Tuesday, May 17, 2011

Cinta Sejati: "Pacaran Dulu atau Nikah Dulu?"

Meraih cinta sejati dalam keharmonisan suami isteri merupakan dambaan setiap pasangan. Seorang suami mendambakan isteri yang akan mencintainya dengan sepenuh hati, begitu pun sebaliknya. Keduanya menginginkan agar cintanya langgeng sampai akhir hayat.

Masalahnya, bisakah kita mendapatkan cinta seperti itu kalau masing-masing pasangan tidak mengenal lebih jauh siapa calon pasangannya. Menurut mereka, kenal nama, wajah, keluarga calon pasangan saja belum cukup. Tapi, harus kenal lebih jauh bagaimana karakter asli calon pasangannya, agar tidak ‘kecele’ di kemudian hari.

Pemikiran inilah yang akhirnya ‘menghalalkan’ begitu banyak orang untuk melakukan pendekatan. Biasanya orang menyebut dengan pacaran. Ada yang merasa belum cukup sebulan, setahun, dua tahun, hingga sepuluh tahun. Lebih repot lagi ketika ujung hubungan ini berakhir pada PHC atau pemutusan hubungan cinta. Alih-alih mendapatkan rasa saling memahami, justru yang ada menjadi saling benci dan ancam.

Pemikiran yang terlihat positif ini, sebenarnya sangat mudah untuk didompleng berbagai kepentingan. Utamanya adalah setan untuk membejatkan nafsu manusia, baik pria maupun wanita. Sehingga, pacaran menjadi seperti ‘legitimasi sosial’ pemuasan nafsu syahwat pria dan wanita. Pada akhirnya, karena sudah sangat membudaya, pacaran menjadi kelaziman hingga keharusan untuk calon pasangan suami isteri.

Terdengar menjadi sangat aneh ketika pria dan wanita memasuki gerbang pernikahan tanpa melalui pacaran sama sekali. “Kayak beli kucing dalam karung,” begitu kira-kira ungkapan sebagian orang Betawi.

Pertanyaannya, kalau pacaran memang dilarang Islam, apakah mungkin bisa terjalin cinta sejati antara suami isteri, padahal mereka tidak saling kenal lebih jauh jatidiri masing-masing. Apakah tidak akan terjadi penyesalan di kemudian hari. Kalau ketidakcocokan di saat pacaran kan bisa diputus, lalu gimana kalau ketidakcocokan ketika sudah menikah, apalagi ketika sudah punya anak?

Logika-logika awam seperti ini kerap muncul dan menjadi ganjalan seorang lajang muslim untuk menapaki gerbang pintu pernikahan. “Bisa gak sih nikah tanpa melalui pendekatan atau pacaran?”

Sepintas, logika awam seperti itu mengandung sebuah kebenaran: Hubungan pernikahan adalah hubungan yang sangat spesial antara pria dan wanita yang tidak punya batasan waktu, karena itu mesti dilakukan dengan hati-hati, dan melalui pendekatan yang dalam. Tapi lihatlah, bagaimana akhir dari sepak terjang kaum selebritis yang gonta-ganti pasangan karena ingin mendamba rumah tangga yang harmonis. Kebanyakan dari rumah tangga mereka hanya seumur jagung.

Perhatikanlah apa yang disampaikan Yang Maha Pencipta dan Maha Tahu terhadap ciptaan-Nya. Dalam Alquran, Allah swt. memberikan sebuah rumusan tentang menggapai cinta yang baik dan benar antara pria dan wanita.

Dalam Surah Ar-Rum ayat 21, Allah swt. berfirman.
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”

Perhatikanlah ayat itu. Allah swt memberikan isyarat kepada kita bahwa jodoh atau pernikahan merupakan sebuah pintu untuk bisa mendapatkan ketenangan, cinta, dan kasih sayang. Bukan sebaliknya, memburu ketenangan, cinta, dan kasih sayang terlebih dahulu, baru kemudian memasuki pintu pernikahan.

Hal yang sebaiknya kita pahami adalah bahwa cinta yang didasari pada faktor biologis seperti cantik atau ganteng, cocok dan menarik karena hal-hal yang terlihat dari fisik seseorang, begitu sangat relatif. Penilaian mudah berubah-ubah tergantung situasi dan kondisi.

Ketika seorang lelaki dan wanita terkondisikan dalam sebuah ruangan secara rutin, akan muncul rasa ketertarikan. Padahal boleh jadi, keduanya sudah punya calon masing-masing di tempat lain. Ketertarikan yang memunculkan cinta pria dan wanita bisa berubah tergantung keadaan yang membentuknya.

Karena itu, ketika seorang pria dan wanita yang sudah terikat dalam pernikahan, akan terkondisikan secara alamiah untuk saling memunculkan rasa ketertarikan dan cinta. Pada situasi dan kondisi ini, ketertarikan dan cinta mereka akan lebih kuat karena didorong oleh tanggung jawab atau amanah. Bandingkan dengan pengkondisian yang dilakukan pada saat pacaran: tanpa beban, bahkan mungkin sekadar iseng, dan coba-coba.

Hal lain yang bisa dipahami dari ayat di atas adalah meraih cinta dengan cara pernikahan hanya bisa dilakukan oleh mereka yang punya ikatan keimanan yang bagus kepada Allah swt. Allah mengawali ayat ini dengan menyebut tanda-tanda kebesaran-Nya yang hanya bisa ditangkap oleh mereka yang punya kacamata iman. Tanpa kacamata ini, seorang pria atau wanita hanya akan saling memandang dan menilai dengan kacamata nafsu syahwat saja.

Ketika pintu pernikahan sudah di depan mata, ketika kemantapan untuk mengarungi bahtera rumah tangga sudah begitu mantap, selebihnya adalah tawakal kepada pemilik bahtera yang sebenarnya, Allah swt. Insya Allah, keraguan terhadap hal-hal yang akan mengurangi cinta dari calon pasangan kita, bisa berupa wajah, penampilan, status sosial, dan lain-lain, akan tergantikan dengan keberkahan lain.
Allah swt. menjanjikan itu dalam firman-Nya di Surah An-Nisa ayat 19.
فَإِن كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَن تَكْرَهُواْ شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

 “…bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.”

Dari bahasan di atas, Insya Allah, tidak muncul lagi pertanyaan yang kerap menyesatkan proses pernikahan itu sendiri: “Pacaran dulu? Atau nikah dulu?”(muhammadnuh@eramuslim.com)

Sunday, May 15, 2011

INDAHNYA PERNIKAHAN


Menikah … Bukan sekedar pesta yang riuh oleh kerabat, kolega dan relasi penting.  Menikah.. bukan ajang pamer tamu kehormatan, Panggung megah, dekorasi wah, dan pesta yang meriah.  Menikah... Bukan sekedar membentuk tim kerja untuk menghasilkan uang untuk membeli segala jenis harta yang melimpah. Menikah... Bukan sekedar sarana belajar memasak dan menjahit bagi istri dan sarana belajar membetulkan peralatan listrik bagi suami. Menikah bukan sekedar menyamakan hobi dan kegemaran— Sehingga sampai ada adagium humor: Kalau dua-duanya doyan musik, berarti ada gejala bisa langgeng. Kalau sama-sama suka seafood berarti masa depan cerah. (That simple ?!). Menikah bukan sekedar itu… menikah berbeda dengan perumpamaan sepasang sandal, yang hanya punya aspek kiri dan kanan,  menikah adalah persatuan dua manusia, pria dan wanita. Dari anatomi saja sudah tidak sebangun, apalagi urusan jiwa dan hatinya. So, menikah adalah ...   Menyatukan dua isi kepala, dua ide, dua impian menjadi sesuatu yang besar - Bermakna - tak hanya untuk kita dan pasangan, dan anak, namun juga untuk orang lain di sekitar . 
 
Menikah adalah... memutuskah berlabuh di satu pantai, ketika ratusan kapal pesiar gemerlap memanggil-manggil   menikah adalah cara meraih sempurnanya agama, hingga menikah dikatakan sempurna menjalani setengah din. Menikah adalah... keberanian untuk menerima segala kelebihan dan kekurangan pasangan, memupuk toleransi tingkat tinggi, memaklumi pasangan apa adanya . Menikah membutuhkan kelapangan hati untuk melebur kata ‘aku’ dan ‘kamu’ menjadi ‘kita’. Menikah adalah proses pendewasaan seseorang untuk lebih berani mengambil sikap dan memutuskan. Bahkan untuk urusan terkecil sekalipun.
 
Menikah adalah kerjasama hebat untuk bergerak, bersinergi untuk mendapatka tiket surga. Menikah adalah universitas kehidupan dimana cobaan materi, hati, iman adalah ujiannya. Menikah adalah belajar memaafkan, dan belajar berkata “baiklah, itu salahku, akan kucoba memperbaikinya”. Menikah Adalah belajar berkomunikasi dua arah, dimana kita tidak bisa berbicara :”kamu harus mengerti keinginanku!’, namun harus berani bicara, “aku memahami kamu, aku memahami apa yang kamu mau dan cita-citakan, mari bersama membangunnya”
 
Menikah... Menikah mengajari kita begitu banyak banyak tentang hidup, tentang bagaimana mencintai Allah dengan sempurna melalui kecintaan kita pada pasangan...   Semoga setiap kita meraih pernikahan berkah...    
 
Sumber: Anonim
 
Semoga disegerakan-Nya setengah diin ini tergenapkan, Allahumma Aamiin..

Menikah, Kenapa Takut?

Oleh: DR. Amir Faishol Fath


Kita hidup di zaman yang mengajarkan pergaulan bebas, menonjolkan aurat, dan mempertontonkan perzinaan. Bila mereka berani kepada Allah dengan melakukan tindakan yang tidak hanya merusak diri, melainkan juga menghancurkan institusi rumah tangga, mengapa kita takut untuk mentaati Allah dengan membangun rumah tangga yang kokoh? Bila kita beralasan ada resiko yang harus dipikul setelah menikah, bukankah perzinaan juga punya segudang resiko? Bahkan resikonya lebih besar. Bukankankah melajang ada juga resikonya?

Hidup, bagaimanapun adalah sebuah resiko. Mati pun resiko. Yang tidak ada resikonya adalah bahwa kita tidak dilahirkan ke dunia. Tetapi kalau kita berpikir bagaimana lari dari resiko, itu pemecahan yang mustahil. Allah tidak pernah mengajarkan kita agar mencari pemecahan yang mustahil. Bila ternyata segala sesuatu ada resikonya, maksiat maupun taat, mengapa kita tidak segera melangkah kepada sikap yang resikonya lebih baik? Sudah barang tentu bahwa resiko pernikahan lebih baik daripada resiko pergaulan bebas (baca: zina). Karenanya Allah mengajarkan pernikahan dan menolak perzinaan.

Saya sering ngobrol, dengan kawaan-kawan yang masih melajang, padahal ia mampu untuk menikah. Setelah saya kejar alasannya, ternyata semua alasan itu tidak berpijak pada fondasi yang kuat: ada yang beralasan untuk mengumpulkan bekal terlebih dahulu, ada yang beralasan untuk mencari ilmu dulu, dan lain sebagainya. Berikut ini kita akan mengulas mengenai mengapa kita harus segera menikah? Sekaligus di celah pembahasan saya akan menjawab atas beberapa alasan yang pernah mereka kemukakan untuk membenarkan sikap.

