Wednesday, June 30, 2010

Untuk Seseorang yang Hendak Menjadikanku Belahan Jiwanya

Selamat malam wahai seseorang yg hendak menjadikanku sbg tulang rusukmu.. ingin ku sampaikan padamu bahwa amanah itu bukanlah amanah ringan yg bs kau permainkan sesuka hatimu. Hati itu rentan, terkadang ia rapuh. Jk luka, ia akan lama sembuh. Maka, jagalah amanah itu agar tetap dalam perlindungan dan keberkahan Allah.

Selamat malam wahai seseorang yg hendak menjadikanku sbg belahan jiwamu, ingin ku sampaikan bahwa terkadang aku tak bs mengerti rasamu, namun terkadang ku bs merasa rindumu.

Bersambung..

Monday, February 15, 2010

Tahajud Rindu



Malam-malam berlalu. Detik usia berkurang satu per satu. Hiruk pikuk dan gaduh dunia melalaikan jiwa-jiwa pemburunya. Tak jarang hela nafas terbuang sia. Namun bagi para pencinta, malam adalah waktu terindah yang dinanti, kehadirannya laksana pelepas dahaga akan cinta terdalam pada Sang Kekasih. Disana tak ada takut, tak ada ragu, tak ada sepi, krn hati bersorai menyambut uluran cinta Kekasih Tertinggi. Disana tak ada cerita tentang luka dan patah hati, tak ada kisah tentang sayap-sayap patah apa lagi tepukan Sebelah tangan. Tak ada kisah tentang air mata yang berderai-derai karena duka ujian, karena disana cinta tak pernah mengenal sayap-sayap patah, apa lagi tepukan sebelah tangan. Disana semua cinta terbalaskan, semua do’a terkabulkan. Disana hanya ada kebahagiaan karena jiwa memeluk erat cinta Sang Maha Pemberi Cinta. Jikalau pun ada air mata, hanya karena seruan agung menyambut pahala dan ladang amal sholih. Karena seberat apa pun ujian, pasti mengandung kebaikan. Dan semua kisah mengandung hikmah, Allah telah mengukur dan mengaturnya, kepada siapa IA akan memberikan ujian tersebut.

Ketika hidup hanya disandarkan kepada Allah dan dijadikan sarana ibadah kepadaNYA, semua keluh kesah, duka karena ujian dan musibah menjadi mentah karena segala ketentuan Allah menjadi baik adanya. Menjadi ladang pahala dan amal sholih yang tiada bandingnya. Tahajud-tahajud rindu itu pun bertemu muaranya. Berpeluh kisah laksana cahaya keshalihan yang meramaikan surga. Merekalah para pencari kesejatian dalam penghambaan, merekalah para perindu kenikmatan tiada tara yang dijanjikan. Merekalah jiwa-jiwa yang membahasakan rindu dalam tahajud akan kuasa Tuhan. PadaNYA cinta tercurah, padaNYA rindu bertaut, padaNYA asa senantiasa terjawab. Lewat khusyuknya sujud dan syahadat tahyat yang mesra.

Menyatalah cinta pada setiap helaan nafas. Dalam lantunan ayat suci dan dzikr, ketika menanti panggilan mulia melalui adzan di shubuhnya yang syahdu.

Ya Allah.. jadikanlah malam-malam hamba sebagai malam cahaya dan terbenam dalam rindu tahajud kepadaMU.

Bumi Mutiara, 03.00 wiib. 21 Shaffar 1431 H – 05 Februari 2010

Tuesday, January 19, 2010

Hujan di Muharram


Muharram disapa hujan, tetes demi tetesnya jatuh basahi alam. Menyatu dengan tanah, bagai persenyawaan yang membentuk sari pati kehidupan. Mengukir indah laju perjalanan.


Di balik jendela, seorang perempuan muda melempar pandang ke luar, duduk menatap hujan. Meresapi Kemahabesaran Tuhan atas rahmat hujan. Baginya ia bagai kekasih yang lama dirindukan. Hatinya pun brseru, "Baarokallah.. untuk para pencinta dan perindu hujan.. Mengapa tak kau sulam benang-benang asa ketika mentari tersenyum menyambut pagi?, sambutlah kesejukan yang memenuhi ruang hati".


