang menjalani saja apa yang digariskanNya dari sebuah kitab yang sudah tertulis, Lauh Mahfuz. Saya menuliskan sebuah kisah nyata yang saya alami sendiri, tragis dan miris, namun menuai hikmah, yang akhirnya membawa saya masuk ke dalam ruang pembelajaran bernama bab memaafkan dan memahami. Kemudian disana saya banyak belajar tentang makna memahami perbedaan karena memang setiap kita lahir dalam keadaan berbeda.

Inilah janji-janji Allah yang terus membuat saya kuat bertahan, meski badai bagai tak henti-hentinya menghadang.

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (QS 2:286)

Kami tidak memikulkan beban kepada sesorang melainkan sekedar kesanggupannya. (QS 6:152)

Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang melainkan sekedar kesanggupannya. (QS 7:42)

Kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya (QS 23:62)

Ada begitu banyak janji yang Allah berikan bagi hamba-hambanya yang sabar dan ikhlas menghadapi ujian. Meski jikalau ujian itu diberikan pada yang lain, belum tentu yang lain mampu menghadapi.

Apakah anda berharap orang lain akan memahami anda?, Mengerti kondisi anda?, sekali lagi tidak. Orang lain hanya bisa berkomentar, berprasangka, berargumen terhadap permasalahan yang anda alami. Mereka tidak akan pernah bisa menyelami isi hati anda karena mereka tidak mengalami dan menjalani apa yang anda alami. Oleh karena itu fahami saja mereka. Dengan begitu engkau menjadi lebih kuat dibanding mereka. Hadapi dan nikmatilah ujian hidup anda. Karena Allah sudah mengukur batas kekuatan anda. (Fithri Ariani, Saat Badai itu Datang Lagi. 09 Februari 2011)

"Manusia yang pada dasarnya baik, bisa berubah menjadi sebaliknya saat ia mendapat tekanan perorangan, kelompok, atau lingkungannya. atau berada di bawah pengaruh orang lain."

Aku dan hidupku
Sekarang, yang tertinggal hanya trauma dan luka. Ibarat badai yang datang tiba-tiba, kemudian hilang juga tiba-tiba, namun meninggalkan bekas yang porak poranda. Saya, bagai baru terbangun dari tidur panjang yang melelahkan. Terjebak dalam mimpi indah membangun masa depan dan janji-janji manis. Terjepit di antara duri kawat yang menyakit, namun tak bisa berlari karena tak mampu memilih (mimpi yang menjadi nyata di bunga tidur, Juni 2010). Ibarat sebuah layang-layang, yang diterbangkan tinggi, kian meninggi. Menjauh, kian menjauh. Diterpa angin berkali-kali, nyaris jatuh berkali-kali. Berusaha bertahan (memaafkan) berkali-kali, kemudian setelah terbang makin meninggi, talinya diputus begitu saja. Sakit. Hanya sakit yang terasa. Trauma, terutama jika mengingat badainya (Desember 2010).

Kontak bathin antara anak dan ayah bisa membuat segalanya berubah. Saat anak sakit, orang tua pun akan sakit saking kuat ikatan bathin mereka. Karena didarahnya mengalir darah ayahnya, karena sang ayah menyayangi anaknya. Saat itu, semua bagai badai yang datang bertubi-tubi. Bermula dari angin yang berhembus pelan, awan putih di pelataran langit biru yang berarak indah berubah menjadi mendung hitam, kemudian menjadi rintik-rintik hujan, ia menyerinai menari mengisi detik demi detik membuat pusaran angin kemudian menjadi badai yang melibas tanpa batas, dan menghancurkan segalanya. Dan saat itu, kita sudah tak bisa lagi berlari atau menghindar dari catatan goresan tulisan langit "takdir" yang Allah tentukan. Aku, dan trauma..

04 Desember 2010
Papa marah di depan saya. Setiap hari, tak henti-henti ia menanyakan itu, saya bingung dan kalut. Sudah berkali-kali mengingatkan, namun tak jua datang. Sudah kehabisan cara dan kehilangan kekuatan. Janji hanya tinggal sampah yang muncrat bagai comberan. Semua bagai larutan asam pekat yang menyakitkan. "Mana surat-surat administrasinya?, Papa mau urus semuanya, biar cepat selesai", dan selanjutnya setiap hari...  "Mana.. mana.. mana.. sini Papa yang menghubungi, mana nomornya, mau dikirim tidak? ". BLAR!, Papa muntah di hadapan saya. Papa sakit sejak 3 Desember - 17 Desember 2010. Tidak mau makan, tidak mau minum obat, hanya diam dan melamun. Saya kalut bukan kepalang. Saya yang mencuci pakaian-pakaian Papa ketika ia sakit. Air bilasannya bercampur dengan tetesan air mata saya. Saat itu, hanya ada saya, Papa, dan Allah. Dan jika teringat itu semua, hanya luka yang tersisa, terus menganga. Luka di atas luka yang belum kunjung sembuh, lalu ditimpa dengan luka-luka baru. Astaghfirullaahaladzhiim..

Saya.. Fithri Ariani, hanya hamba Allah yang dho'if penuh kehilafan. Diuji bertubi-tubi dengan ujian yang sama. Berkali-kali memaafkan dan berkali-kali pula terluka. Saya diciptakan untuk memaafkan. Diciptakan untuk menjadi manusia yang kuat bertahan. Namun, saya.. hanyalah manusia biasa yang penuh keterbatasan. Saya tidak sekuat itu. Saya terluka dan trauma.

Perbincangan Hati
"Maafkan aku Papa. Aku sudah tidak percaya laki-laki. Aku benci laki-laki. Namun aku akan tetap mencintai Papa, Kakak, dan adik laki-lakiku, serta keponakan-keponakan laki-lakiku, serta keluarga laki-lakiku. Maafkan aku Papa, walau pun Papa dan kakak atau adik laki-lakiku adalah lelaki, tapi aku sudah tak percaya laki-laki. Sekarang aku hanya ingin hidup dengan hidupku sendiri. Tidak ingin lagi bersentuhan dengan urusan berbau laki-laki, cinta, atau lawan jenis. Traumaku sudah sangat dalam. Lukaku sudah tak terperi. Meski dalam kehidupan normal aku tidak akan bisa lepas dari berinteraksi dengan laki-laki, tapi tembok yang kubuat kian meninggi. Terus ku bangun meninggi. Biar tak ada lagi yang mendaki. Aku, sakit hati.

Ku tulis semua dengan air mata. "Maafkan aku, jika ku harus menulis lagi tentang luka. Bila suatu saat engkau membacanya, lihatlah aku. Aku yang meninggalkanmu dan kau tinggalkan dengan sisa-sisa luka, yang seumur hidup akan tetap terus kubawa. Maafkan aku. Semoga Allah mengampuni kita, dan semoga apa yang ku alami, tidak akan pernah engkau atau saudara perempuanmu, atau anak perempuanmu kelak alami. Karena kau pasti tak kan kuat menghadapi seperti saat aku diuji."

Kutipan Catatan Desember 2010

Monday, February 14, 2011

Wahai Yang Maha Pemberi Cinta

Wahai Allah Yang Maha Pemberi Cinta..
Lindungilah mereka yang tengah jatuh cinta,
Ridhoilah setiap detik waktu yang mereka lalui,
Berkahilah setiap hela nafas yang mereka hirup,
Ampunilah segala dosa-dosa mereka. Aamiin..

Wahai hamba Allah yang tengah di mabuk cinta,
Palingkan cintamu kepada Allah.
Sungguh.. Allah Pencemburu,
Jika mencintai sesuatu melebihi cinta kepadaNya,
maka bersiaplah, IA mengambil apa yang kita cintai dari sisi kita.

Tetaplah istiqomah,
Letakkan cintamu di tengah-tengah (adil/seimbang).
Semoga engkau bisa.. Aamiin..

Thursday, February 10, 2011

Bahagianya Merayakan Cinta - Kuliah Twitter Ust. Salim A Fillah

Artikel ini saya kutip dari sebuah postingan di Facebook. Sekedar sharing dan berbagi baik untuk rekan-rekan yang belum menikah, mau pun yang telah menikah, terutama untuk saya sendiri. Semoga bermanfaat dan memberi inspirasi bagi kita untuk menjadi lebih baik lagi dalam menata pernikahan, mulai dari niat, persiapan, hari akad, hingga terbentuknya keluarga. Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kuliah Twitter "Persiapan Pernikahan" Bersama ustadz Salim Fillah:

1. Dalam isyarat Nabi tentang Nikah, ialah sunnah teranjur nan memuliakan. Sebuah jalan suci untuk karunia sekaligus ujian cinta-syahwati.