Menikah itu Fitrah

Allah Taala menegakkan sunnah-Nya di alam ini atas dasar berpasang-pasangan. Wa min kulli syai’in khalaqnaa zaujain, dan segala sesuatu kami ciptakan berpasang-pasangan (Adz-Dzariyaat: 49). Ada siang ada malam, ada laki ada perempuan. Masing-masing memerankan fungsinya sesuai dengan tujuan utama yang telah Allah rencanakan. Tidak ada dari sunnah tersebut yang Allah ubah, kapanpun dan di manapun berada. Walan tajida lisunnatillah tabdilla, dan kamu sekali-kali tidak akan mendapati perubahan pada sunnah Allah (Al-Ahzab: 62). Walan tajida lisunnatillah tahwiila, dan kamu tidak akan mendapati perubahan bagi ketetapan kami itu. (Al-Isra: 77)

Dengan melanggar sunnah itu berarti kita telah meletakkan diri pada posisi bahaya. Karena tidak mungkin Allah meletakkan sebuah sunnah tanpa ada kesatuan dan keterkaitan dengan sIstem lainnya yang bekerja secara sempurna secara universal.

Manusia dengan kecanggihan ilmu dan peradabannya yang dicapai, tidak akan pernah mampu menggantikan sunnah ini dengan cara lain yang dikarang otaknya sendiri. Mengapa? Sebab, Allah swt. telah membekali masing-masing manusia dengan fitrah yang sejalan dengan sunnah tersebut. Melanggar sunnah artinya menentang fitrahnya sendiri.

Bila sikap menentang fitrah ini terus-menerus dilakukan, maka yang akan menanggung resikonya adalah manusia itu sendiri. Secara kasat mata, di antara yang paling tampak dari rahasia sunnah berpasang-pasangan ini adalah untuk menjaga keberlangsungan hidup manusia dari masa ke masa sampai titik waktu yang telah Allah tentukan. Bila institusi pernikahan dihilangkan, bisa dipastikan bahwa mansuia telah musnah sejak ratusan abad yang silam.

Mungkin ada yang nyeletuk, tapi kalau hanya untuk mempertahankan keturunan tidak mesti dengan cara menikah. Dengan pergaulan bebas pun bisa. Anda bisa berkata demikian. Tetapi ada sisi lain dari fitrah yang juga Allah berikan kepada masing-masing manusia, yaitu: cinta dan kasih sayang, mawaddah wa rahmah. Kedua sisi fitrah ini tidak akan pernah mungkin tercapai dengan hanya semata pergaulan bebas. Melainkan harus diikat dengan tali yang Allah ajarkan, yaitu pernikahan. Karena itulah Allah memerintahkan agar kita menikah. Sebab itulah yang paling tepat menurut Allah dalam memenuhi tuntutan fitrah tersebut. Tentu tidak ada bimbingan yang lebih sempurna dan membahagiakan lebih dari daripada bimbingan Allah.

Allah berfirman fankihuu, dengan kata perintah. Ini menunjukan pentingnya hakikat pernikahan bagi manusia. Jika membahayakan, tidak mungkin Allah perintahkan. Malah yang Allah larang adalah perzinaan. Walaa taqrabuzzina, dan janganlah kamu mendekati zina (Al-Israa: 32). Ini menegaskan bahwa setiap yang mendekatkan kepada perzinaan adalah haram, apalagi melakukannya. Mengapa? Sebab Allah menginginkan agar manusia hidup bahagia, aman, dan sentosa sesuai dengan fitrahnya.

Mendekati zina dengan cara apapun, adalah proses penggerogotan terhadap fitrah. Dan sudah terbukti bahwa pergaulan bebas telah melahirkan banyak bencana. Tidak saja pada hancurnya harga diri sebagai manusia, melainkan juga hancurnya kemanusiaan itu sendiri. Tidak jarang kasus seorang ibu yang membuang janinnya ke selokan, ke tong sampah, bahkan dengan sengaja membunuhnya, hanya karena merasa malu menggendong anaknya dari hasil zina.

Perhatikan bagaimanan akibat yang harus diterima ketika institusi pernikahan sebagai fitrah diabaikan. Bisa dibayangkan apa akibat yang akan terjadi jika semua manusia melakukan cara yang sama. Ustadz Fuad Shaleh dalam bukunya liman yuridduz zawaj mengatakan, “Orang yang hidup melajang biasanya sering tidak normal: baik cara berpikir, impian, dan sikapnya. Ia mudah terpedaya oleh syetan, lebih dari mereka yang telah menikah.”

Menikah Itu Ibadah

Dalam surat Ar-Rum: 21, Allah menyebutkan pentingnya mempertahankan hakikat pernikahan dengan sederet bukti-bukti kekuasaan-Nya di alam semesta. Ini menunjukkan bahwa dengan menikah kita telah menegakkan satu sisi dari bukti kekusaan Allah swt. Dalam sebuah kesempatan Rasulullah saw. lebih menguatkan makna pernikahan sebagai ibadah, “Bila seorang menikah berarti ia telah melengkapi separuh dari agamanya, maka hendaknya ia bertakwa kepada Allah pada paruh yang tersisa.” (HR. Baihaqi, hadits Hasan)

Belum lagi dari sisi ibadah sosial. Dimana sebelum menikah kita lebih sibuk dengan dirinya, tapi setelah menikah kita bisa saling melengkapi, mendidik istri dan anak. Semua itu merupakan lapangan pahala yang tak terhingga. Bahkan dengan menikah, seseorang akan lebih terjaga moralnya dari hal-hal yang mendekati perzinaan. Alquran menyebut orang yang telah menikah dengan istilah muhshan atau muhshanah (orang yang terbentengi). Istilah ini sangat kuat dan menggambarkan bahwa kepribadian orang yang telah menikah lebih terjaga dari dosa daripada mereka yang belum menikah.

Bila ternyata pernikahan menunjukkan bukti kekuasan Allah, membantu tercapainya sifat takwa. dan menjaga diri dari tindakan amoral, maka tidak bisa dipungkiri bahwa pernikahan merupakan salah satu ibadah yang tidak kalah pahalanya dengan ibadah-ibadah lainnya. Jika ternyata Anda setiap hari bisa menegakkan ibadah shalat, dengan tenang tanpa merasa terbebani, mengapa Anda merasa berat dan selalu menunda untuk menegakkan ibadah pernikahan, wong ini ibadah dan itupun juga ibadah.

Pernikahan dan Penghasilan

Seringkali saya mendapatkan seorang jejaka yang sudah tiba waktu menikah, jika ditanya mengapa tidak menikah, ia menjawab belum mempunyai penghasilan yang cukup. Padahal waktu itu ia sudah bekerja. Bahkan ia mampu membeli motor dan HP. Tidak sedikit dari mereka yang mempunyai mobil. Setiap hari ia harus memengeluarkan biaya yang cukup besar dari penggunakan HP, motor, dan mobil tersebut. Bila setiap orang berpikir demikian apa yang akan terjadi pada kehidupan manusia?

Saya belum pernah menemukan sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa Rasulullah saw. melarang seorang sahabatnya yang ingin menikah karena tidak punya penghasilan. Bahkan dalam beberapa riwayat yang pernah saya baca, Rasulullah saw. bila didatangi seorang sahabatnya yang ingin menikah, ia tidak menanyakan berapa penghasilan yang diperoleh perbulan, melainkan apa yang ia punya untuk dijadikan mahar. Mungkin ia mempunyai cincin besi? Jika tidak, mungkin ada pakaiannya yang lebih? Jika tidak, malah ada yang hanya diajarkan agar membayar maharnya dengan menghafal sebagian surat Alquran.

Apa yang tergambar dari kenyatan tersebut adalah bahwa Rasulullah saw. tidak ingin menjadikan pernikahan sebagai masalah, melainkan sebagai pemecah persoalan. Bahwa pernikahan bukan sebuah beban, melainkan tuntutan fitrah yang harus dipenuhi. Seperti kebutuhan Anda terhadap makan, manusia juga butuh untuk menikah. Memang ada sebagian ulama yang tidak menikah sampai akhir hayatnya seperti yang terkumpul dalam buku Al-ulamaul uzzab alladziina aatsarul ilma ‘alaz zawaj. Tetapi, itu bukan untuk diikuti semua orang. Itu adalah perkecualian. Sebab, Rasulullah saw. pernah melarang seorang sahabatanya yang ingin hanya beribadah tanpa menikah, lalu menegaskan bahwa ia juga beribadah tetapi ia juga menikah. Di sini jelas sekali bagaimana Rasulullah saw. selalu menuntun kita agar berjalan dengan fitrah yang telah Allah bekalkan tanpa merasakan beban sedikit pun.

Memang masalah penghasilan hampir selalu menghantui setiap para jejaka muda maupun tua dalam memasuki wilayah pernikahan. Sebab yang terbayang bagi mereka ketika menikah adalah keharusan membangun rumah, memiliki kendaraan, mendidik anak, dan seterusnya di mana itu semua menuntut biaya yang tidak sedikit. Tetapi kenyataannya telah terbukti dalam sejarah hidup manusia sejak ratusan tahun yang lalu bahwa banyak dari mereka yang menikah sambil mencari nafkah. Artinya, tidak dengan memapankan diri secara ekonomi terlebih dahulu. Dan ternyata mereka bisa hidup dan beranak-pinak. Dengan demikian kemapanan ekonomi bukan persyaratan utama bagi sesorang untuk memasuki dunia pernikahan.

Mengapa? Sebab, ada pintu-pintu rezeki yang Allah sediakan setelah pernikahan. Artinya, untuk meraih jatah rezki tersebut pintu masuknya menikah dulu. Jika tidak, rezki itu tidak akan cair. Inilah pengertian ayat iyyakunu fuqara yughnihimullahu min fadhlihi wallahu waasi’un aliim, jika mereka miskin Allah akan mampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas lagi Maha mengetahui (An-Nur: 32). Ini adalah jaminan langsung dari Allah, agar masalah penghasilan tidak dikaitkan dengan pernikahan. Artinya, masalah rezki satu hal dan pernikahan hal yang lain lagi.

Abu Bakar Ash-Shidiq ketika menafsirkan ayat itu berkata, “Taatilah Allah dengan menikah. Allah akan memenuhi janjinya dengan memberimu kekayaan yang cukup.” Al-Qurthubi berkata, “Ini adalah janji Allah untuk memberikan kekayaan bagi mereka yang menikah untuk mencapai ridha Allah, dan menjaga diri dari kemaksiatan.” (lihat Tafsirul Quthubi, Al Jami’ liahkamil Qur’an juz 12 hal. 160, Darul Kutubil Ilmiah, Beirut).

Rasulullah saw. pernah mendorong seorang sahabatnya dengan berkata, “Menikahlah dengan penuh keyakinan kepada Allah dan harapan akan ridhaNya, Allah pasti akan membantu dan memberkahi.” (HR. Thabarni). Dalam hadits lain disebutkan: Tiga hal yang pasti Allah bantu, di antaranya: “Orang menikah untuk menjaga diri dari kemaksiatan.” (HR. Turmudzi dan Nasa’i)

Imam Thawus pernah berkata kepada Ibrahim bin Maysarah, “Menikahlah segera, atau saya akan mengulang perkataan Umar Bin Khattab kepada Abu Zawaid: Tidak ada yang menghalangimu dari pernikahaan kecuali kelemahanmu atau perbuatan maksiat.” (lihat Siyar A’lamun Nubala’ oleh Imam Adz Dzahaby). Ini semua secara makna menguatkan pengertian ayat di atas. Di mana Allah tidak akan pernah membiarkan hamba-Nya yang bertakwa kepada Allah dengan membangun pernikahan.