"Ufuk sinarnya kan memberkas cita, dan bermekaranlah bunga-bunga jiwa. Yang mati mulai tumbuh, yang layu mulai tegak, yang kuncup mulai mekar merekah. Jangan ragu mengambil langkah wahai pencinta, karena hujan di Muharram tetaplah indah seindah sabda agung sang Nabi mengkhususkan ibadah shaum didalamnya. Seindah lantunan adzan di waktu shubuh yang menyeru kemenangan ketika para hamba pulas di buai mimpi. Maka, sampaikanlah shalawat kepadanya, layaknya cinta para pencinta dan perindu hujan mencari berkah di Muharram suci".


14 januari 2009. Bumi Mutiara, 04.00 am

Monday, January 18, 2010

Temaram Sinar

Setiap hari, aku masuk melalui pintu itu. Pintu berwarna putih di sebuah rumah tinggal sederhana berpagar hijau. Didepannya tumbuh berjejer tujuh pohon palem yang subur. Nampak asri ditambah beberapa kembang asoka. Bersamaku, tinggal seorang ibu setengah baya, sang pemilik rumah. Seorang janda tegar dengan pengalaman hidup sarat makna yang terlihat dari garis wajahnya.

Di salah satu ruang di sudut rumah itu, cahaya temaram lampu yang sinarnya samar menemani tiap hariku. Bersamanya aku menjalankan aktifitas, membaca buku, internet surfing, beribadah, hingga tidur dan bangunku. Bersamanya, aku mengurai detik-detik waktu. Mencoba hayati setiap masa yang berlalu dari tiap kisah yang ku lihat, ku baca, dan ku rasa. Yang meski samar, tetap ku coba bertahan belajar mengambil hikmahnya.

Suatu hari, kedua orang tuaku datang berkunjung. Mereka masuk ke ruangan bercahaya samar itu. Saat itu, thypesku kambuh untuk yang ketiga kalinya, dikarenakan terlalu lelah bekerja ditambah ada beberapa permasalahan yang cukup kompleks. Kedatangan mereka juga untuk menemani kelahiran putra kedua kakakku yang lahir pada tanggal 19 Oktober 2009. Itu kali pertama mereka datang menjengukku setelah sekian lama aku berusaha mandiri dan hidup dari hasil keringat sendiri. Orang tua yang selalu ku rindu. Mereka nun jauh disana, di kota kelahiranku.

Kali pertama mereka datang, Papa.. tertegun memperhatikan ruangan itu. Ruangan tanpa jendela, yang hanya ditemani oleh lampu yang sinarnya temaram. Hanya ada ventilasi kecil di atas pintu ruangan itu. Papa hanya diam seribu bahasa. Wajahnya berkerut, ia terlihat menahan sesuatu dibenaknya. Entah apa yang ia rasa. Sedih, kecewa, atau bangga melihat anaknya yang terkulai lesu. Ku coba menyelami perasaannya saat itu. Sedangkan Mama, maklum.. ibu-ibu.. banyak petuah-petuah yang keluar dari mulutnya. "Bisa baca buku terus ditemani lampu kecil begini?, apa ga sakit matamu?", bla-bla-bla, etc, en so on... Itulah pertanyaan yang paling nempel ditelingaku hingga saat ini karena terlalu banyak nasehat tentang kesehatan yang keluar dari mulutnya. Sedangkan Papa, tak banyak bicara namun menyiratkan sejuta makna. Papa.. ku tau kau sedih. Tapi jangan pernah khawatir, bukankah kau mendidik anak-anakmu menjadi tangguh? Setangguh burung yang terbang di angkasa. Insya Allah.. anakmu akan baik-baik saja, karena ada DIA yang selalu menjaganya :).