2. Maka Nikah sebagai ibadah, memerlukan kesiapan & persiapan. Ia tuk yang mampu, bukan sekedar mau. “Ba’ah” adalah parameter kesiapannya.

3. Maka berbahagialah mereka yang ketika hasrat Nikah hadir bergolak, sibuk mempersiapkan kemampuan, bukan sekedar memperturutkan kemauan.

4. Persiapan Nikah hendaknya segera membersamai datangnya baligh, sebab makna asal “Ba’ah” dalam hadits itu adalah “Kemampuan seksual.”

5. Imam Asy Syaukani dalam Subulus Salam, Syarh Bulughul Maram menambahkan makna “Ba’ah” yakni: kemampuan memberi mahar & nafkah. Nikah

6. Mengompromikan “Ba’ah” di makna utama (seksual) & makna tambahan (mahar, nafkah), idealnya anak lelaki segera mandiri saat baligh. Nikah

7. Jika kesiapan Nikah diukur dengan “Ba’ah”, maka persiapannya adalah proses perbaikan diri nan tak pernah usai. Ia terus seumur hidup.

8. Izinkan saya membagi Persiapan Nikah dalam 5 ranah: Ruhiyah, ‘Ilmiyah, Jasadiyah (Fisik), Maaliyah (Finansial), Ijtima’iyah (Sosial)

9. Persiapan Nikah perlu start awal. Salim nikah usia 20 th, tapi karena persiapannya dimulai umur 15 th, maka tak bisa disebut tergesa.

10. Sebaliknya, ada orang yang Nikah-nya umur 30 th, tapi persiapan penuh kesadaran baru dimulai umur 29,5 th. Itu namanya tergesa-gesa.

11. Kita mulai dari yang pertama; Persiapan Ruhiyah. Ialah nan paling mendasar. Segala persiapan Nikah lainnya berpijak pada yang satu ini.

12. Persiapan Ruhiyah (Spiritual) ada pada soal menata diri menerima ujian & tanggungjawab hidup nan lebih berlipat, berkelindan. Nikah

13. (QS Ali Imran 14): Sebelum nikah ujian kita linear: pasangan hidup. Begitu Nikah berjejalin: pasangan, anak, harta, gengsi, investasi.

14. Sebelum Nikah, grafik hidup kita analog dengan amplitudo kecil. Setelah menikah, ia digital variatif; kalau bukan NIKMAT, ya MUSIBAH.

15. Maka termakna jua dalam Persiapan Ruhiyah terkait Nikah adalah kemampuan mengelola SABAR dan SYUKUR menghadapi tantangan-tantangan itu.

16. SABAR & SYUKUR itu semisal tentang pasangan; ia keinsyafan bahwa tak ada yang sempurna. Setiap orang memiliki lebih & kurangnya. Nikah

17. Khadijah itu lembut, penyabar, penuh pengertian, & dukung penuh perjuangan. Tapi tak semua lelaki mampu beristeri jauh lebih tua. Nikah

18. ‘Aisyah: cantik, cerdas, lincah, imut. Tapi tak semua lelaki siap dengan kobar cemburunya nan sampai banting piring di depan tamu Nikah

19. Persiapan Ruhiyah Nikah adalah mengubah ekspektasi menjadi obsesi. Dari harapan akan apa nan diperoleh, menuju nan apa akan dibaktikan.

20. Jika Nikah masih terbayang sbb: lapar ada yang masakin, capek ada yang mijitin, baju kotor dicuciin. Itu ekspektasi. Bersiaplah kecewa.

21. Ekspektasi macam itu lebih tepat dipuaskan oleh tukang masak, tukang pijit, & tukang cuci;) Ber-obsesilah dalam Nikah. “Apa obsesimu?”

22. Obsesi sebagai Persiapan Ruhiyah Nikah semisal: Bagaimana kau akan berjuang sebagai suami/isteri ayah/ibu untuk mensurgakan keluargamu?

23. Usai itu, di antara persiapan Ruhiyah Nikah adalah menata ketundukan pada segala ketentuanNya dalam rumahtangga & masalah-masalahnya.

24. Lalu persiapan ‘Ilmiyah-Tsaqafiyah (Pengetahuan) Nikah, meliput banyak hal semisal Fiqh, Komunikasi Pasangan, Parenting, Manajemen, dll

25. Bukan Ustadz-pun, tiap muslim harus sampai pada batas minimal lmu syar’i nan dibutuhkan dalam berhidup, berinteraksi, berkeluarga Nikah

26. Lalu tentang komunikasi pasangan; seringnya masalah rumahtangga bukan krn ada maksud jahat, melainkan maksud baik nan kurang ilmu Nikah

27. Sungguh harus diilmui bahwa lelaki & perempuan diciptakan berbeda dengan segala kekhasannya, untuk saling memahami & bersinergi. Nikah

28. Contoh beda hadapi masalah & tekanan; Wanita: berbagi, didengarkan, dimengerti. Lelaki: menyendiri, kontemplasi, rumuskan solusi Nikah

29. Bayangkan jika perbedaan itu dibawa dalam sikap dengan asumsi: “Aku mencintaimu seperti aku ingin dicintai” Konflik pasti meraja. Nikah

30. ->Suami pulang dgn masalah berat disambut isteri yg memaksa ingin tahu & dengar problemnya, padahal ia ingin sendiri & bersolusi. Nikah

31. . Lihatlah Khadijah saat Muhammad pulang dr Hira’ dengan panik & resah. Dia tak bertanya, dia sediakan ruang sendiri & kontemplasi. Nikah

32. Sebaliknya-> Isteri yg sdg ingin didengar lalu curhat ke suami, suami malah tawarkan solusi. Padahal dia hanya ingin dimengerti. Nikah

33. Isteri: Mas aku capek, rumah berantakan bla-bla-bla. Suami: OK, kita cari pembantu. I: O, jadi aku dianggap pembantu?!. S: Lho?! Nikah

34. BEDA lagi: Suami single tasking, bisa marah kalau isterinya nan multitasking memintanya kerjakan beberapa hal berrangkai-rangkai. Nikah

35. BEDA lagi: Isteri sering berkalimat tak langsung nan tak difahami suami. Ie: Mas, Salma belum dijemput, aku masih harus masak! Nikah

36. -> Jawab suami: Oh, kalau gitu biar nanti Salma pulang sendiri” Dijamin para isteri gondok, sebab maksudnya: Tolong jemput Salma! Nikah

37. BEDA. Bagi suami masalah hrs disederhanakan (Spiral ke dalam). Bagi isteri, tiap detail & keterkaitan sgt penting (Spiral keluar) Nikah

38. Dan banyak lagi BEDA yang jk tak diilmui potensial jd masalah serius. Lengkapnya di Bahagianya Merayakan Cinta #BMC http://bit.ly/gW5rG4

39. Next: Parenting. Waktu kita sempit; belum puas belajar jd suami/isteri, tiba-tiba sdh jd ayah/ibu. Maka segeralah belajar jd Ortu #Nikah

40. Anak adl karunia yg hiasi hidup, amanah (lahir dalam fitrah, kembalikan ke Allah dalam fitrah), pahala, sekaligus fitnah (ujian). #Nikah

41. Maka mengilmui hingga detail-detail kecil soal parenting adalah niscaya. ie Hadits: renggutan kasar pd bayi membekas di jiwa. #Nikah

42. Uji kecil buat calon ibu & ayah: “Apa yang anda lakukan saat anak lari-larian di depan rumah lalu GABRUSS, jatuh berdebam?” #Nikah

43. LAZIM: “Sudah dibilang, jangan lari-lari! Tuh, jatuh kan!” -> Anak belajar utk menganggap dirinya selalu bersalah dalam hidupnya. #Nikah

44. LAZIM: “iih, batunya nakal ya Nak! Sini Ibu balaskan!” -> Anak belajar salahkan keadaan sekitar utk excuse dr kurangnya ikhtiyar. #Nikah

45. LAZIM: “Hm, nggak apa-apa, nggak sakit, cuma kayak gitu!” -> Ketakpekaan. Hati-hati dibalas saat kita sdh tua & sakit-sakitan;P #Nikah

46. Alangkah bahaya tiap huruf dari lisan bg masa depan anak kita. Latihlah dia agar lempang (tanpa dusta & tipu) dlm taqwa (QS 4: 9) #Nikah

47. Kita masuk persiapan Jasadiyah (Fisik) untuk #Nikah. Ini jua perkara penting sebab terkait dengan keamanan, kenyamanan, & ketenagaan.