Persoalannya sekarangan, mengapa banyak orang berkeluarga yang hidup melarat? Kenyataan ini mungkin membuat banyak jejaka berpikir dua kali untuk menikah. Dalam masalah nasib kita tidak bisa mengeneralisir apa yang terjadi pada sebagian orang. Sebab, masing-masing ada garis nasibnya. Kalau itu pertanyaanya, kita juga bisa bertanya: mengapa Anda bertanya demikian? Bagaimana kalau Anda melihat fakta yang lain lagi bahwa banyak orang yang tadinya melarat dan ternyata setelah menikah hidupnya lebih makmur? Dari sini bahwa pernikahan bukan hambatan, dan kemapanan penghasilan bukan sebuah persyaratan utama.

Yang paling penting adalah kesiapan mental dan kesungguhan untuk memikul tanggung jawab tersebut secara maksimal. Saya yakin bahwa setiap perbuatan ada tanggung jawabnya. Berzina pun bukan berarti setelah itu selesai dan bebas tanggungjawab. Melainkan setelah itu ia harus memikul beban berat akibat kemaksiatan dan perzinaan. Kalau tidak harus mengasuh anak zina, ia harus menanggung dosa zina. Keduanya tanggung jawab yang kalau ditimbang-timbang, tidak kalah beratnya dengan tanggung jawab pernikahan.

Bahkan tanggung jawab menikah jauh lebih ringan, karena masing-masing dari suami istri saling melengkapi dan saling menopang. Ditambah lagi bahwa masing-masing ada jatah rezekinya yang Allah sediakan. Tidak jarang seorang suami yang bisa keluar dari kesulitan ekonomi karena jatah rezeki seorang istri. Bahkan ada sebuah rumah tangga yang jatah rezekinya ditopang oleh anaknya. Perhatikan bagaimana keberkahan pernikahan yang tidak hanya saling menopang dalam mentaati Allah, melainkan juga dalam sisi ekonomi.

Pernikahan dan Menuntut Ilmu

Seorang kawan pernah mengatakan, ia ingin mencari ilmu terlebih dahulu, baru setelah itu menikah. Anehnya, ia tidak habis-habis mencari ilmu. Hampir semua universitas ia cicipi. Usianya sudah begitu lanjut. Bila ditanya kapan menikah, ia menjawab: saya belum selesai mencari ilmu.

Ada sebuah pepatah diucapkan para ulama dalam hal mencari ilmu: lau anffaqta kullaha lan tashila illa ilaa ba’dhiha, seandainya kau infakkan semua usiamu –untuk mencari ilmu–, kau tidak akan mendapatkannya kecuali hanya sebagiannya. Dunia ilmu sangat luas. Seumur hidup kita tidak akan pernah mampu menelusuri semua ilmu. Sementara menikah adalah tuntutan fitrah. Karenanya, tidak ada aturan dalam Islam agar kita mencari ilmu dulu baru setelah itu menikah.

Banyak para ulama yang menikah juga mencari ilmu. Benar, hubungan mencari ilmu di sini sangat berkait erat dengan penghasilan. Tetapi banyak sarjana yang telah menyelesaikan program studinya bahkan ada yang sudah doktor atau profesor, tetapi masih juga pengangguran dan belum mendapatkan pekerjaan. Artinya, menyelesaikan periode studi juga bukan jaminan untuk mendapatkan penghasilan. Sementara pernikahan selalu mendesak tanpa semuanya itu. Di dalam Alquran maupun Sunnah, tidak ada tuntunan keharusan menunda pernikahan demi mencari ilmu atau mencari harta. Bahkan, banyak ayat dan hadits berupa panggilan untuk segera menikah, terlepas apakah kita sedang mencari ilmu atau belum mempunyai penghasilan.

Berbagai pengalaman membuktikan bahwa menikah tidak menghalangi seorang dalam mencari ilmu. Banyak sarjana yang berhasil dalam mencari ilmu sambil menikah. Begitu juga banyak yang gagal. Artinya, semua itu tergantung kemauan orangnya. Bila ia menikah dan tetap berkemauan tinggi untuk mencari ilmu, ia akan berhasil. Sebaliknya, jika setelah menikah kemauannya mencari ilmu melemah, ia gagal. Pada intinya, pernikahan adalah bagian dari kehidupan yang harus juga mendapatkan porsinya. Perjuangan seseorang akan lebih bermakna ketika ia berjuang juga menegakkan rumah tungga yang Islami.

Rasulullah saw. telah memberikan contoh yang sangat mengagumkan dalam masalah pernikahan. Beliau menikah dengan sembilan istri. Padahal beliau secara ekonmi bukan seorang raja atau konglomerat. Tetapi semua itu Rasulullah jalani dengan tenang dan tidak membuat tugas-tugas kerasulannya terbengkalai. Suatu indikasi bahwa pernikahan bukan hal yang harus dipermasalahkan, melainkan harus dipenuhi. Artinya, seorang yang cerdas sebenarnya tidak perlu didorong untuk menikah, sebab Allah telah menciptakan gelora fitrah yang luar biasa dalam dirinya. Dan itu tidak bisa dipungkiri. Masing-masing orang lebih tahu dari orang lain mengenai gelora ini. Dan ia sendiri yang menanggung perih dan kegelisahan gelora ini jika ia terus ditahan-tahan.

Untuk memenuhi tuntutan gelora itu, tidak mesti harus selesai study dulu. Itu bisa ia lakukan sambil berjalan. Kalaupun Anda ingin mengambil langkah seperti para ulama yang tidak menikah (uzzab) demi ilmu, silahkan saja. Tetapi apakah kualitas ilmu Anda benar-benar seperti para ulama itu? Jika tidak, Anda telah rugi dua kali: ilmu tidak maksimal, menikah juga tidak. Bila para ulama uzzab karena saking sibuknya dengan ilmu sampai tidak sempat menikah, apakah Anda telah mencapai kesibukan para ulama itu sehingga Anda tidak ada waktu untuk menikah? Dari sini jika benar-benar ingin ikut jejak ulama uzzab, yang diikuti jangan hanya tidak menikahnya, melainkan tingkat pencapaian ilmunya juga. Agar seimbang.

Kesimpulan

Sebenarnya pernikahan bukan masalah. Menikah adalah jenjang yang harus dilalui dalam kondisi apapun dan bagaimanapun. Ia adalah sunnatullah yang tidak mungkin diganti dengan cara apapun. Bila Rasulullah menganjurkan agar berpuasa, itu hanyalah solusi sementara, ketika kondisi memang benar-benar tidak memungkinkan. Tetapi dalam kondisi normal, sebenarnya tidak ada alasan yang bisa dijadikan pijakan untuk menunda pernikahan.

Agar pernikahan menjadi solusi alternatif, mari kita pindah dari pengertian “pernikahan sebagai beban” ke “pernikahan sebagai ibadah”. Seperti kita merasa senang menegakkan shalat saat tiba waktunya dan menjalankan puasa saat tiba Ramadhan, kita juga seharusnya merasa senang memasuki dunia pernikahan saat tiba waktunya dengan tanpa beban. Apapun kondisi ekonomi kita, bila keharusan menikah telah tiba “jalani saja dengan jiwa tawakkal kepada Allah”. Sudah terbukti, orang-orang bisa menikah sambil mencari nafkah. Allah tidak akan pernah membiarkan hambaNya yang berjuang di jalanNya untuk membangun rumah tangga sejati.

Perhatikan mereka yang suka berbuat maksiat atau berzina. Mereka begitu berani mengerjakan itu semua padahal perbuatan itu tidak hanya dibenci banyak manusia, melainkan lebih dari itu dibenci Allah. Bahkan Allah mengancam mereka dengan siksaan yang pedih. Melihat kenyataan ini, seharusnya kita lebih berani berlomba menegakkan pernikahan, untuk mengimbangi mereka. Terlebih Allah menjanjikan kekayaan suatu jaminan yang luar biasa bagi mereka yang bertakwa kepada-Nya dengan membangun pernikahan. Wallahu a’lam bishshawab.


Sumber : http://www.dakwatuna.com/2007/menikah-mengapa-takut/

Ya Allah.. hamba pernah bertekad tidak akan menikah karena tak ingin disakiti, lalu setelah membaca artikel ini, hamba memperbaharui iltizam, hamba ingin menikah, permudahlah ya Allaah, Allahumma Aamiin..

Wednesday, May 11, 2011

Tiga Langkah Meraih Kebahagiaan Rumah Tangga

Oleh: DR. Amir Faishol Fath

Kirim Print

dakwatuna.com - Allah swt. berfirman,
وَمِنْ ءَايَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (الروم21(
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” Ar Rum:21

Menikah Bukti Keagungan Allah

Ayat ini sebenarnya bagian dari cerita tanda-tanda keagungan Allah swt. dan kekuasaan-Nya. Bahwa semua yang ada di langit dan di bumi dan segala yang terjadi datang dari-Nya. Termasuk diciptakannya manusia berpasang-pasangan yang dengannya terjadi kelanjutan hidup, seperti yang disebutkan pada ayat di atas. Karenanya hakikat pernikahan dan rumah tangga bagi Allah swt. adalah ikatan yang sangat agung. Karena dengannya nampak keagungan-Nya.

Sebaliknya, ketika manusia hidup di alam perzinaan, yang nampak hanyalah kebinatangan. Bila kebinatangan yang menonjol dalam hidup manusia, kerusakan pasti akan meraja lela. Paling tidak yang pertama kali hancur adalah kemanusiaan. Manusia tidak lagi perduli dengan rumah tangga. Bila rumah tangga hancur, garis nasab akan hilang. Lama ke lamaan manusia tidak tahu lagi siapa sebenarnya yang ia gauli. Tidak mustahil suatu saat – bahkan ini sudah banyak terjadi – akan lahir seorang anak dari hubungan ayah dengan anaknya, atau hubungan ibu dengan anaknya, atau hubungan antara saudara seayah dan sebagainya.

Karena itu pada ayat di atas, Allah swt. menjadikan hakikat berpasang-pasangan sebagai bukti keagungan-Nya, supaya manusia tidak begitu mudah merendahkan dirinya dengan menganggap bahwa berhubungan dengan siapa saja boleh-boleh saja. Tidak, janganlah sekali-kali perbuatan ini dilakukan. Sebab dengan melakukan perzinaan seseorang tidak saja mengahancurkan kemanusiaannya sendiri melainkan lebih dari itu ia telah merendahkan Allah swt. dengan meremehkan tanda-tanda keagungan-Nya.

Jelasnya bahwa dari ayat di atas setidaknya ada tiga langkah yang bisa kita bahas secara mendalam dalam tulisan ini untuk mencapai kebahagiaan dalam rumah tangga:

(a) Bangun Jiwa Sakinah

(b) Hidupkan Semangat Mawaddah

(c) Pertahankan Spirit Rahmah.

Dan ketiga langkah ini adalah bekal utama setiap rumah tangga. Bila salah satunya hilang, rumah tangga akan rapuh dan mudah retak. Karena itu hendaklah ketiga langkah tersebut benar-benar dicapai secara maksimal, atau paling tidak mendekatinya.