Ada sebuah tempat tidur cukup luas disana. Sebuah bupet, tempatku menyusun buku-buku favoritku. Di seberang tempat tidur itu, ada sebuah lemari tua bercermin bening. Disana aku sering melihat bayanganku, dengan seribu raut yang kadang aneh, lucu, lugu, narsis, hingga miris. Kini, Januari 2010, tiga bulan sudah berlalu sejak kedatangan kedua orang tuaku. Sejak "protes" lampu keluar dari mulut bunda tersayangku. Ku lihat sinar temaram lampu ruanganku. Cahayanya makin redup saja. Entah kapan akan berganti dengan lampu yang baru, yang lebih terang. Menunggu bu kos menggantinya ketika lampu itu putus dengan sendirinya..? atau.. membeli sendiri?. Entahlah, aku enggan memperhatikan lampu yang sering membuatku tersenyum itu. lampu "protes" mamaku. Protes yang menunjukkan rasa kasihnya. Kasih sayangnya yang selalu ku rindu. Mama.. Papa.. jangan pernah khawatir, karena temaram sinar lampu ruanganku tak kan pernah meredupkan sinar di hatiku. Insya Allah.. Amiin..

don't worry about me. B'coz Allah always with me :)

Tuesday, December 22, 2009

Terminal Revisi (Refleksi 1431 H)

Bertanyalah pada diri, tentang makna revisi dalam perjalanan hidup ketika bilangan usia terus bertambah. Sejatinya, setiap hela nafas itu berkurang. Lantas, berfikirlah, dimana iman kita letakkan, apakah ia menghujam ke dasar jiwa & menjadi cahaya didalamnya, menaungi setiap gerak gerik sehingga senantiasa merasakan pengawasan Allah hingga takut berbuat dosa, atau hanya sekedar lantunan kosong tak bermakna dlm setiap sujud yang meninggalkan noda pada prilaku kita.

Renungkanlah.. apakah semua itu ujian bagi org yg beriman, atau malah peringatan bagi orang-orang yang lalai & mudah tergoda dengan bujuk rayu syetan? karena tanpa kita sadari terkadang prilaku kita masih jahiliyah. Perkara inilah yang di benci dalam Islam karena itu Rosulullah brsbda "Seorang muslim tidak terjerumus dua kali di lubang yg sama". Lantas jika kmbali berulang maka itu adalah kegagalan dan musibah, dan musibah adalah peringatan. Kemudian, setelah tersadar dari khilaf berulang, tulislah daftar kesalahan dan keboddohan itu, kemudian revisilah diri agar kesalahan itu tidak berulang di masa datang.

Tanpa disadari kita menciptakan kebiasaan-kebiasaan tertentu dalam hidup kita. Kemudian kebiasaan tsb terpola secara otomatis dalam keseharian kita. Yang terbiasa bangun malam untuk melaksanakan tahajud maka akan memiliki kekuatan hubungan dengan Allah serta memberi dampak positif bagi ruhiyyahnya. Yang terbiasa membaca Al Quran, akan bersahabat dengan isi dan bacaannya. Yang terbiasa berpuasa maka akan terbiasa menjaga dirinya. Termasuk yang terbiasa dengan maksiat atau dosa-dosa pun akan menganggap maksiat atau dosa sebagai perkara yang biasa. Perkara dosa yang dibiasakan akan menyebabkan dosa itu menumpuk kemudian butalah mata hatinya sehingga tak mampu lagi melihat maksiat sebagai dosa.

Akhirnya, revisilah bagian usang dari hidup kita. Berkacalah pada cermin yang bening agar kita bisa melihat bagaimana diri kita sebenarnya. Bermuhasabahlah dan introspeksi diri selama kita msh di beri kesempatan untuk hidup di dunia. Kesalahan dalam menempatkan tujuan dan menjalani hidup menyebabkan hilangnya arah dan melemahnya iman sebagai pertanda hilangnya harapan. Padahal tidak ada harapan yang benar-benar hilang karena dari Allahlah kita memperoleh harapan. Kegagalan dalam proses perbaikan adalah ujian. Ujian adalah bentuk kasih sayang Allah karena dari sana keimanan kita sedang dibentuk. Disinilah terminal kita untuk melakukan revisi.

Mengakui kesalahan, memperbaiki diri dan berjanji, bertekad dengan azzam yang kuat tidak akan mengulangi. Kita hanyalah seonggok jasad hidup yg dipenuhi noda. Bagi yang tak memahami hakikat dirinya sebagai hamba yang hina akan kehilangan arah dan hidup tanpa tujuan yang jelas. Maka mulailah melangkah, rajutlah asa, camkan dalam jiwa bahwa hanya Allah tujuan dan taatilah Allah, rosulullah. Hiduplah dalam naungan iman dan Islam dengan kaffah.