48. Awal-awal, periksa & konsultasilah ke dokter atas termungkinnya sgl penyakit tubuh, lebih-lebih nan terkait kesehatan reproduksi #Nikah

49. Per #Nikah-an itu utuh di segala sisi diri, maka menjalani terapi & rawatan tertentu untuk membaikkan fisik adalah jua hal yang utama.

50. Fisik kita & pasangan bertanggungjawab lahirkan generasi penerus yang lebih baik. Maka perbaiki daya & staminanya sejak sekarang. #Nikah

51. Perbaiki pola asup, tata gizi seimbang. Allah akan mintai tg jawab jajan sembarangan jika ia jadi sebab jeleknya kualitas penerus #Nikah

52. Bangun kebiasaan olahraga ilmiah; tak asal gerak tapi membugarkan, menyehatkan, melatih ketahanan. Tugas fisik berlipat 3 setelah #Nikah

53. Jadi, target persiapan fisik #Nikah itu 3 tingkatan; PRIMER: sehat & aman penyakit, SEKUNDER: bugar & tangkas, TERSIER: beauty & charm;)

54. Selanjutnya, persiapan Maliyah (finansial), ini yang paling sering menghantui & membuat ragu sepertinya. Padahal ianya sederhana. #Nikah

55. Yang tepat bicara persiapan Maliyah ini sebenarnya Ust. @ahmadgozali, izinkan Salim lancang singgung sedikit dgn ilmu nan dangkal #Nikah

56. Konsep awal; tugas suami adalah menafkahi, BUKAN mencari nafkah. Nah, bekerja itu keutamaan & penegasan kepemimpinan suami. #Nikah

57. Ingat & catat: Persiapan finansial #Nikah sama sekali TIDAK bicara tentang berapa banyak uang, rumah, & kendaraan yang harus anda punya.

58. Persiapan finansial #Nikah bicara tentang kapabilitas hasilkan nafkah, wujudnya upaya untuk itu, & kemampuan kelola sejumlah apapun ia.

59. Maka memulai per #nikah-an, BUKAN soal apa anda sudah punya tabungan, rumah, & kendaraan. Ia soal kompetensi & kehendak baik menafkahi.

60. ‘Ali ibn Abi Thalib memulai #Nikah bukan dari nol, melainkan minus: rumah, perabot, dll dari sumbangan kawan dihitung hutang oleh Nabi.

61. Tetapi ‘Ali menunjukkan diri sebagai calon suami kompeten; dia mandiri, siap bekerja jadi kuli air dengan upah segenggam kurma. #Nikah

62. Maka sesudah kompetensi & kehendak menafkahi yang wujud dalam aksi bekerja -apapun ia-, iman menuntun: #Nikah itu buat kaya (QS 24: 32)

63. Agak malu, Salim juga minus saat nikah; hutang yang terrencanakan terbayar dalam 2 tahun menurut proyeksi hasil kerja saat itu. #Nikah

64. Tetapi Allah Maha Kaya, dan #Nikah menjadi pintu pengetuknya. Hadirnya isteri menjadi penyemangat; hutang itu selesai dalam 2 bulan.

65. Buatlah proyeksi nafkah #Nikah secara ilmiah & executable, JANGAN masukkan pertolongan Allah dlm hitungan, tapi siaplah dgn kejutanNya;)

66. Kemapanan itu tidak abadi. Saya memilih #Nikah di usia 20 saat belum mapan agar tersiapkan isteri untuk hadapi lapang maupun sempitnya;)

67. Bahkan ketidakmapanan yang disikapi positif menurut penelitian Linda J. Waite (Psikolog UCLA), signifikan memperkuat ikatan cinta #Nikah

68. Ketidakmapanan nan dinamis menurut penelitian Karolinska Institute Swedia, menguatkan jantung, meningkatkan angka harapan hidup. #Nikah

69. Karolinska Institute: kemapanan lemahkan daya tahan jantung thd serangan. Di Swedia, biasanya yang kena infark langsung wafat PNS #Nikah

70. Persiapan #Nikah yang sering terabai ialah nan kelima ini: Ijtima’iyah (Sosial). Pernikahan adalah peristiwa yg kompleks secara sosial.

71. Sebuah per #Nikah-an yang utuh punya visi & misi kemasyarakatan untuk menjadi pilar kebajikan di tengah kemajemukan suatu lingkungan.

72. Untuk itu, mereka yang akan me #Nikah hendaknya mengasah keterampilan sosialnya jauh-jauh hari, sekaligus sebagai bagian pendewasaan.

73. Membiasakan mengkomunikasikan prinsip-prinsip nan diyakini terkait per #Nikah-an & kehidupan kepada Ortu bisa jadi bagian dari latihan.

74. Prinsip Quran tentang hubungan dengan Ortu ialah ‘persahabatan’, Wa Shaahibhuma (QS Luqman 15). Gunakan itu untuk dewasakan diri. #Nikah

75. Maka kadang Salim menilai kedewasaan kawan yang ingin me #Nikah dengan keberhasilannya untuk komunikasikan prinsip pada Ortu scr ma’ruf.

76. Persiapan kemasyarakatan: kumpulkan modal sosial sebanyak-banyaknya; bahasa, ilmu sosio-antropologis, kelincahan organisasi, dll. #Nikah

77. Per #Nikah-an kita harus hadir sbg pengokoh kebajikan masyarakat, bukan beban ataupun pelengkap-penderita. Utama lagi, jadi pelopor.

78. Mulailah dgn perkenalan berkesan pada lingkungan. Saat walimah nanti; tetangga rumah tinggal setelah #Nikah adl yg plg berhak diundang.

79. Jika harus pindah tempat tinggal, mulai jg dgn perkenalan. Pr tokoh: datangi silaturrahim. Masyarakat umum: undang tasyakuran. #Nikah

80. Stl itu, target besarnya adl menjadikan pintu rumah kita sbg yang plg pertama diketuk saat masyarakat sekitar memerlukan bantuan. #Nikah

81. Tentu berat menopangnya sendiri. Mk yang harus kita punya bkn hanya ASET, melainkan juga AKSES. Bangun jaringan slg menguatkan. #Nikah

82. Ilmuilah bgmn cr menguruskan jaminan kesehatan miskin, beasiswa tak mampu, biaya RS, mobil jenazah gratis, dll DEMI TETANGGA KITA #Nikah

83. Tampillah sbg yang penting & bermanfaat dlm hajat-hajat kebahagiaan maupun duka tetangga, juga rayaan-rayaan sosial-masyarakat. #Nikah

84. Tampillah sbg yang terbaik sejangkau suai kemampuan; Imam Masjid, muadzin, Guru TPA, Bendahara RT, Ketua RW, Pendoa jenazah, dst #Nikah

85. Tampillah sbg nan paling besar kontribusi dlm kebaikan-kebaikan sosial: Agustusan, Syawalan, Kerja Bakti, Arisan, Pengajian, dst #Nikah

86. Ringkas kata untuk persiapan sosial #Nikah ini adalah bermampu diri utk menjadi pribadi & keluarga yg AMAN, RAMAH, BERMANFAAT #Nikah

87. Tuntaslah KulTwit Persiapan #Nikah yg diambil dr bagian awal buku Bahagianya Merayakan Cinta

Saturday, February 05, 2011

Menggenggam Rembulan

Aku, kembali sendiri menatap langit. Rembulan terang menyajikan eksotika malam yang bulat. Tak pernah ada engkau disana, sedari dulu hingga sekarang. Lembaran-lembaran sudah selesai. Hanya tinggal puing-puing sejarah, suram. kau ukir di takdirku. Janji-janji tinggal buaian kata, yang tak pernah kau tepati.

Aku, menanam sebatang pohon di atas kuburan "CINTA". Kusiram agar tak layu, ku pupuk agar terus tumbuh dan tumbuh, subur menghijau hingga menjadi taman di dalam hati. Cinta, kuhadirkan dalam genggaman. Ku ambil dari dalam jiwa. Ku persembahkan untuk yang layak menerimanya. Dan aku, menyimpan sepotong hati. Ku genggam dan kuberikan padamu, karena engkau layak dicintai.