Bangun Jiwa Sakinah

Allah berfirman: litaskunuu ilaihaa, artinya agar kau berteduh wahai para suami kepada istrimu. Kata litaskunuu diambil dari kata sakana yaskunu artinya berdiam atau berteduh. Dari kata sakana ini di ambil istilah sakinah yang kemudian diartikan tenang. Memang bisa saja kata sakana diartikan tenang, tetapi pengertian dalam ayat ini lebih dalam lagi dari sekedar tenang.

Syaikh Ibn Asyur dalam tafsirnya At Tahrir wat Tanwiir mengartikan kata litaskunuu dengan dengan tiga makna:

(1) lita’lafuu artinya agar kamu saling mengikat hati, seperti uangkapan ta’liiful quluub. Dalam surah Al Anfal: 63 Allah berfirman: wa allafa baina quluubihim (Dialah Allah yang telah mempersatukan hati di antara mereka). Dengan makna ini maka antara suami istri hendaknya benar-benar membangun ikatan hati yang kuat. Dan sekuat-kuat pengikat hati adalah iman. Maka semakin kuat iman seseorang, semakin kuat pula ikatan hatinya dalam rumah tangganya. Sebaliknya semakin lemah iman seseorang, bisa dipastikan bahwa rumah tangga tersebut akan rapuh dan mudah retak.

(2) Tamiiluu ilaihaa artinya kau condong kepadanya. Condong artinya pikiran, perasaan dan tanggung jawab tercurah kepadanya. Dengan makna ini maka suami istri bukan sekedar basa-basi untuk bersenang-senang sejenak. Melainkan benar-benar dibangun di atas tekad yang kuat untuk membangun masa depan rumah tangga yang bermanfaat. Karenanya harus ada kecondongan dari masing-masing suami istri. Tanpa kecondongan pasti akan terjadi keterpaksaan.

Karena itu orang tua jangan memaksakan kehendaknya jika memang ternyata dalam diri anaknya tidak ada kecondongan. Saya sering menemukan seorang anak muda mengeluh karena dipaksa orang tuanya untuk menikah dengan si fulanah. Sementara dalam diri anak muda tersebut tidak ada kecondongan sama sekali. Tapi orang tuanya mengancam dan bahkan menganggap ia bukan anaknya jika tidak mengikuti keinginannya.

Ini tentu sikap yang tidak pada tempatnya. Orang tua harus tahu bahwa sakinah dalam rumah tangga tidak akan di capai tanpa adanya kecondongan. Pun orang tua harus tahu bahwa yang akan hidup bersama istrinya adalah sang anak. Maka tidak benar menggunakan kartu merah orang tua, untuk memaksakan kecondongannya supaya anak mengikutinya.

Seringkali rumah tangga hancur karena orang tua tidak meperhatikan kecondongan sang anak. Karena itu untuk membangun sakinah harus ada dalam diri masing-masing suami istri kecondongan.

(3) Tathma’innuu biha artinya kau merasa tenang dengannya.

Dalam surah Ar Ra’d:28 Allah berfirman: alaa bidzikrillahi tathma’innul quluub (Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram). Dari sini nampak bahwa untuk mencapai ketenangan dalam rumah tangga hanya dengan banyak berdzikir kepada Allah.

Para ulama menyebutkan bahwa dzikir ada tiga dimensi: dzikurullisan (dzikir dengan lidah), dzikrul qalb (dzikir dengan hati) maksudnya hatinya selalu sadar dan ingat kepada Allah, dan dzikrul haal (dzikir dengan perbuatan), maksudnya seluruh perbuatannya selalu dalam ketaatan kepada Allah swt. Maka sungguh tidak mungkin mencapai sakinah rumah tangga yang penuh dengan kemaksiatan kepada Allah swt.

Termasuk kemaksiatan ketika masing-masing suami suka berbohong. Banyak rumah tangga yang retak karena ketidak jujuran masing-masing suami istri. Bila seorang suami suka berbohong pasti sang istri akan gelisah. Selanjutnya ketenangan akan hilang dalam rumah tangga. Sebaliknya bila istri suka berbohong, sang suami pasti tidak akan merasa tenang bersamanya. Bila suami tidak tenang, bisa jadi kelak rumah tangga akan terancam. Dari sini perceraian demi perceraian terjadi. Asal muasalnya karena kebiasaan tidak jujur dan dosa-dosa.

Hidupkan Semangat Mawaddah

Mawaddah artinya cinta. Imam Hasan Al Bashri mengartikan kata mawaddah sebagai metafor dari hubungan seks. Jelasnya bahwa mawaddah adalah perasaan cinta dan senang dengannya rumah tangga menjadi bergairah dan penuh semangat. Tanpa mawaddah rumah tangga akan kering. Mawaddah biasanya sangat personal. Ia tidak tergantung kepada kecantikan istri atau ketampanan suami. Boleh jadi di mata banyak orang wanita itu tidak cantik, tetapi sang suami sangat mencintainya. Pun boleh jadi wanita itu disepakati sebagai wanita cantik, tetapi sang suami ternyata sangat membencinya.

Sebagian ulama tafsir mengatakan bahwa cinta biasanya sering menggebu di masa muda atau di awal-awal pernikahan. Lama ke lamaan setelah masuk dalam rutinitas rumah tangga, getaran cinta menjadi melemah. Karenanya Allah swt. bekali rahmah sebagai pengimbangnya, supaya ketika sinyal cinta mulai redup, masih ada semangat rahmah yang akan menyelamatkan rumah tangga tersebut. Lain halnya dengan orang-orang yang membangun rumah tangga hanya dengan modal cinta, rumah tangga rentan mudah roboh dan tidak kokoh.

Ibarat mesin, mawaddah adalah dinamo penggerak yang mengairahkan. Dengan mawaddah rumah tangga menjadi dinamis dan produktif. Sebaliknya bila jiwa mawaddah hilang, rumah tangga akan menjadi monoton tanpa dinamika sama sekali. Dalam penelitian saya minimal ciri mawaddah ada tiga:

(a) Katsratut tahaady (selalu saling memberi hadiah), karena seperti kata Nabi saw. dengan saling memberi hadiah cinta akan selalu hangat.

(b) Katsratu dzikrihi (selalu saling mengingat kebaikannya). Sebab dengan mengingat kebaikannya seseorang akan selalu merasa berhutang budi. Hindari melihat keburukan dan kekurangannya, karena itu akan menumbuhkan kebencian dan perselisihan tiada henti.

(c) Katsratul ittishaali ma’ahu (selalu saling berkomunikasi) sebab dari kemunikasi akan hilang prasangka. Banyak hal yang sebenarnya dimaksudkan untuk kebaikan, tetapi karena lemahnya komunikasi seringkali kesalahpahaman terjadi.

Pertahankan Spirit Rahmah

Rahmah artinya kasih sayang, diambil dari kata rahima yarhamu. Dari kata ini pula diambil kata ar rahmaan salah satu nama Allah swt. Bahwa Allah Maha Penyayang. Para ahli tafsir mengatakan bahwa rahman-Nya Allah meliputi seluruh mahluk-Nya: manusia, binatang, dan mahluk-mahluk lainnya. Termasuk orang-orang yang tidak beriman, karenanya mereka masih bisa hidup dan bisa menikmati fasilitas kehidupan dari Allah, padahal mereka setiap hari tidak mentaati-Nya. Kata rahmah lebih bermakna kesungguhan untuk berbuat baik kepada orang lain, apa lagi kepada keluarga.

Memang setiap orang mempunyai kekurangan, dan tidak ada seorang pun yang mecapai kesempurnaan. Maka jika setiap manusia selalu mempersepsikan adanya pasangan yang sempurna, pasti pada akhirnya ia tidak akan pernah punya pasangan. Dalam pepatah Arab dikatakan: “Man talaba akhan bilaa ‘aibin laqiya bilaa akhin (orang yang mencari kawan tanpa cacat, pasti pada akhirnya ia tidak akan punya kawan).

Kata rahmah lebih mencerminkan sikap saling memahami kekuarangan masing-masing lalu berusaha untuk saling melengkapi. Sikap rahmah menekankan adanya sikap saling tolong menolong dalam bersinergi, sehingga kekurangan berubah menjadi kesempurnaan.

Sikap rahmah seringkali berperan ketika semangat cinta mulai menurun. Biasanya itu terjadi setelah usia suami istri sama-sama mencapai tahap tua. Cucu sudah mulai banyak. Badan banyak sakit-sakitan. Pada saat itu kebertahanan rumah tangga sangat ditopang oleh kekuatan rahmah (kasih sayang).

Karena itu mawaddah dan rahmah ibarat dua sayap bagi burung. Bila kedua sayap itu berfungsi dengan baik, maka rumah tangga akan berjalan penuh kebahagiaan. Ibarat burung terbang di angkasa, ia menikmati keindahan alam semesta dan penuh dengan kelapangan dada. Tanpa sedikit pun ada beban di hatinya. Terbang ke mana saja ia mau, tidak ada hambatan dan kesulitan.

Kesadaran Akhirat

Pada penutup ayat di atas Allah swt. berfirman: inna fiidzaalika laayatil liqawmiyyatafakkaruun maksudnya bahwa itu semua merupakan bukti bagi orang-orang yang berpikir. Yaitu orang-orang yang menggunakan akalnya untuk memahami ajaran Allah swt.

Dalam Al Qur’an banyak sekali penegasan bahwa kelak di hari Kiamat banyak manusia menyesal karena selama di dunia tidak menggunakan akalnya. Allah swt. berfirman,

“Dan mereka berkata: “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.” Al Mulk:10

Dari sini nampak bahwa yang membedakan antara manusia dan mahluk lainnya adalah karena manusia Allah bekali akal. Dan di antara ciri orang-orang berakal bahwa ia selalu menegakkan kedamaian dalam hidupnya terutama minimal dalam rumah tangganya. Maka ketika ia tidak bisa membangun kedamaian dalam rumah tangganya, bisa dipastikan ia akan gagal dalam lapangan kehidupan yang lain.

Bila seseorang gagal dalam rumah tangga otomatis ia menyesal. Menyesal karena telah menyia-nyiakan kesempatan untuk berbuat baik selama di dunia. Penyesalan itu terjadi kelak setelah ia tahu bahwa ternyata Allah tidak menyia-nyiakan sekecil apapun yang dilakukan manusia. Famayya’mal mitsqaal dzarratin khairay yarah wamay ya’mal mitsqaala dzarratin syarray yarah (Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula.” Qs. Az Zalzalah:7-8.

Kesadaran akhirat seperti inilah yang harus selalu dicamkan oleh setiap suami istri, karena hanya dengan kesadaran ini semua prilaku akan menjadi baik dan rumah tangga akan dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Wallahu’ alam bishshwab.


Sumber : http://www.dakwatuna.com/2008/tiga-langkah-meraih-kebahagiaan-rumah-tangga/

Thursday, April 21, 2011

Bahagia

Jangan menunggu bahagia untuk bisa tersenyum tapi tersenyumlah untuk menjemput bahagia.
 (anonim)
Bahagia, sebuah kata yang indah dan sarat makna. Setiap insan di dunia, pasti selalu ingin hidup bahagia. Bertabur cinta dan kasih sayang yang utuh dari orang-orang yang dikasihi. Banyak orang berusaha mencari kebahagiaan dalam hidupnya. Ada yang bekerja keras mencari nafkah, hingga melakukan apa saja, halal  dan haram, hingga uang menjadi jalan kebahagiaan mereka. Ada yang mencari kesenangan-kesenangan sesaat, hingga terkadang terlempar ke lembah yang hina. Ada yang berjuang keras untuk mendapatkan seseorang yang dikasihinya, hingga terkadang ia melakukan tindakan-tindakan bodoh hingga malah menyakiti dan melukai orang yang dikasihinya. Ada pula yang cukup hanya dengan memandang langit malam, ia sudah merasa bahagia. Beragam cara manusia tempuh untuk mencari kebahagiaan hidupnya. Namun hakikatnya.. kebahagiaan adalah, ketika kita bisa mensyukuri semua karunia dan nikmat sekaligus ujian yang telah Allah berikan kepada kita dengan penuh keihklasan. Allah, Maha Pemberi Kebahagiaan, hanya kepada-Nya-lah segalanya digantungkan, dan hanya kepada-Nya-lah pula kita memohon kebahagiaan.