Maafkan aku wahai lelaki, hati ini tak bisa membuka, sejak kau ketuk pintunya. Tak pernah bisa membagi. Tak kan bisa kau selami. Lukanya terlampau perih, karena satu demi satu kau coba bertubi. Biar waktu kan sembuhkan. Hingga datang jawaban pasti, dari Tuhan.


Sunday, January 23, 2011

Ujian Bagi yang Hendak Menikah

Cinta adalah salah satu nama dan sifat Allah yang Maha Suci. Allah Ar Rahmaan, Allah Ar Rahiim, dan Allah Al Waduud. Cinta Allah sangatlah besar, melebihi cintanya Adam dan Hawa, Ibrahim dan Sarah, Yusuf dan Dzulaikha, Qois dan Laila, bahkan Romeo dan Juliet. Cinta Allah kepada hamba-Nya melebihi segala-galanya.

Kadang kala kita mencintai sesuatu (bisa benda, hewan, ataupun manusia), namun yang kita cintai tersebut tidak mencintai kita. Ketika ia tidak mencintai kita, kita selalu berusaha, ketika kita nyatakan cinta, dia menolak, kita bersedih. Ketika dia mencaci, kita pun bersabar. Sakitnya cinta bagi sang pencinta bukanlah ujian yang sia-sia. Semua rahasia Allah, semua sudah dalam garisan-Nya. Semua ujian baik untuk kita.

Rasa cinta ini adalah fitrah manusia. Allah jadikan fitrah manusia untuk mencintai, anak, istri (wanita), emas, perak, kendaraan, sawah ladang. Cinta yang seperti ini adalah cinta yang belum dikelola, cinta yang masih bersandarkan hawa nafsu belum bersandarkan keimanan dan tuntunan Ilahi. AKU CINTA ALLAH. Ah masa sih… Mungkin baru cinta dilidah belum cinta dihati. Tapi sudah ada keinginan untuk meletakkan cintanya ditempat yang benar.

Ketika seorang hamba menyatakan cintanya kepada Allah, maka Allah akan memberikan ujian-ujian kepada hamba tersebut untuk menguji kebenaran cintanya. Ada hamba Allah yang lulus ujian sehingga bertambah besar cintanya kepada Allah dan Allah pun semakin mencintai dia, ada pula yang gagal melalui ujian, dia memilih mencintai selain Allah dari pada mencintai Allah dan Allah pun berpaling darinya. Dalam menguji hambanya Allah tidak pernah menguji seorang hamba melebihi kemampuannya untuk menanggung ujian tersebut dan Allah dalam menguji hambaNya juga mengasih bocoran soal-soal yang akan diujikan. Allah akan menguji dengan kekurangan makanan dan kesejahteraan, ketakutan dan keamanan, kemiskinan dan kekayaan, sakit dan sehat, intinya semua keadaan adalah ujian dari Allah baik yang kita sukai maupun yang tidak kita sukai.
(Sumber: Herry Syafrial, http://adetelur.blogdetik.com/2010/06/16/ketika-allah-mencintai-hambanya/)

Seorang rekan bercerita tentang ujian-ujian yang dia alami ketika mempersiapkan pernikahannya yang tinggal beberapa bulan lagi. Ia bercerita tentang persiapan-persiapan pernikahan yang sudah ia lakukan bersama calonnya. Ia menjelaskan keinginannya untuk mempersiapkan semuanya seperfect mungkin. Ya wajar saja, mana ada orang yang ingin menikah tanpa persiapan yang matang. Setiap orang pasti ingin pernikahannya berlangsung sebaik mungkin sesuai rencana dan bahkan memberikan pelayanan seperfek mungkin kepada kedua keluarga mempelai dan para tamu.

Saat itu, selaku orang yang pernah pengalaman mempersiapkan pernikahan, saya hanya memberi masukan singkat kepadanya. Walau pun rencana pernikahan saya saat itu akhirnya batal. Alhamdulillaah.. dari pengalaman ta'aruf dan rencana pernikahan saya yang berakhir tragis, akhirnya saya bisa memberi masukan kepada sahabat saya itu. Dan alhamdulillah lagi, sahabat saya tersebut bisa mengambil hikmah dari pengalaman ta'aruf dan rencana pernikahan saya. Alhamdulillah, ia kembali mengevaluasi ta'arufnya mulai dari niat menikah sampai segala persiapan pernikahannya.

"Ya ikhwafillah.. sebagai ikhwah yang tertarbiyah, kita meletakkan tujuan menikah untuk meraih ridho Allah bukan ridho manusia. Kita menikah untuk beribadah kepada Allah. Letakkanlah niat itu pada tempatnya, tempatnya adalah hak Allah seutuhnya. Jangan sampai kita salah menempatkan niat menikah. Kita menikah karena calon pendamping kita seorang yang cantik/tampan, sehingga niat menikah menjadi menurun kadar ibadahnya. Kita menjadi bangga dengan kecantikan/ketampanan itu. Atau mungkin kita menikah karena calon pendamping kita berasal dari keluarga ninggrat dan memiliki harta melimpah, maka niat menikah kita berubah. Kita bangga dengan calon mertua dan pendamping hidup yang kaya raya. Lantas kita membangun harapan bahwa masa depan kita setelah berumah tangga dengan calon pendamping kita akan sejahtera. Sekali lagi, jangan tempatkan niat menikah kita pada tempat yang salah. Pernikahan kita tetap hak Allah. Libatkan Allah dalam setiap keputusan kita agar ridho-Nyalah yang selalu menyertai langkah-langkah kita".

Disini, kembali saya menuliskan pengalaman ta'aruf yang saya alami sebagai tausiyah bagi diri saya sendiri dan untuk diambil hikmahnya. Menjadi masukan sederhana kepada rekan-rekan yang akan menikah. Semoga pengalaman "ini" memberi manfaat bagi rekan semua. Aamiin..

Tulisan ini saya buat disaat hati ini "sakit" karena perihnya ujian yang menimpa. Tulisan ini saya buat, untuk mengingatkan diri saya sendiri dan saudara-saudara saya yang hendak menggenapkan setengah diennya. Untuk rekan yang sudah Allah karuniai nikmat sudah memiliki calon pasangan hidup atau yang sedang dalam proses ta'aruf menuju pernikahan. Saudaraku.. seberat apa pun urusan proses dan persiapannya, hanya tiga kata kuncinya:

Bersyukur, bersabar, dan ikhlas..

Mendapat pasangan hidup adalah salah satu nikmat Allah, siapa pun yang hendak meraih nikmat Allah pasti diuji. Allah sudah memberi jatah ujian masing-masing. Yang pasti ujian yang diberikan sudah terukur. Allah tidak akan memberikan ujian kepada hamba-hambaNya yang tidak sanggup melewatinya. Yang diuji sudah terpilih, pasti BISA melewatinya seberat apa pun ujian menimpanya. Ikhlaslah menerima calon pasangan hidup kita dengan segala kekurangan dan kelebihannya, dengan ikhlas tersebut akan lebih mudah menjalaninya. Jangan memulai dengan perbedaan, tapi mulailah dengan persamaan. Karena memulai dengan perbedaan pasti akan menimbulkan permasalahan. Bersyukurlah.. Allah tidak menguji hamba-Nya melebihi kemampuannya. Bersyukurlah.. ujian yang anda lalui mungkin tidak seberat ujian-ujian mereka yang ujian menggenapkan 1/2 diennya berkali-kali lipat sulitnya.

Senantiasalah meluruskan niat, lipatgandakanlah kesabaran dan keikhlasan, bersyukur karena dikaruniai nikmat menggenapkan 1/2 dien, karena masih banyak barisan panjang yang antri di belakang. Menanti-nanti siapa, kapan, dimana, mengapa, bagaimana, dia bertemu jodohnya, seperti saya yang kembali "back to the floor", memulai dari nol..

Bersabarlah saudaraku.. insyaAllah Allah akan memberi kemudahan kepadamu.



Note: Hikmah dari pengalaman ta'aruf pertama yang tragis.


Untuk belahan jiwa yang entah siapa, dimana, kapan, mengapa, bagaimana, Allah mempertemukannya. Semoga sakit yang ku rasa berganti dengan bahagia bersamamu selamanya. Menantimu, hingga waktu terbaik tiba..

Thursday, January 13, 2011

Selalu Ada Jalan Keluar

Pernahkan Anda menemui jalan buntu? Sebenarnya jalan buntu itu adalah suatu istilah untuk sebuah jalan yang tertutup. Hanya saja, orang sering mendramatisir seolah tidak ada jalan lain lagi untuk mencapai tujuan kita. Jika sebuah jalan buntu, memang tidak ada jalan keluar jika kita hanya berpikir itu satu-satunya jalan. Padahal, di luar sana masih banyak jalan yang bisa kita lalui.

Kesalahan kita ialah seringkali mempersempit pandangan kita. Seperti uraian diatas, pandangan kita sempit, kita hanya memikirkan jalan tersebut saja, sehingga seolah peluang kita mencapai tujuan telah sirna. Namun, jika kita mau memperluas pandangan, sebenarnya masih banyak jalan-jalan lain yang bisa kita lalui.

Jalan buntu adalah suatu analogi sebuah masalah yang kita hadapi dalam kehidupan kita. Dalam bisnis, karir, sosial, keluarga, dan sebagainya. Banyak orang begitu stress menghadapi masalah, mengatakan sudah menemui jalan buntu, dan menyerah begitu saja. “Mau apa lagi?” katanya.

Hal ini diperparah oleh ungkapan yang mengatakan bahwa peluang hanya datang satu kali. Sehingga saat seseorang kehilangan peluang kerja, peluang bisnis, dan peluang lainnya dia pikir tidak ada lagi peluang lain sehingga dia stress dan ketakutan kehilangan peluang yang ada di depan matanya.

“Peluang masuk ke perusahaan ini hanya sekali. Jika sekarang gagal, maka kita tidak akan pernah lagi diterima di perusahaan ini.”

Betul, peluang untuk masuk ke perusahaan tersebut memang satu kali. Jika pandangan kita hanya perusahaan tersebut, maka kita akan berpikir peluang hanya datang satu kali. Namun, cobalah rentangkan pikiran kita. Kita akan temukan bahwa peluang kerja di perusahaan lain masih banyak.

Jika kita merentangkan pikiran kita lebih luas lagi, ternyata bukan hanya bekerja cara kita mencari nafkah. Anda bisa bisnis. Banyak peluang bisnis di sekitar kita. Kita tinggal pilih dan bisa jadi kita akan mendapatkan bisnis yang memberikan penghasilan jauh lebih besar dibanding kita bekerja di perusahaan idaman kita.

“Tapi saya tidak punya modal!”

Sekali lagi, Anda masih menyempitkan pandangan Anda. Pandangan Anda hanya sebatas bahwa bisnis itu perlu modal uang saja. Rentangkan lagi pikiran kita. Tanyakan 2 pertanyaan ini: “Bagaimana saya memulai bisnis tanpa modal?” dan “Bagaimana saya mendapatkan modal?” Jika belum bisa menjawab pertanyaan ini, rentangkan kembali pikiran Anda.

Teruslah untuk melatih mengembangkan pandangan Anda. Perluas cakrawala Anda sehingga kita akan melihat bahwa jalan itu tidak satu. Semakin tinggi kita naik ke atas gunung atau gedung bertingkat, kita akan melihat bahwa sebenarnya banyak jalan yang bisa kita lalui. Jika kita tidak melihat banyak jalan, artinya, karena kita berdiam diri di bawah. Naiklah.
Sumber : www.motivasi-islami.com


Fadil Fuad Basymeleh : Selalu Ada Jalan Keluar

''Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.''
Hadits Rasulullah saw ini mengajarkan kepada setiap Muslim agar menjadi orang yang kuat, khususnya secara ekonomi atau finansial. Dengan kekuatan financial tersebut dia dapat berbuat banyak untuk umat.

Kebenaran hadits di atas diyakini betul oleh pendiri dan Chairman PT Zahir Internasional, Fadil Fuad Basymeleh.

Hadits Rasulullah itu telah mengilhami lelaki kelahiran Surabaya, 6 November 1971 untuk terjun ke dunia bisnis. ''Salah satu yang mendorong saya untuk berbisnis adalah hadits Nabi yang menyatakan bahwa tangan di atas lebih baik ketimbang tangan di bawah,'' ujarnya.

Menurut lelaki yang pernah mengenyam pendidikan di Fakultas Teknik Fisika ITB Bandung itu, dengan tangan di atas, maka orang yang bersangkutan bisa beramal, bersedekah dan berinfak sebanyak-banyaknya.

Menjadi pengusaha, kata lelaki yang tampangnya serius tapi humoris itu, tak ubahnya menjadi pemimpin. Sebagai pemimpin, ia mempunyai kekuatan untuk menegakkan amar ma'ruf dan melarang kemunkaran. ''Islam mengajarkan, setiap kamu adalah pemimpin. Kalau saya hanya jadi karyawan dan kemudian ada teman sekantor yang berbuat maksiat, saya kan tidak punya kekuatan untuk melarang. Tapi jika saya menjadi pemimpin maka saya bisa melarang hal itu. Kepemimpinan seseorang benar-benar diuji ketika menjadi pengusaha. Salah satu ujiannya, apakah pengusaha bersangkutan bisa menerapkan hukum-hukum Islam di kantornya,'' jelas pengusaha yang mengembangkan software akuntansi bermerek Zahir Accounting itu.

Hikmah lain menjadi seorang pengusaha, kata lelaki yang gemar bersedekah dan selalu mahabbah (menunjukkan cinta dan bakti) kepada orang tua, adalah kebebasan, termasuk dalam hal beribadah. ''Untuk saya, menjadi pengusaha identik dengan keleluasaan. Hal ini saya rasakan saat hendak menunaikan ibadah. Misalnya, shalat, saya bisa melakukannya secara berjamaah di masjid. Hal itu mungkin tidak selalu mudah bagi mereka yang berstatus karyawan,'' ungkapnya.

Fadil menjadikan kegiatan bisnisnya sebagai ibadah kepada Allah SWT. Dan dia pun yakin, Allah pasti memberikan pertolongan dan karunia-Nya. ''Kalau niatnya ibadah dan berbuat baik, pasti ada jalan dari Allah. Allah pasti menolong kita,'' tegasnya.

Sedekah dan Mahabbah
Salah satu kunci sukses Fadil dalam berbisnis adalah bersedekah dan cinta (mahabbah) pada orang tua. Hatinya mudah tersentuh mendengar kesulitan karyawan maupun orang-orang dhuafa dan anak-anak yatim. Ia tak segan-segan menyisihkan sebagian pendapatannya untuk membantu pendidikan anak-anak yatim maupun orang-orang lain yang membutuhkan, antara lain biaya pengobatan. ''Orang yang senang bersedekah, kelak akan dibalas tujuh kali lipat, 10 kali lipat, bahkan hingga 700 kali lipat. Itu adalah janji Allah. Dan itu janji Allah pasti ditepati,'' tandasnya.

Fadil juga sangat mencintai orang tua, terutama ibunya. Baginya, cinta pada orang tua ibarat jimat yang tidak bisa dilepaskan. ''Rasa cinta dan bakti kepada orang tua bisa menjadi sumber motivasi sekaligus pembuka pintu rezeki kita,'' tegas Fadil.

Jatuh bangun
Sebagai seorang pengusaha, Fadil pun mengalami jatuh bangun. Ia memulai bisnisnya sejak kuliah di ITB tahun 1991. Awalnya dia terjun ke bisnis setting dan lay out. Hingga pertengahan tahun 1997, bisnisnya berkembang pesat. Namun krisis ekonomi yang menghantam Indonesia semester kedua tahun 1997 telah menghempaskan bisnisnya. Namun, krisis itu pula yang menjadi titik balik dalam bisnisnya.

Ketika itu Fadil berpikir, untuk bisa mendapatkan kucuran kredit, biasanya bank atau kreditor mensyaratkan adanya laporan keuangan yang tersusun rapi. Dari situlah Fadil iseng membuat software akuntansi yang bisa membantunya mengambil keputusan bisnis dalam waktu cepat. Peranti lunak itu dijual kepada orang lain dan ternyata disukai. ''Sejak itu saya beralih ke bisnis software house. Saat itu usia saya 26 tahun,'' ujarnya.