Epilog..
Saya hanya seorang muslimah biasa, terlahir di sebuah Kota yang dipisah menjadi dua wilayah oleh sebuah sungai besar, Sungai Musi, Palembang. Lahir sebagai keturunan Sumatera-Melayu-Asia, suku Besemah  Pagar Alam. Orang tua saya berasal dari daerah dingin di kaki Gunung Dempo. Sebuah kabupaten  di provinsi Sumatera Selatan. Di kenal dengan istilah besemah, bersih, sejuk, dan ramah. Pagar Alam memiliki hawa yang sejuk dengan pemandangan indah. Perkebunan dan pertanian, pariwisata alam, air terjun, sungai yang jernih, dan bersih disertai batu-batu sungai yang menambah keindahan alamnya. Hamparan  sawah, kebun teh, dan kopi sangat mudah ditemui di kota ini.  Pagar Alam adalah sebuah kota yang dikelilingi gunung dan bukit. Oleh karena itu, ia disebut kota Pagar Alam, yang artinya kota yang dikeliling atau dipagari alam, berupa gunung dan perbukitan. Semasa kecil, saya sering menghabiskan masa liburan di tanah leluhur saya ini, sebelum akhirnya kami sekeluarga pindah ke kabupaten Belitung yang sangat jauh berbeda keadaan dan kondisi geografis wilayahnya pada usia saya menjelang 7 tahun. 


Belitung, adalah pulau kecil yang dikelilingi pantai yang indah. Saya dan keluarga menetap selama 10 tahun disana karena saat itu orang tua bertugas di Kabupaten Belitung. Saya melalui hampir separuh masa kanak-kanak hingga remaja disini. Sejak usia 7 - 17 tahun, saya menghabiskan masa-masa yang tak kalah membahagiakan di pulau ini. Pulau yang indah dan penuh pesona dengan panorama pantai yang eksotik, pohon kelapa dan cemara pantai yang berbaris rapi, bola-bola rumput jarum yang berlarian tertiup angin, air laut yang jernih, hijau hingga biru, ikan-ikan yang berenang, debur ombak yang berkejaran, dan angin pantai yang khas. Dahulu, saya dan keluarga hampir setiap akhir pekan menghabiskan waktu bersama di pantai. Kami berenang, memancing, memanggang ikan dari para nelayan yang baru merapatkan kapal dari lautan, minum air kelapa muda yang baru dipetik dari pohonnya, dan bermain-main di pantai. Itulah sekelumit kebahagiaan yang pernah Allah berikan dalam perjalanan hidup saya. Namun alhamdulillah.. hingga saat ini meski pun kami sekeluarga sering berpindah-pindah kota karena tugas orang tua, kami sekeluarga terutama orang tua saya tidak pernah membanding-bandingkan bahkan menjelek-jelekan suku tertentu atau orang tertentu. Orang tua saya selalu menanamkan kepada saya dan saudara-saudara kandung saya, bahwa setiap manusia, apa pun sukunya atau daerah asalnya, memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Yang membedakan mereka hanya iman dan pemahaman agama. Begitulah kedua orang tua saya memberikan pemahaman tentang bagaimana menghadapi orang-orang di sekitar kami yang begitu beragam dengan latar belakang yang berbeda.

"Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal" (QS. Al Hujurat:13).

Dahulu, hidupku selalu dikelilingi kebahagiaan yang utuh. Orang tua yang baik dan bijaksana, saudara kandung yang lucu, unik, dan menyayangiku serta ku sayangi. Lingkungan yang Islami dan terjaga. Sahabat-sahabat dan guru-guru yang baik, serta adik-adik yang menyayangiku. Allah, memilihkanku jalan yang insyaAllah baik dan terarah. Aku hidup berada di antara orang-orang sholih/ah yang selalu mengingatkan pada kebaikan dan aku juga selalu berusaha untuk menjadikan hidupku bermanfaat bagi orang-orang di sekelilingku terutama jalan dakwah yang ku pilih. Hidupku terasa lengkap dan bahagia. Allah begitu menyayangiku. 

Aku, memiliki keluarga yang utuh. Seorang ayah yang bijak, dan seorang ibu yang penyayang. Aku memiliki 4 saudara kandung, dan aku adalah anak ke tiga (anak tengah) dari lima bersaudara yang di apit sepasang kakak laki-laki dan perempuan, dan sepasang adik laki-laki dan perempuan pula. Sungguh, tak ada yang lebih ku syukuri selain kebahagiaan utuh yang Allah karuniakan kepadaku dari keluargaku. Mungkin, karena merasa hidupku begitu lengkap itulah, aku merasa tak pernah memerlukan perhatian laki-laki dari non muhrimku. Aku merasa, perhatian dan kasih sayang dari laki-laki sudah ku peroleh dari muhrimku, yaitu ayah, kakak laki-laki, adik laki-laki, dan paman-paman kandungku. Untuk itu, hingga saat ini aku belum pernah tersentuh pacaran. Hidup yang Allah berikan padaku adalah nikmat tak terkira, aku adalah muslimah yang selalu berusaha tersenyum dalam setiap keadaan. Sungguh.. aku merindukan diriku yang dulu. Fithri Ariani, yang selalu tersenyum dan menebar mashlahat di sekitarku. Hingga suatu saat, Allah hendak mengajarkanku tentang sesuatu, tentang ilmu ikhlas dan sabar.

“Sesungguhnya besarnya pahala itu tergantung besarnya ujian. Dan sesungguhnya jika Allah menyukai suatu kaum , maka DIA akan menguji mereka. Barangsiapa yang ridha, maka baginya keridhaan, dan barangsiapa yang murka , maka baginya kemurkaan“. (HR.At-Tirmidzi no.2396 dan Ibnu Majah no.4031)

Rasulullah shallahu a’laihi wa sallam, bersabda :
“Barangsiapa yang dikehendaki Allah kebaikan pada dirinya, maka DIA memberikan cobaan kepadanya.” (HR.Bukhari no.5645. Abu ‘Ubaid mengatakan bahwa maknanya ialah, Allah mengujinya dengan berbagai musibah agar Allah memberikan pahala atasnya, Fat-hul Baari X/108)

Allah memberikan ujian. Allah mentakdirkanku mengenal seseorang melalui selembar sajadah yang diberikannya di sebuah tempat ketika aku hendak sholat zuhur pada tanggal 08 Juli 2008. Kemudian sejak itu, ujian demi ujian pun terjadi berulang. Selama kurang lebih 2 tahun, aku terjebak pada fikiran yang kusut, hati yang sakit, dan akhlak yang jauh berubah karena tertimpa ujian yang diakibatkannya. Aku merasa diriku berubah sejak bertemu dengannya, bukan seperti diriku yang dulu. Akhirnya setelah semua berlalu, aku mengerti apa maksud Allah saat itu mentakdirkanku bertemu dengannya dengan cara memberi sajadah untuk sholat, karena setelah pertemuan itu, orang yang memberi sajadah tersebut  menjadi ujian dalam hidupku. Dan mengobatinya, adalah dengan sholat.

Berkali-kali aku belajar memahami, memaafkan, bahkan menerima dan mencintai, berkali-kali pula aku disakiti. Hingga saat ini, terkadang rasa sakit itu masih terasa. Aku terus berusaha menyembuhkan lukanya dan meraih kebahagiaan dengan berusaha mengembalikan diriku pada diriku yang semula. Namun, tak jarang aku kembali jatuh jika teringat sosoknya dan tindakan-tindakan jahiliyahnya. Terkadang aku berfikir, begitu mudahnya, begitu gampangnya, seseorang bertindak tanpa memikirkan akibat yang dilakukannya pada orang lain hingga bisa melukai atau menyakiti orang lain. Hingga saat ini, aku terus berusaha untuk ikhlas.

”Tidaklah menimpa seorang mukmin berupa keletihan, penyakit, kesusahan  kesedihan, gangguan dan kesulitan, hingga duri yang menusuknya, kecuali Allah subhanahu wa ta a’la akan menghapuskan karenanya dosa-dosanya.”(HR.Bukhary no.5641 dari sahabat Abu Sa’id dan Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Beriring waktu berjalan, aku terus mengambil hikmah dari pengalaman getir takdir yang pernah Allah gariskan. Tak ada yang tak baik menurut Allah, jika semuanya diserahkan pada Allah, dan hanya pada-Nya aku berserah diri. "Janganlah membalas keburukan dengan keburukan. Balaslah keburukan dengan kebaikan. Orang mukmin itu bersaudara", begitulah orang tua selalu menasehati. Aku merindukan diriku yang dulu. Aku terus belajar mengikhlaskan semuanya dan terus berbenah diri. Hidupku bagai ku bangun kembali. Aku belajar mensyukuri apa yang sudah ku alami, menikmati sisa usia dan sisa nafas yang masih Allah beri dengan belajar memperbaiki diri. Merajut lagi benang-benang asa menuju kebahagiaan hakiki di dunia dan akhirat. Apa pun sakit dan luka yang mendera, aku hanya ingin bahagia. Bahagia menjalani takdir yang telah Allah gariskan dan tersenyum menyambut hari-hari ke depan. Bahagia dunia - akhirat, bahagia hingga ke Jannah Allah. Aamiin Ya Allah..
 
Ya Allah, lindungilah aku dari kejahatan diriku dan kuatkanlah diriku pada sebaik-baik urusanku. Ya Allah, berikanlah ampunan kepadaku atas segala yang aku sembunyikan dan apa yang aku tampakkan, apa yang tidak aku sengaja maupun yang tidak aku sengaja, apa yang aku ketahui maupun yang tidak aku ketahui.”(HR.Al-Hakim I/510,Ahmad IV/444)

“Ya Allah, sesungguhya aku memohon kepada-MU seluruh kebaikan , baik yang sekarang maupun yang akan datang, yang aku ketahui maupun yang tidak aku ketahui. Dan aku memohon perlindungan kepada-MU dari seluruh kejahatan, baik yang sekarang maupun yang akan datang, yang aku ketahui maupun yang tidak aku ketahui. Ya Allah , sesungguhnya aku memohon kebaikan yang diminta oleh hamba-MU dan Nabi-MU, dan aku berlindung kepada-MU dari kejahatan yang hamba-MU dan Nabi-MU berlindung kepada-MU darinya. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada –MU surga dan apa-apa yang dapat mendekatkan kepadanya, baik berupa ucapan maupun perbuatan. Dan aku berlindung kepada-MU dari Neraka dan apa-apa yang dapat mendekatkan kepadanya baik berupa ucapan maupun perbuatan. Dan aku memohon kepada-MU agar Engkau menjadikan seluruh ketetapan yang telah Engkau tetapkan bagiku merupakan suatu kebaikan.” (HR.Ibnu Majah no.3846, Ibnu Hibban no.2413)

Robb.. lindungilah, selamatkanlah, limpahkanlah kebahagiaan dan keberkahan kepada hamba di dunia dan akhirat. Ya Allah, berikanlah pertolongan dan kemudahan dalam segala urusan hamba. Berikanlah keberkahan dalam setiap hela nafas yang hamba hirup dan setiap detik waktu yang hamba lalui. Istiqomahkanlah hamba di jalan-Mu, dan jagalah hamba agar selalu dalam kebaikan dan amal-amal sholih yang mendekatkan hamba kepada-Mu. Limpahkanlah keberkahan bagi hamba dalam menjemput hari-hari ke depan yang lebih baik, Aamiin Ya Allah Robbal'aalamiin..

"Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya". (QS Ath-Thalaq: 3-4).

"Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung." (QS. Ali Imran: 173)

Sebuah persembahan untuk:
Yang menciptakanku, Yang memberi hidayah kepadaku Yang memberi makanan kepadaku, Yang memberi minuman kepadaku, Yang menyembuhkan penyakitku, Yang mematikanku, Yang menghidupkanku, Yang kuharap akan memaafkan dan mengampuniku pada hari pembalasan, Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh, dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan". (QS.26:78-85)

"Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku." (QS. Al Fajr: 27-30)

Ya Allah Ya Rohman Ya Rohim Ya Mujib, kabulkanlah segala do'a hamba. Aamiin Ya Allah Ya Robbal'aalamiin...

Wallahu a'lam bishshowwab

Monday, April 18, 2011

Rindu


Ada sebait kata tentang rindu terukir disana. Diantara bangunan-bangunan kokoh yang mengapit dua bukit, diantara lintangan rumput ilalang yang tumbuh subur menghijau, dan diantara anak-anak berseragam yang berlari-larian dengan riang. Berawal dari sebuah keceriaan tentang cinta, hidup terasa bahagia karena jiwa telah menemukan belahan jiwanya. Tuhan menyematkan "rindu" ke dalam palung hati. Tentang sebuah nama yang telah terpatri. Di tiap hela nafas, namanya turut hadir. Di tiap pandangan mata, wajahnya pun turut hadir, di tiap bangun dan tidurnya, ingatan tentang sang kekasih jiwa tak pernah lekang. Rindu, selalu berisi tentang bahasa cinta yang tiada habisnya. Bagai meneguk anggur kesucian, terus-menerus mabuk karenanya. Namun ketika semua hilang, cinta hanya tinggal kisah berselimutkan duka. Cinta, adalah bahasa kebahagiaan, sekaligus bahasa kedukaan.

Jika kau mencintai seseorang, maka ungkapkanlah.. Jika kau merindukan seseorang, maka katakanlah.. Sebelum terlambat dan ia semakin hilang, karena waktu tak akan pernah kembali, ia kan terus bergulir menjemputnya dan membawanya kian menjauh pergi. Jangan kau dekap erat sang duka. Usah kau simpan lara sendiri. Maka, jemputlah sang cinta..

Hanya sebaris rindu buat sesiapa yang punya cinta di Qolbu…
…dan didalam kekangan waktu mencari redhaNya aku seperti kehilangan, mencari cinta manusia selepas mencintainya!. Ketika cinta laluku kembali menghadirkan wajahnya,  kulihat alam ikut bersedih melihatku. Sememangnya dia telah berpunya. Dipunyai sang dunia yang datang tiba tiba… dan aku kembali menjadi  pencinta gila yang berharap menemukan anggur kasihnya menyemburat disekeliling nafas hidupku!

Seharusnya aku perlu menghidupkan sebuah kehidupan yang mulia sebagai jalan mencarinya diakhirat sana. Ketika waktu menghadirkan kesejatian, lalu mengajak ku bertanya kenapa aku harus terus menarikan huruf cinta melingkar lingkar merangkaikata mengenangkannya?. Sedangkan Tuhan telah menurunkan sekeranjang buah keharuman jiwa dihadapanku untuk aku menebarkan wangian  keabadian itu untuk manusia menyedutnya.  Ketika waktu kembali bertanyakan pada ku. Menanya kesungguhanku. Akankah aku tempuh jalan kesucian ini dan akankah ku larikan jiwaku ini dipadang alam menumpah sujud sujud ku dan merengkuh malam malam dakwahku sampai jiwaku terengkuh dalam dakapanNya?

Memang aku mengharapkan Dia menebarkan hawaNya disekeliling nafas hidupku untuk menyedarkan aku bahawa jalan kesucain yang kutempuh ini akan memberi ilham jari jemariku menari kan tulisan menanamkan benih kesejatian dan kuharap dari karya yang sederhana ini bisa menghilangkan kegelisahan jiwa jiwa manusia!

Dalam menengok dunia yang serba sepi ini, dapat aku fahami bahawa cinta yang agung itu sebenarnya ialah sentiasa memuliakan jiwa dalam ketulusan dan semangat yang mengelora untuk senantiasa menghadirkan diri dihadapan Sang hidup yang terus hidup… dan dalam sebaris rindu ini aku mengharapkan dalam detik hati nya sudi untuk bertemu ku disana … mungkin!
muharrikdaie ~ dalam dakapan senja
(http://muharrikdaie.wordpress.com/2011/02/15/hanya-sebaris-rindu/)

Kehidupan manusia, tidak terlepas dari dunia romantisme. Sebuah anugerah dari Sang Maha Pemberi Cinta. Sebuah dunia yang berisi tentang bahasa perasaan. Sebuah gejolak rasa yang tumbuh dari dalam hati karena hadirnya sebentuk wujud keindahan. Sebuah fithrah yang hadir karena sebentuk kejujuran, sebuah fithrah yang lahir karena hati yang mendamba belahan jiwa. Adalah manusiawi jika manusia mencintai, adalah manusiawi jika manusia mengagumi. Adalah manusiawi jika manusia menyimpan asa, cita, dan harap kepada yang dicintai. Bila getar-getar itu datang, maka siapa yang bisa menghindari? Siapa yang mampu menolaknya?. Cinta, bisa membersihkan akal dan nurani, menjadi cerdas dan baik karenanya. Namun cinta pun bisa membutakan hati. Merusak tatanan cinta kepada Ilahy yang dengan susah payah dibangunnya. Ibarat menghancurkan sebuah bangunan yang telah berdiri kokoh. Tinggal kita yang memilihnya. Akan kemana arah cinta yang telah di anugerahkan Sang Kholik kita bawa?. 


Wallahu a'lam bishshowwab

Monday, April 11, 2011

Jodoh di Akhirat


Kemarin sore, 10 April 2011, saya bersama sahabat saya, Atik Zuhriyah menghabiskan waktu sore dengan berjalan-jalan bersama. Tahun ini, Ms. Atik (panggilan akrab saya padanya), berencana resign dari sekolah tempat saya mengajar dulu dan kembali ke kampung halamannya di Kebumen. Saya resign lebih dulu dari Ms. Atik, yaitu pada tahun ajaran 2010-2011, sedangkan ms Atik berencana resign tahun ini. Waktu yang tersisa untuk kebersamaan kami hanya tinggal sampai akhir Juni saja, setelah itu karena jarak yang jauh, Wallahua'lam.. apa kami masih bisa bertemu lagi atau tidak?. Untuk itu, kami berusaha memanfaatkan sisa-sisa waktu yang masih Allah berikan untuk kebersamaan kami.

Ms. Atik, adalah sahabat dekat saya selama masa perantauan sejak tahun 2008. Kami bertemu bulan Juli 2008 di sebuah sekolah swasta tempat kami mengajar. Saya berkenalan dengannya tanggal 8 Juli 2008  pada saat saya mengikuti tes penerimaan guru di sekolah tempat kami mengajar. Ms. Atik lebih dulu diterima disana sedangkan saya belakangan karena memang mendaftarnya sudah dekat awal tahun ajaran baru 2008-2009. Setelah sama-sama mengajar di sekolah tersebut, Allah mendekatkan kami dalam ukhuwah yang elok. Hingga saat ini, saya tidak pernah mencatat sedikit pun kekesalan atau sakit hati pada ms Atik. Ms. Atik, adalah salah satu sahabat terbaik yang pernah saya miliki sepanjang usia saya hingga saat ini. Semoga Allah menjaga ukhuwah ini tetap baik hingga akhirat. Aamiin..

Saya menjemputnya pukul 15.00, sambil menunggu adzan asar dan datangnya waktu sholat. Setelah asar barulah kami berjalan-jalan. Saat keluar dari kawasan perumahan di Blok JI Bumi Mutiara, kami bertemu salah satu rekan di tempat mengajar yang lama, Rahmi. Saya menghentikan motor saya di depan motornya kemudian bersilaturahhim dari atas motor masing-masing dan bersalaman. Saat itu Rahmi membonceng seorang rekannya yang tidak saya kenal, sedangkan ms Atik mengenal orang tersebut adalah salah satu guru swasta di sekolah lain di kawasan Villa Nusa Indah 2. Setelah itu kami berpisah melanjutkan perjalanan masing-masing.

Saya dan ms Atik melanjutkan perjalanan ke daerah Cileungsi Bogor, rencananya kami hendak ke gudang sebuah penerbit buku di daerah Perumahan Permata Hijau Cileungsi. Ms Atik minta ditemeni mencari buku Tafsir Jalalain, menurutnya jika mencari buku langsung di pusat penerbit/gudangnya, akan lebih murah dibandingkan dengan membeli ke toko-toko buku. Harga buku ini berkisar Rp. 700.000. Lumayan mahal untuk ukuran harga sebuah buku. Saya sendiri tidak mengagendakan hari itu untuk membeli buku, hanya saja jika ada buku yang menarik hati saya akan saya beli. 

Setelah berputar-putar di sekitar alamat yang dituju, kami tidak melihat aktivitas pada alamat tersebut. Hanya sebuah ruko kosong yang tak berpenghuni. Akhirnya kami berinisiatif bertanya pada seorang pedagang di dekat ruko. Sang Bapak penjual makanan kecil, menggunakan koko hijau tua wajahnya bersih memancarkan cahaya, jenggotnya agak lebat dan sebagian sudah memutih. Beliau menjelaskan bahwa penerbit buku itu sudah pindah. Kemudian beliau merekomendasikan kami untuk mencari buku ke sebuah tempat yang tidak jauh dari sana yaitu Studio Al Barkah. "Toko buku itu sudah pindah neng, ke Studio Al Barkah saja, disana ada buku apa saja. Lengkap neng". Begitu Sang Bapak menjelaskan. Setelah mengucapkan terima kasih kepada beliau, kami pun berpamitan menuju tempat yang direkomendasikan. Mendengar nama tersebut, fikiran saya langsung mengarah pada sebuah jama'ah. Dengan tetap berhusnudzhon dengan niat membeli buku, akhirnya kami pun melanjutkan perjalanan ke toko buku yang disebutkan sang Bapak. 

Ternyata dugaan saya benar. Toko buku yang kami singgahi memang adalah toko buku sebuah jama'ah  yang identik dengan isbal dan cadar. Saya sempat melaju saja di depan toko buku yang dimaksud karena perasaan saya agak tidak enak mampir di toko buku yang hendak kami tuju karena kerumunan orang-orang isbal dan cadar tersebut masih ramai. Saya menghentikan motor sekitar 500 m dari toko buku tersebut kemudian bertanya kepada Ms Atik apakah akan mampir atau tidak. Ms Atik pun menyarankan mampir saja karena toh niat kami adalah mencari buku bukan apa-apa. 