Menurutnya, tidak ada istilah menyerah dalam bisnis. ''Sukses itu bukan pada hasil, tapi pada prosesnya. Sukses itu kan seberapa kuat kita bangkit kembali setelah jatuh. Yang penting, sesudah jatuh kita harus bangkit lagi dan selalu meminta bantuan kepada Allah SWT. Tugas kita adalah berikhtiar dan berdoa sekuat daya, sambil dibarengi dengan tawakkal kepada Allah SWT,'' papar Fadil Fuad Basymeleh. ika/yto
Sumber : www.republika.co.id


SELALU ADA JALAN KELUAR oleh Syaikh DR.Aidh Bin Abdullah Al Qarni

Suatu masalah itu jika menyempit, maka tabiatnya ia menjadi meluas. Jika tali ditarik keras-keras, ia akan terputus. Jika malam semakin gelap, pertanda akan muncul fajar. Itulah sunnah kehidupan yang sudah dan terus berlaku. Itulah hikmah yang pasti terjadi. Maka, relakanlah jiwamu untuk meridhoi kondisinya. Karena, setelah kehausan pasti akan ada air. Setelah musim semi akan datang musim penghujan.

Mungkin saja betapa banyak kesedihan yang engkau keluhkan. Tapi permudahlah urusanmu. Lapangkanlah pikiranmu. Tidakkah engkau membaca firman Allah SWT " Alam nasyrah laka sadrak...." ( Bukankah kami lapangkan dadamu ). Tidakkah engkau berbahagia karena di dunia ini masih terhampar banyak harapan. Di dunia ini masih banyak kemudahan.

Wahai yang berkeluh tentang banyak urusan. Lalu menjalani hidup serasa dalam kurungan. Sementara air matanya terus mengalir karena sedih. Sesungguhnya dalam pakaian Yusuf AS terdapat obat yang menyembuhkan kebutaan dua mata Ya'kub AS. Sesungguhnya dalam air dingin yang diguyur kesekujur tubuh, adalah kesembuhan bagi penyakit yang di derita Ya'kub AS.

Untuk rasa sakit, ada kesembuhan. Untuk penyakit, ada obat. Untuk haus, ada air. Untuk kesulitan, ada kelapangan. Dalam kesempitan, ada kebahagiaan. Dalam gelap, pasti akan ada cahaya terang. Api yang menghimpit Ibrahim Al Khalil, bisa menjadi mudah dan dingin. Lautan di hadapan Musa AS bisa terbelah dan digunakan untuk berjalan. Yunus Bin Matta AS, akhirnya keluar dari tiga gulita, karena kasih sayang Allah Al Jaliil (Yang Maha Mulia ). Rasulullah Al Mukhtar ( yang Terpilih ) pernah berada di dalam gua, dikelilingi oleh para kuffar. Hingga berkata Abu Bakar Ash Shiddiq ra, " Sesungguhnya orang-orang kafir hanya berjarak beberapa
jengkal. Kami khawatir bila terjadi kehancuran. " Berkata Rasul sang pemilik keyakinan dengan penuh ketegasan, " Sesungguhnya Allah bersama kita. Dia mendengarkan kita. Dia melindungi kita. Sebagaimana Dia telah menghimpun kita.

Katakanlah kepada orang yang tenggelam dalam putus asa dan telah terjatuh. Kepada orang yang telah patah arang dan terpuruk. Kepada orang yang ternodai pemahamannya dalam masalah taqdir. Bekerjalah dan beramallah, sesungguhnya Allah SWT justru menurunkan hujan setelah manusia putus ada terhadap hujan.

Adalah Bilal pernah terkapar di atas tanah tandus, tapi dialah yang kemudian menaiki Ka'bah Baitullah untuk mengumandangkan seruan adzan. Dialah yang memperdengarkan bumi dengan suara langit. Adalah Yusuf AS pernah lama terpenjara di balik jeruji besi. Tapi kemudian ia bisa menjadi seorang Raja Mesir setelah Al Aziz. Adalah Umar Bin Khattab ra seorang penggembala kambing di Mekkah. Lalu dialah orang yang bisa menebarkan keadilan dalam masa kekuasaannya. Lalu namanya terpahat di baju besi. Lalu dia yang memotong tali pelanggaran. Lalu dia yang suaranya menggelegar menghentak penguasa tiran.

Allah SWT pasti akan menciptakan kemudahan setelah kesulitan. Tidakkah engkau tahu, sesungguhnya pasti ada keadaan lain yang Allah berikan setelah kesulitan? Allah SWT yang mematahkan tali pengikat orang-orang yang terpenjara di jeruji para penguasa otoriter. Allah SWT yang akan menghapus air mata anak-anak yatim. Apakah engkau pernah melihat orang
faqir yang selamanya tidak mempunyai uang dan tidak bisa memenuhi kebutuhannya? Apakah engkau mendapati seorang tahanan selamanya berada di dalam penjara yang gelap? Tidak ada bencana yang terus menerus terjadi. Karena di sana ada Allah SWT Yang Maha Sendiri dan satu-satunya Tempat Meminta.

Siapapun yang melazimkan istighfar, maka Allah SWT akan menjadikan jalan keluar dari setiap kesulitannya. Allah SWT yang akan memberinya jalan penyesalan terhadap setiap kegundahannya. Laa HAULA Wa Laa Quwwata Illa Billah, tidak ada daya dan upaya kecuali Allah SWT. Dengan kalimat itu, segala beban mampu terpikul, semua kengerian bisa terlewati,
seluruh keadaan bisa lebih baik, lebih melapangkan pikiran dan menambahkan rasa ridho kepada Allah Al Jalal.

Beritakanlah kegembiraan kepada malam, dengan datangnya waktu subuh yang menyapu gelap dari puncak gunung-gunung. Beritakanlah kegembiraan kepada musim semi dengan turunnya limpahan air hujan hingga air itu masuk ke sela-sela pasir. Beritakanlah kegembiraan kepada orang faqir dengan harta yang bisa mengusir kematian.

Ketahuilah, di setiap kesulitan itu ada jeda. Di setiap kebutuhan itu ada pertolongan. Sesungguhnya Allah SWT menghilangkan bencana dengan ketulusan do'a dan kebersihan harapan. Ketahuilah, himpitan dan kesulitan itu menghilangkan kesombongan dan terus menerus mendorong kepada dzikir, syukur dan kewaspadaan berpikir. Maka tenangkanlah hatimu jika kegalauan menerpamu. Lapangkanlah dadamu jika kesulitan menyerangmu. Jangan
putus asa terhadap apa yang telah terjadi dan telah hancur. Ketahuilah, karena tidak ada sesuatu yang abadi selama alam semesta ini berputar.

Semoga kesulitan menjadi lebih ringan bagimu, dan musibah bisa memberikan kebaikan untukmu. Jika hidupmu telah terhimpit dan tak ada lagi alas an yang bisa engkau angkat. Kembalilah kepada Allah SWT. Ketahuilah bahwa kesulitan tak pernah berlangsung terus menerus. Allah SWT pasti memandangmu dengan pandangan kasih dan sayang. Karena dunia ini tidak berada dalam satu keadaan. Karena dunia ini berwarna-warni dan beragam bentuknya. Tidak ada kengerian yang tak pernah selesai. Belenggu akan terbuka dan ikatan akan terlepas. Bersabarlah, berdo'alah dan nantikanlah jalan keluar dari Allah SWT. Ketahuilah, sesungguhnya kesulitan itu akan mampu membuka kejernihan telinga dan mata, serta menajamkan pikiran.
Kesulitan bisa memberi hikmah dan pelajaran. Kesulitan mengajarkan kemampuan untuk memikul beban dan bertahan. Kesulitan menghapuskan dosa. Kesulitan memperbanyak pahala.

Maka, mintalah perlindungan dan pertolongan Allah SWT. Setiap musibah itu mempunyai tujuan. Berapa kali kita merasa takut, lalu kita berdo'a dan meminta kepada Allah SWT. Kemudian Allah SWT menyelamatkan dan melindungi kita. Berapa kali kita di lilit lapar, lalu Allah memberi makan dan minum untuk kita. Berapa kali kita diterpa kebimbangan dan
keresahan, lalu Allah memberikan kebahagiaan dan kesenangan. Berapa kali kita terjerat dan kita hampir terjatuh dalam kehancuran. Kemudian Allah SWT memberikan jalan untuk bangkit dan berjalan.

Ketahuilah, engkau berhubungan dengan Yang Maha Lembut terhadap hamba-Nya. Yang Terkenal dengan Pemberiannya. Yang Maha Meberi untuk kebahagiaan hamba-Nya.Yang Maha Kuasa atas segala keinginan-Nya.