Sesampainya disana, ternyata toko buku tersebut terletak di depan sebuah masjid jama'ahnya dan seperti baru selesai mengadakan kajian. Banyak orang berlalu lalang di sepanjang jalan kecil di depan toko buku tersebut. Mereka baru pulang setelah mengikuti kajian. Diantara kerumunan orang-orang berjenggot tebal, bercelana isbal, dan cadar yang berkibar tersebut, kami berdua memang nampak seperti orang aneh. Banyak mata yang memperhatikan kami dengan tatapan aneh. Aku pun sempat bergidik ngeri, apa penampilanku ada yang salah ya...? hihihi.. Saat itu ms Atik menggunakan baju kaos muslimah berwarna soft pink dengan celana panjang berwarna hitam dan jilbab coklat. Sedangkan saya, menggunakan jilbab yang tak kalah ngejreng warnanya, Pink. Dipadu baju kurung muslimah yang juga berwarna pink dan rok hitam, nampaknya saya dan ms Atik lagi kompak, menggunakan pakaian yang sama-sama berwarna pink sedangkan orang-orang di sekitar kami nampak menggunakan pakaian berwarna gelap. 

Setelah mampir ke toko buku tersebut dan melihat-lihat sebentar, kami tidak menemukan buku yang hendak kami cari dan yang ada hanya buku-buku tertentu saja dan tentu saja diterbitkan oleh jama'ah tersebut. Akhirnya kami pun kembali melanjutkan perjalanan ke Kampung Cina Kota Wisata. Seringkali, jika kami berdua hendak pergi ke suatu tempat, saya bisa memperkirakan lebih dahulu bagaimana kondisi tempat yang akan kami singgahi melalui feeling (entah dari mana, munculnya hanya bersifat spontanitas dari alam fikiran saja). 

Sesampai di Kampung Cina Kota Wisata, ms Atik berencana membeli manggis. Namun buah yang dicari tidak ada, akhirnya ms Atik membeli sebungkus rujak. Selanjutnya kami berencana duduk di pinggir danau  Kampung Cina sembari menikmati sepanjang sore hari sambil makan rujak dan membaca koran Kompas yang saya beli Sabtu sore sepulang kuliah. Tak disangka, baru saja hendak memarkir motor dan mencari tempat duduk di pinggir danau, dua orang satpam menegur semua orang yang duduk di pinggir danau untuk memarkir motor di parkiran Kampung Cina. "Parkir motor di parkiran saja bu!". Tegur dua satpam berbadan besar tersebut. Sontak semua orang kaget dan kabur meninggalkan danau. Sembari mencium aroma tak sedap di pinggir danau, kami berdua pun akhirnya membatalkan rencana bersantai di pinggir danau dan melanjutkan perjalanan. "Ms, aku tahu tempat yang lumayan enak untuk menghabiskan waktu sore sambil rujakan", ujarku kemudian. "Dimana ms?, ya terserah ms Fithri aja deh dimana, aku ikut." balas ms Atik. "Oke deh". 

Saya memacu motor ke kawasan Villa Nusa Indah 5 dan masuk ke Cluster Kasuari. Disinilah saya pernah tinggal selama satu tahun, ketika awal merantau di kawasan Bekasi - Bogor. Rumah kakak pertama saya berada di sini. Dahulu, ketika keponakan pertama baru berusia beberapa bulan, kami (saya, adik laki-laki saya, dan sepupu yang bekerja sebagai pengasuh keponakan) sering menghabiskan waktu sore di sebuah taman belakang Cluster Kasuari. Taman ini dilengkapi dengan tempat duduk yang terbuat dari semen. Dulu, sekitar tahun 2008, belum banyak tanaman di sekitar taman ini sehingga sungai di seberangnya masih bisa terlihat dan perumahan disini belum banyak penghuni alias masih sepi. Sekarang beragam tanaman di pinggir sungai sudah tumbuh meninggi sehingga sungai yang biasa kami sebut kali Villa 5 sudah tidak terlihat lagi karena tertutup tanaman-tanaman itu. Kami menghabiskan waktu hampir 1 jam disini, sembari bercerita dan menikmati makanan yang kami beli. Saya membawa bekal dari rumah, oleh-oleh dari ms Esti dari Ngawi dan Stik Keju yang saya bawa seminggu lalu dari Palembang. 

Cerita di antara kami tidak pernah lepas dari kisah takdir yang harus kami jalani. Setiap manusia hidup dengan garis takdirnya masing-masing. Terkadang, dalam takdir tersebut kita tidak punya pilihan lain karena hanya ada satu pilihan yang tak bisa kita tolak. Ms Atik, yang baru akan resign akhir Juni nanti merasakan kesedihan karena akan kehilangan pekerjaan dan memulai karir dari nol lagi di kampung. Selain itu, di kampung nanti  ia akan menggantikan peran ibu (almarhumah) karena adik dan ayahnya hanya tinggal bertiga saja di kampung. Namun ia tak memiliki pilihan lain, karena semua itu adalah tuntutan keluarganya di kampung. 

Setahun lalu, ketika saya hendak resign saya pun merasakan hal yang sama dengan Ms Atik. Rasa sedih akan kehilangan pekerjaan dan harus memulai karir dari nol lagi, dan yang paling penting adalah kehilangan sahabat-sahabat yang sudah lama saling mengenal dan bekerja bersama-sama. Namun, saat itu tekad saya sudah bulat. Saya sudah tidak kuat berada dalam kondisi itu. Pada sebuah alasan, yang mungkin sebagian orang telah mencemooh saya atas pilihan resign. Saya ditakdirkan untuk berta'aruf dengan rekan kerja sendiri dan ternyata saya tidak kuat berada dalam kondisi seperti itu. Saya, hanya ingin menjalani ta'aruf dengan tenang tanpa terlalu sering bertemu dengan orang yang sedang ta'aruf dengan saya. Mungkin alasan tersebut dianggap sebagian orang tidak masuk akal. Tapi, takdir ini saya yang menjalani, bukan orang lain. Sehingga orang lain yang tidak mengalami apa yang saya alami memang akan sangat mudah mencemooh dan mencibir saya atas pilihan resign tersebut. 

At least, semua sudah menjadi masa lalu yang meninggalkan trauma mendalam dalam hidup saya. Seumur hidup, saya tidak pernah membayangkan akan mengalami hal ini, ujian yang datang bertubi-tubi. Saya belum pernah mengenal laki-laki lebih jauh sebelum ta'aruf tersebut. Saya juga berusaha untuk menjaga diri agar tidak terkena penyakit hati dengan ikhwan mana pun karena bagi saya perkara hati sangat  sensitif dan berbahaya jika tidak bisa memanajenya sebaik mungkin. Saya lebih memilih untuk menjaga hati  untuk orang yang sudah Allah takdirkan menjadi jodoh saya. Untuk itu, ketika ta'aruf sudah berjalan pun saya tetap berusaha menjaga diri agar tidak terkena fitnah hati atau pun menyebabkan orang yang ta'aruf dengan saya terkena penyakit hati. 

Setelah lamaran, ketika orang yang berta'aruf dengan saya meminta saya memanggilnya dengan panggilan khusus/namanya saja, saya mengatakan dengan tegas kelak setelah akad baru saya akan memanggilnya dengan nama khusus. Begitu pula ketika ia menanyakan apakah saya menyukainya atau tidak, saya tetap keukeuh tidak menjawab iya atau tidak, tapi saya menyerahkan pada dirinya sendiri untuk menilai apa saya menyukainya atau tidak karena bagi saya mengungkapkan perasaan suka atau cinta pada orang yang belum halal dan belum tentu jodoh kita masih tetap haram hukumnya. Kelak, setelah akad, barulah saya akan mengungkap semua kata cinta pada orang yang benar-benar telah halal dan terikat dalam akad (mistsaqon gholizoh) pada saya. 

Banyak yang mengatakan saya kaku dan keras. Terserah, saya tidak memperdulikan hal itu. Saya hanya berusaha istiqomah menjaga diri. Saya tidak ingin membuat orang lain terkena penyakit hati lantaran pernyataan cinta yang belum saatnya. Belakangan, karena masalah perbedaan pemahaman inilah orang yang ta'aruf dengan saya memutuskan membatalkan rencana pernikahan yang 90 % hampir matang dan terlaksana.  Ia pernah mengatakan pada salah seorang teman, bahwa saya tidak benar-benar menyukainya. Ya, kami berbeda pemahaman tentang cinta. Saya memahami bahwa cinta belum boleh diungkapkan atau diobral murah sebelum akad terucap, sedangkan orang lain berfikir bahwa karena tindakan saya yang tidak berani mengungkap cinta atau memanggil dengan nama khusus sebelum akad nikah menunjukkan bahwa saya tidak suka padahal saya hanya berusaha untuk menjaga diri dari bukan muhrim meski pun dia calon suami,  ia tetap bukan muhrim saya. Penjagaan diri tetap harus dilakukan agar semua menjadi berkah dan indah ketika sudah tiba saatnya/setelah selesai ikrar dan akad. Ah, masa lalu.. Nyaris tiga tahun sejak awal Allah mempertemukan kita hingga semua selesai sudah, saya sudah tak bisa mengingat lagi semua sakit yang tergores di hati ini karena lukanya datang bertubi-tubi. Sudah tak tahu, seperti apa gambaran hati ini karena sayatan-sayatan luka itu sudah sedemikan banyak.  Hanya satu kata yang tersisa, Sakit!.

Goresan takdir, tidak hanya melukai hati saya namun juga hati kedua orang tua saya, terutama ayah karena akhirnya ayah jatuh sakit. Sosok ayah adalah panutan dengan cinta tak berbilang karena dari beliaulah saya terlahir ke dunia. Ayah, hendak mengamanahkan putrinya pada orang yang akan menggantikan kedudukannya, menjaga, menafkahi, melindungi, dan membahagiakan putrinya.  Namun, jika orang yang diharapkan memegang amanah tersebut juga tidak kuat tekadnya, bagaimana seorang ayah akan ikhlas melepas putrinya?, ikhlas memang tidak semudah mengatakannya. "Papa lihat, dari awal dia maju mundur sama kamu. Sepertinya tekadnya padamu memang tidak bulat. Ya sudah, ikhlaskan saja. Mungkin memang bukan jodohmu". Gerimis dan gemuruh kilat menghantam hati karena sebelumnya kalimat Papa bukan itu melainkan, "kalau kalian memang berjodoh, pasti akan ketemu lagi". Saya menyadari sepenuhnya, melihat gelagatnya yang seperti itu, maju-mundur dan tidak ada ketegasan, akhirnya saya ikut terbawa maju-mundur dan juga tidak berani tegas karena ada rasa khawatir menyakiti orang lain yang sudah berniat baik.

Ikhlas, kata yang indah. Berkali-kali saya diuji dengan satu kata ini. Dengan kasus yang sama pula, dan berhadapan dengan orang yang sama. Awalnya, ikhlas diisengi dan dicandai melalui tindakan-tindakan yang membuat saya tidak nyaman di lingkungan kerja ketika awal diterima bekerja, kemudian ikhlas menerima ta'arufnya lalu disakiti dengan perselingkuhannya dengan rekan kerja yang lain di awal akan menjalani ta'aruf karena iseng dengan dalil dosa tidak berasa, selanjutnya kembali ikhlas ketika ia mengajukan ta'aruf lagi, lalu bersama-sama meluruskan niat membangun rumah tangga. Selanjutnya, ikhlas lagi karena harus memilih resign, kehilangan pekerjaan dan memulai dari nol lagi karena kesepakatan sebaiknya tidak bekerja di satu lingkungan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan di lingkungan kerja. Lalu, ikhlas lagi ketika ia membatalkan rencana lamaran setelah saya meminta untuk ikut ke Palembang karena kedua orang tua tidak ada yang menemani, kemudian ikhlas lagi ketika ia mengajukan perbaikan ta'aruf ketika saya kembali ke Jakarta karena diterima di sebuah sekolah di Bekasi. 