Sumber: http://wirausahapesantren.blogspot.com/2010/02/selalu-ada-jalan-keluar.html

Friday, December 31, 2010

From Bali with Allah Love (My Adventure Trip)

Bismillaah.. Smg perjalanan ini bisa meringankan beban, menyembuhkan hati, dan membangkitkan ghiroh kembali. Aamiin ya Allaah..

30 Des 2010- 07 Jan 2011, Trip to Bali.
Perdana naik Bus menyebrang ke pulau Jawa, pegel euy.. tapi seru jg hehe. Rute Palembang - Jkt - Bdg - Jogja - Suramadu - Bali - back to Jkt. Kembali melanjutkan langkah, kuliah, bekerja, dan.. bangun masa depan mulai dari nol lagi. Back to zero to be a winner!. Mudahkanlah langkah hamba selanjutnya ya Allaah. Aamiin ya Robbal'aalamiin..

Thursday, December 30, 2010

Rasakan Jiwaku

Trauma dan luka, ibarat sahabat karib. Biasanya, setelah luka akan ada trauma, seperti seorang yg terkena benda tajam lalu berdarah. Ia akan merasakan sakit dan untuk menyembuhkannya perlu waktu tergantung seberapa parah lukanya. Aku, luka dan trauma. Terkadang saat mata ini terjaga dari tidur, saat ku hela nafas pertama dan teringat semua, hanya sesak yg terasa. Rabb.. alangkah baiknya jika aku tidak terbangun lagi selamanya agar tak teringat lg semua itu. Rasakan perih jiwaku. Adakah kau jg merasakannya?

Biarlah Takdir itu Berakhir Indah 2

Cinta Menuntut Pengorbanan

Kasih manusia kadang bermusim
Sayang manusia tiada abadi
Kasih Tuhan, tiada bertepi
Sayang Tuhan, janji-Nya.. pasti
(Kasih Sayang by Raihan)

Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abdullah bin Amr bin ‘Ash bahwa dia mendengar Rasulullah saw bersabda, ”Sesungguhnya hati-hati bani Adam seluruhnya berada diantara dua jemari dari jari jemari ar Rahman bagaikan satu buah hati yang Dia swt memperlakukannya sekehendak-Nya.” Didalam riwayat Ibnu Majah disebutkan,”Tidaklah ada satu hati kecuali dia berada di antara dua jari dari jari jemari ar Rahman, jika Dia berkehendak maka Dia akan meluruskannya dan Jika Dia berkehendak maka Dia akan menyimpangkannya.”

Seorang teman menulis di status Facebooknya,

Cinta adalah gagasan dan komitmen jiwa tentang bagaimana membuat kehidupan orang yang kita cintai menjadi lebih baik. Jika kamu mencintai seseorang dengan tulus, ukuran ketulusan dan kesejatian cintamu adalah apa yang kamu berikan padanya untuk membuat kehidupannya menjadi lebih baik. Maka kamu adalah air. Maka kamu adalah matahari. Ia tumbuh dan berkembang dari siraman airmu. Ia besar dan berbuah dari sinar cahayamu. Dia selalu menginginkan yang dicintainya terus tumbuh menjadi baik... baik.. dan terus lebih baik.

Begitulah.. Alhamdulillaah.. akhirnya saya bisa memaknai apa itu cinta yang hakiki. Bukan sekedar karena ketampanan atau kecantikan wajah semata. Namun lebih dalam dari itu, yaitu jika kita mampu membawa kehidupan orang yang kita cintai menjadi lebih baik. Ya Alhamdulillaah.. syukurku tak henti-hentinya terhatur, meski bagai menjadi korban karena harus mengalami sakit hati berkali-kali, namun Allah telah mengamanahiku tugas itu. Tidak semua orang diamani tugas seperti itu, berat dan berliku. Itu berarti Allah sudah mengukur batas kekuatanku untuk menghadapi ujian itu. Sebuah kehormatan yang tidak setiap akhwat mendapatkannya. Alhamdulillaah.. aku telah membantu saudaraku tersibghohi warna-warna Ilahy. Meski pun tak jadi, kini dia mengikuti kajian pekanan sudah hampir setahun.

Alhamdulillah.. saya bersyukur dan tetap mengambil sisi positifnya. Meskipun tidak jadi, secara tidak langsung saya sudah membantunya melakukan persiapan untuk menikah. Bisa jadi, ia harus bertemu saya dulu sebelum bertemu jodohnya. Ya.. mungkin jika tidak bertemu saya, sampai saat ini ia belum cukup persiapan untuk menikah karena karakternya yang seperti itu. Mungkin juga jika bukan bertemu dengan saya, belum tentu ada perempuan lain yang sanggup tahan menunggunya melakukan persiapan selama satu setengah tahun. Lama dan berlarut. Tak mengapa.. walau pun tak jadi, saya sudah membantu saudara. Alhamdulillah.. sekarang ia sudah cukup persiapan, antar-antaran, mahar, dan sedikit tabungan.

Terima kasih.. melalui engkau, aku mengenal apa itu mencintai dan dicintai. Terima kasih.. melalui engkau, aku mengenal apa itu sakit hati bertubi-tubi. Meskipun hati itu layaknya barang yang terkorban karena harus menanggung perih yang bertubi, namun cinta tetaplah cinta bukan?, ia memegang perannya sendiri. Peran membantu saudara menjadi lebih baik lagi. Semoga kita istiqomah di jalan ini. Aamiin..

Ia Tak Mencintaiku
Aku belajar tentang cinta. Bahwa cinta itu menuntut pengorbanan. Namun aku terlambat menyadari, bahwa cintanya padaku tidaklah sekokoh pohon yang akarnya menghujam ke dasar bumi. Ya.. manusia memang mudah tertipu, seperti aku, yang kini menyadari bahwa mungkin.. aku telah tertipu.

Terkadang hati itu terlalu dalam sampai kita sendiri tak sanggup menyelaminya. Astaghfirullah.. ampunilah kesalahan-kesalahan kami ya Allah.. ampunilah hamba atas kekhilafan ini. Ya Muqollibal Qulub Tsabbit Qolbi ‘ala Diinika (Wahai (Allah) Yang Membolak-balikkan hati, kokohkanlah hatiku diatas agamamu). Saya tak boleh begini. Saya harus bangkit dan benar-benar memulai segalanya dari nol lagi, terutama pekerjaan. Jika melihat pengorbanan yang saya lakukan demi ta’aruf ini, pastilah hanya su’udzhon yang tersisa. 3 kali kehilangan pekerjaan demi untuk mempersiapkan semuanya. Kini saya harus memulai segalanya dari awal lagi. Memulai hidup yang baru dengan semangat baru pula. Ah.. semoga semua berakhir dengan indah. Terima kasih untuk semuanya.

Wallahua’lam bishshawwab.

Ya Allah.. karuniakanlah kepada hamba suami (jodoh) yang terbaik di sisi-Mu, suami yang menjadi sahabatku dalam urusan agama, dunia, dan akhirat. Aamiin..

Ya Allah warnai hidupku dengan selalu rindu padaMu, rindu pada RasulMu, rindu pada hamba-hambaMu yang Kau cintai, rindu untuk bertemu di syurga bersama para Nabi dan Syuhada.

Semoga Allah selalu mengikatkan dalam tali ikatan ukhuwah yang tidak akan pernah terputus hingga Allah mempertemukan kita di JannahNya... Rabb, eratkan ukhuwah di antara kami, tarbiyahkan kami dengan kelembutan dan kasih sayang Mu. Yakinkan kami pada jihad di jalan Mu. Selamatkan kami dengan keikhlasan amal padaMu. Jadikan kami ahli syurgaMu.

PadaMu Rabbi, ajarkan kami bagaimana berpikir sebelum bicara, untuk menerima sebelum menuntut, untuk tersenyum disaat kecewa, untuk tenang dikala gundah, untuk diam dikala gaduh dan bersahaja di atas kebenaran.

Rabb, ajari kami tesenyum meski berat pundak memikul beban, ajari kami berlapang dada meski banyak hal yang menyesakkan jiwa, ajari kami rendah hati karena Kaulah yang Maha Tinggi, bantu kami bersabar ya Rabb, sungguh beratnya perjuangan ini tak sebanding dengan manisnya surgaMu.

Aamiin Ya Allaah Ya Robbal’aalamiin.
Potongan Cerita Hati - Fithri Ariani

Biarlah Takdir itu Berakhir Indah

Semoga pesan ini bisa menyadarkan dan membangunkan ruhiyah yang telah lama tertidur lelap.