Kemudian, ikhlas lagi ketika sahabatnya meminta rumah yang saya dapatkan untuk sahabatnya saja, sedangkan kami setelah menikah diminta tinggal di kosan dengan mengatasnamakan barang-barang yang dia miliki akan ditinggalkan untuk teman sekosnya jika saya tidak mau tinggal di kosan setelah menikah, kemudian ikhlas kembali saat ia meminta lamaran di Jakarta dengan kata lain orang tua saya yang datang ke Jakarta bukan dia dan keluarganya yang ke Palembang dengan dalil biar sama-sama adil, lalu ikhlas lagi dengan semua kejadian-kejadian di luar perkiraan dan perkataan-perkataan yang menyakitkan di saat persiapan pernikahan. Selanjutnya ikhlas lagi ketika semua rencana pernikahan yang hampir matang ia batalkan karena saya sakit hati dengan semua perlakuan dan tindakannya yang nampak tidak jelas, tidak tegas, dan tidak menghargai. Kemudian ikhlas lagi menerima  fitnah yang terjadi setelah pembatalan rencana pernikahan tersebut. 

Saya difitnah dengan perkataan-perkataan yang tidak pernah saya lakukan. Meminta puluhan juta, matre, banyak maunya, dan keras kepala. Padahal saya dan keluarga tidak pernah meminta puluhan juta, yang benar adalah dia dan keluarganya sejak lamaran tidak ada inisiatif untuk membantu hingga menjelang pernikahan barulah saya memberanikan diri mengajaknya berdiskusi membahas anggaran pernikahan, itu pun inisiatif membicarakan anggaran pernikahan muncul dari saya bukan dia sebagai laki-laki yang hendak menikahi, dan semua anggaran pernikahan itu berasal dari dana tabungan saya dan uang keluarga saya kecuali undangan dan souvenir yang direncanakan dia yang memegang tanggung jawab itu. Saya dikatakan matre karena jebakan sahabatnya yang meminta rumah kontrakan yang saya dapatkan untuk sahabatnya saja dengan dalil barang-barang yang dia miliki akan diberikan semua pada sahabatnya jika saya mau tinggal di rumah kontrakan yang saya dapatkan bukan di kosannya dan saya memilih mengikuti kemauannya untuk tinggal di kosnya setelah menikah karena dia ingin barang-barang tersebut tetap jadi miliknya bukan milik sahabatnya itu, saya dikatakan banyak maunya padahal setiap kemauan saya tidak ada yang dipenuhi, melainkan kemauannya yang terus menerus saya dan keluarga ikuti, hingga kedua orang tua saya rela datang ke Jakarta untuk menerima lamarannya demi memudahkan niat baiknya. Saya dikatakan keras kepala, karena saya berusaha keras menjaga diri, sehingga sebagian orang mengatakan saya kaku dan keras. 

Cacing saja jika terinjak kaki manusia akan menggelepar pertanda ingin membela dan menyelamatkan diri, apa lagi saya yang notabene manusia, punya hati, punya jiwa, punya rasa. Saya tidak akan marah dan sakit hati jika tidak ada hal yang membuat saya menjadi marah dan tersakiti. Apa dosa dan salah saya hingga harus disakiti bertubi-tubi dan akhirnya menyakiti keluarga saya juga?. Apa kemudahan-kemudahan yang tidak saya dan keluarga berikan?. Akhirnya, pada sebuah titik saya hanya bisa berdo'a, "Ya Rabb, jika hamba dizalimi, hamba mohon pertolonganMu dan dengan idzinMu, bersihkanlah kembali nama baik hamba". Entahlah.. apa yang sebenarnya dia inginkan dari saya hingga semua ini harus terjadi. Yang jelas, miss komunikasi, perbedaan pemahaman, dan mudahnya bercanda di saat situasi yang tidak tepat membuat semua berantakan dan semakin runyam selain faktor takdir Allah yang sudah menggariskan akan seperti ini akhir ceritanya.

Ikhlas.. terus-menerus ikhlas.. dari awal mengenal hingga sekarang. Ikhlas mencintai, ikhlas memaafkan, ikhlas melepaskan, ikhlas disakiti, ikhlas di fitnah dengan fitnah yang tidak pernah saya lakukan, ikhlas dengan semua takdir yang Allah tetapkan. Ikhlas untuk tidak lagi mengenal laki-laki. Cukup satu kali sakit hati. Cukup satu kali mengenal laki-laki, selanjutnya.. siapa pun dia, biarlah laki-laki itu datang di akhirat nanti.

Sore itu, saya dan ms Atik menghabiskan waktu hingga maghrib di Rumah Makan Bebek Cabe Hijau di kawasan Villa Nusa Indah 2. Setelah maghrib, kami menikmati makan malam disana. Percakapan tentang takdir kembali terungkap. Kami membahas perjalanan lucu yang kami lalui hari itu. Hingga tentang rencana pulang kampungnya ms Atik. Do'a dan harapan sering kami ungkap bersama diselingi kata "aamiin" di akhir perbincangan kami. Ms Atik menceritakan sahabat dekatnya saat kuliah yang  mirip dengan saya yang datang di mimpinya semalam. Sedangkan saya  bercerita tentang sahabat dekat saya saat kuliah yang juga mirip dengannya. Mungkin untuk itulah kemudian Allah mempertemukan kami berdua menjadi sahabat, karena sahabat kami di kehidupan sebelumnya saling mirip. Percakapan berakhir pada sebuah pertanyaan dari ms Atik, "Ms.. siapa ya jodohku nanti?", ujarnya pada saya. Aku menjawab ringan, "insyaAllah orang baik ms, karena ms Atik orangnya baik, aamiin", jawab saya singkat dibalas dengan aamiin pula darinya. Kami sempat membahas tentang orang-orang sholih yang tidak menikah hingga akhir hayatnya. Diantaranya Rabi'ah Al Adawiyah, Ibnu Taymiyah, dan ibnul Qoyyim Al Jauziyyah. Saya mengatakan pada ms Atik tentang isi hati saya, bahwa saya sudah tak punya keberanian  untuk mengenal laki-laki lagi dan sepanjang sisa hidup akan saya persembahkan sepenuhnya untuk perbaikan diri, ibadah, dan amal sholih. Ms Atik hanya menasihati singkat. "Jangan begitulah ms, kelak ms Fithri pasti akan mendapat ganti yang jauh lebih baik lagi dari yang kemarin". Saya hanya tersenyum kecil. Tidak menjawab perkataannya. Dalam hati saya hanya bergumam, "Sayang sekali.. hati ini sudah sedemikian sakit dan pintunya sudah saya tutup rapat dan kunci."

"Aku tidak tahu kapan aku meninggal. Saat ini, aku hanya ingin mengisi sisa hidupku dengan perbaikan diri, ibadah, dan amal sholih, selebihnya hidupku hanya akan ku persembahkan untuk Allah. Ku fikir ini bukanlah sesuatu yang salah. Menikah itu salah satu sunnah yang dicintai Allah, masih ada banyak sunnah-sunnah lain yang bisa kita lakukan selain menikah. Aku sudah tidak berani mengenal laki-laki lagi lebih mendalam (ta'aruf), cukup satu kali dalam hidupku aku disakiti selebihnya aku sudah tidak ingin disakiti apa lagi menyakiti. Pengalaman ta'aruf kemarin sudah benar-benar membuatku tidak memiliki keberanian lagi untuk melangkah mengenal laki-laki. Oleh karena itu, tawaran ta'aruf lagi yang sempat datang padaku tak bisa ku follow up lebih jauh, karena hatiku sudah tertutup untuk siapa pun. Dalam kondisi seperti ini aku juga sudah tidak memiliki keberanian untuk menikah, tapi aku tidak membenci pernikahan karena aku faham pernikahan adalah ibadah sunnah yang disukai Allah dan Rasul. Tentang siapa jodohku nanti, entah di dunia atau di akhirat Allah beri, aku sudah pasrah, aku hanya meyakini bahwa masing-masing kita diciptakan berpasang-pasangan. Dan bagiku, episode pasangan dunia sudah selesai. Sisa hidupku hanya akan ku abdikan sepenuhnya untuk Allah, hatiku hanya ku persembahkan untuk mencintai Allah. Aku, tidak akan membuka hati lagi untuk siapa pun. Cukup Allah saja di hati ini. Cukup sekali saja aku mengenal laki-laki di dunia."

"Ada Rabiah Al Adawiyah, yang mempersembahkan sisa hidupnya dengan taubat dan ibadah sepenuhnya hanya pada Allah. Ada Ibnul Qoyyim Al Jauziyah, yang juga mempersembahkan sisa hidupnya hanya untuk beribadah kepada Allah di balik jeruji penjara dan menghasilkan karya-karya maha indah yang kemudian menjadi inspirasi bagi umat Islam di masa-masa selanjutnya. Ada Ibnu Taimiyah, guru Ibnul Qoyyim yang juga berdakwah di balik jeruji penjara dan juga menghasilkan karya-karya besar. Mereka adalah orang-orang yang tidak menikah hingga akhir hayatnya. Mereka mempersembahkan sisa hidup sepenuhnya untuk Allah. Dan aku.. aku pun ingin seperti mereka, mempersembahkan sisa usia hanya untuk Allah, perbaikan diri, ibadah, dan amal sholih. Aku.. sudah tidak ingin lagi mempersembahkan hati untuk dua tempat. Allah dan lelaki. Tidak!. Sungguh demi Allah tidak. Cukup 1 saja zat yang ada di hati ini. Cukup Allah di hatiku."

"Cinta itu hanya ada dua sisi. Cinta yang halal dan cinta yang haram. Cinta yang halal itu halal, yaitu cinta yang ada antara pasangan yang terikat dalam pernikahan, yaitu cinta antara suami dan istri. Cinta yang haram itu haram, yaitu cinta yang ada tanpa ikatan pernikahan atau akad. Misalnya cinta antara sepasang muda-mudi yang mengikat hati tanpa akad pernikahan. Kedudukannya tidak bisa disamakan atau dicampuradukan. Aku, ingin memilih cinta yang pertama, cinta yang halal. Jika tak ku dapatkan pasangan hidup di dunia, aku yakin di akhirat Allah sudah menyiapkannya untukku nanti. Jodoh di akhirat."

Berkali-kali, saya terus menyemangati hati dengan sebuah kalimat, "Jangan berputus asa dari rahmat Allah, Jangan berputus asa dari rahmat Allah". Tapi, saya sudah memutuskannya, sudah cukup sekali seumur hidup saja. Sisanya, hanya untuk mencintai Allah. Rabb.. semoga ini bukan sebuah dosa. Aamiin..

Hidup, adalah sebuah pilihan. Setiap pilihan akan kita pertanggungjawabkan. Inilah pilihanku, inilah jalan hidupku. Hiduplah dengan pilihanmu sendiri, bukan pilihan orang lain. Wallahua'lam..