Bismillaahirrohmaanirrohiiim..
Assalamu'alaikum wr wb ya akhi fillah.. Semoga Allah senatiasa melimpahkan rahmatNya. Aamiin..

Allah mempertemukan kita di jalan-Nya, hendak menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang lebih baik. Bukan hanya sebuah kata yang bermakna sepele bernama "Ini sekedar Takdir", tapi lebih mendalam dari itu. Engkau ditakdirkn bertemu denganku, dan aku ditakdirkan bertemu denganmu. Dalam pertemuan-pertemuan itu, Allah hendak menitipkan hikmah kepadaku dan juga kepadamu. Engkau saudara yang pernah Allah takdirkan mengisi jalan hidupku untuk mengajarkan banyak hal, bersamamu aku belajar tentang memaknai dan menghadapi ujian, tentang penjagaan diri dan hati, tentang penjagaan keimanan, tentang memaknai keikhlasan, kesabaran, ketawadhu'an, dan banyak kebaikan lainnya. Walau pun wujud kehadiranmu adalah "ujian", namun Allah tidak pernah bermaksud memberi keburukan. Ya.. tak ada yang hendak Allah sampaikan selain kebaikan, meski aku bagai menjadi korban. Disana kita bertemu karena Allah, dan disana pula kita berpisah karena Allah.


Ia hendak mengajarkan kita tentang kebijaksanaan, keimanan, dan tentang keistiqomahan dalam menapaki jalan taqwa. Seperti menyusun bidang puzzle yang berantakan, lalu menjadikannya gambar yang indah menawan elok dipandang. Seperti mengumpulkan helai daun yang berserakan, lalu menjadikannya pupuk yang mengandung manfaat kembali ke tanah sebagai unsur hara yang menyuburkan. Begitulah Ia takdirkan kita dalam pertemuan dan perpisahan. Semua mengandung kebaikan dan hikmah untuk kita ambil manfaatnya.

Ketika kita membahas makna pertemuan, pastilah setiap insan tidak mengharapkan perpisahan. Ketika dua jiwa bertemu dalam kecocokan, mereka pastilah tidak menginginkan perpisahkan. Ketika kita membahas makna perpisahan, yakinlah dalam perpisahan tidak ada kesia-siaan. Kita bertemu dan berpisah karena Allah. Dahulu, setahun yang lalu, engkau pernah mengatakannya.

Dengan segala kesederhanaanmu, dan dengan segala kesempurnaan dan ketidaksempurnaanmu yang telah Allah ciptakan. Disana.. aku dipertemukan pada sebuah pilihan. Tentang makna keseriusan yang harus diperjuangkan, bagai seorang pejuang yang berjuang di medan laga, medan itu bernama dunia - akhirat. Karena "perkara" kita bukanlah perkara sederhana yang sebatas kata "uji coba", lalu selesai begitu saja ketika uji coba yang kau lakukan seakan gagal karena ternyata aku tak sesempurna inginmu, tak sebaik bayanganmu. Perkara kita adalah perkara dunia - akhirat, perkara yang kelak akan dipertanggungjawabkan di pengadilan tertinggi akhirat. Dimana kita akan bertemu kembali di hadapan Sang Penggenggam Alam Semesta, dan disana kita akan ditanya tentang apa yang pernah menimpa kita. Kau akan ditanya, aku pun demikian. Lalu, adakah hutang yang harus kita lunasi di dunia sebelum kita kelak bertemu kembali di akhirat lalu dipertanyakan semua perkara kita?. Pernahkan hal itu terbesit di hatimu?. Di mata saya, kau tetap saudara terbaik yang pernah Allah hadirkan untuk membawa pelajaran.

Seorang sahabat pernah mengatakan kepadaku dalam testimoninya tentang makna "Keseriusan".
"Jika seseorang itu bersungguh-sungguh dan serius, pasti akan tetap jadi. Apa pun akan ia lakukan, Gunung kan di daki, lautan kan di sebrangi".

Namun ternyata kita menerjemahkan dan mengaplikasikannya dengan sudut pandang yang berbeda. Perbedaan itu seakan tak bermuara karena dinding "kesungkanan" yang kita bangun terlalu tinggi dan seakan tak mampu tuk kita robohkan bersama. Benarkah?, mari telisik hati kita masing-masing. Ada ribuan dan bahkan mungkin milyaran "sungkan" yang tersimpan.

Saudaraku.. apakah kau pernah merasa sedih ketika sesuatu yang telah lama kau perjuangkan tiba-tiba kandas hanya karena kesalahfahaman?. Hingga saat ini aku masih tak bisa memahami dan mengerti seonggok hati yang bernama... Mungkin ilmu tafahumku padamu belumlah mencapai nilai "great" atau "master" sehingga menyabet gelar "cumloude". Kita seperti sepasang mahasiswa yang belajar di kampus yang bernama "Belajar Saling Memahami". Terus menerus.. tiada henti hingga semua berakhir pun kita masih belajar saling memahami. Tapi adakah kau memahami hati yang terlanjur memerih?

Mungkinkah bisa menuntut sebuah kejujuran dan hati yang luka bertubi-tubi?. Luka yang terus menerus tergores tanpa sadar?. Jujur.. ada rasa sedih bercampur syukur memenuhi ruang hati, karena sudah lama aku berjuang menerima apa adanya karunia Allah ini dengan mengenyampingkan keinginanku sendiri. Berusaha untuk menerima apa adanya yang hendak Allah beri dan ikhlas menggapainya sebagai karunia Allah tuk dijaga dan dirawat bersama memulai dari nol. Perih memang.. namun hati sudah tak ingin lagi bersedih. Mungkin inilah yang terbaik bagi kita.

Inilah akhir kisah panjang perkenalan kita. Ingat-ingatlah.. bahwa ini yang pertama bagiku, dan yang kesekian bagimu. Ya.. perjalanan panjang yang melelahkan. Satu setengah tahun sejak Juli 2009 – Desember 2010. Dengan niat ingin menyempurnakan ibadah meraih ridho Allah dan saling membantu menggenapkan setengah dien, serta memudahkan niat orang yang berniat baik. Mungkin, tidak ada akhwat yang kuat untuk bersabar melalui ta’aruf seperti itu. Panjang dan berlarut-larut hanya karena ingin memudahkan dan membantumu mematangkan persiapan. Apa pernah terbesit di hatimu tentang itu?

Alhamdulillaah.. kini semua tinggal cerita yang mungkin kelak akan kau banggakan pada orang lain, seperti kata yang pernah kau ungkapkan dulu ketika aku bertanya mengapa, dan kata "Bangga" itu mengalir begitu saja dari lisanmu seperti larutan asam pekat. Silahkan.. nikmatilah dan berbahagialah dengan kebanggaan itu.

Saudaraku.. semoga Allah mempertemukan kita dalam muhasabah yang sama. Muhasabah yang berisi penyesalan-penyesalan karena ketidaksabaran dan kelemahan iman kita. Muhasabah yang berisi penyesalan karena semua berakhir bak sia-sia, muhasabah yang berisi pemaafan dan pemakluman kondisi ketika semua itu terjadi. Apa kau bisa merasakan apa yang kurasakan ketika semua itu terjadi?, bayangkanlah.. jika ayahmu akhirnya sakit karena menunggu-nunggu janji dari seseorang yang hendak menikahi putrinya yang tak kunjung mengerti bahwa rencana akan hangus dan usang dimakan waktu, ketika waktu hanya bersisa amarah, kesal, dan gregat karena lamban dan santaimu. Atau coba hayati jika kau berada di posisi seorang ayah yang hendak mengamanahkan putrinya kepada seorang laki-laki yang dia harapkan bisa menjalankah amanah menggantikan posisinya sebagai ayah yang menjaga, melindungi, membahagiakan, dan menafkahi?. Lalu kemudian engkau sebagai ayah akhirnya sakit karena menahan sakit sang putri yang tak rela ia lepas pada seorang yang tidak pandai memahami sebuah kondisi?. Ya.. cobalah rasakan apa yang ku rasa ketika ujian itu terjadi. Semoga Allah membuka hatimu. Semoga Allah menghapus amarah, benci, dan sakit hati yang masih tersisa dengan rindu, cinta dan kasih mendalam karena Allah. semoga Allah mengampuniku dan mengampunimu. Aamiin..