Fithri Ariani
Refleksi Terminal Revisi Jelang 1431 H
Baarokallahulana.. ketika hela nafas masih diberi.
Ya Allah.. perbaikilah hamba. amiin.
17 Desember jam 23:07 ·

-ditulis setelah melaui tahun-tahun berjalan dengan beragam hikmah-

Thursday, December 10, 2009

Sajadah


Sesaat.. sajadah itu kembali menjadi saksi seonggok jasad lemah tak berdaya. Merunduk di bawah kuasa Sang Pencipta yang menjadikannya ada. Dengan kepasrahan ia berserah pada Pemilik Jiwa.


Di atas sajadah ia meminta. Robbana.. di pematangMu hamba bersujud, ketika adzan sayup memanggil. Mengadukan segala sesak di dada. Mengadukan segala beban di jiwa. Mengadukan asa yang tak kan sirna dengan segala warna yang Kau ciptakan. Agar ia menjadi indah seindah permata.


Iman layaknya mutiara. Ia membawa kepada jalan cahaya. Jalan orang-orang yang Allah beri petunjuk, agar mereka menjadi penyeru kebenaran di bumi-Nya. Dan merekalah orang-orang yang beruntung. Orang-orang yang beriman berserah diri sepenuhnya kepada Allah. Di kala malam mereka bangun, menghilangkan malas dan nikmatnya tidur. Kepasrahan menghantarkannya kepada kedamaian. Di sana segalanya mereka curahkan.


Sajadah.. menjadi saksi setiap hamba yang berserah diri. Menjadi saksi, ketika lafadz puja dan puji mengalir dari setiap lidah lisanul kahfi. Menjadi saksi setiap bulir air mata hamba-hamba yang bertaubat. Semoga sajadah-sajadah itu, menjadi saksi taubat kita di akhirat kelak. Amiin..

Ya Allah.. perbaikilah sholatku, ibadahku, dan amalku. Semoga bisa kembali khusyuk.. amiin..

Friday, November 20, 2009

Balada Negeri 1001 Boneka

Bismillaahirrohmaanirrohiim..

Artikel ini saya tulis pada hari Rabu, 18 Nopember 2009. Tidak lain untuk mengingatkan saya sendiri dan saudara/i saya yang lain. Setelah melalui pertimbangan yang matang, pemikiran yang panjang, pengeditan berkali-kali, dan konsultasi dengan beberapa pihak, barulah sekarang saya mempublikasikannya. Sungguh sangat berat bagi saya untuk mempublikasikan artikel ini, karena saya sendiri menyadari bahwa saya masih belum baik, masih penuh kekurangan di sana-sini, bahkan banyak dosa-dosa yang tidak saya sadari. Namun setelah melalui proses yang panjang, ketika lidah sudah terasa kelu untuk kembali mengingatkan, dan kekhilafan terjadi berulang-ulang dari salah seorang rekan, saya berkesimpulan akan lebih baik jika dalam proses perbaikan diri, kita tetap saling mengingatkan dengan saudara yang lain, meski hanya lewat tulisan. Diam ketika melihat kesalahan, maka lebih berdosa. InsyaAllah ini yang terakhir.

Artikel ini ditulis tidak untuk menghina atau memojokkan seseorang. Hanya sebuah evaluasi dari pengalaman ruhiyyah yang sarat makna. Sebuah evaluasi tentang adab-adab syar’i antara yang bukan muhrim. Sebuah evaluasi tentang hijab dalam arti yang luas. Sebuah evaluasi tentang proses perbaikan diri dalam penghambaan kepada Allah. Sebuah tulisan sederhana dari seorang hamba Allah yang dho’if, yang tidak ingin saudarinya terus menerus terjebak dalam lumpur kemaksiatan dan dosa. Sebagai pengingat saya sendiri untuk semakin istiqomah dalam memperbaiki diri. Semoga bisa memberi manfaat yang banyak bagi semua pihak, mejadi pengingat kita akan pengawasan Allah dalam setiap hela nafas, bisa diambil hikmah dan pelajarannya, serta menjadi parameter yang menghantarkan kita kepada keshalihan.

Kepada Allah saya memohon perlindungan dari segala fitnah, Ya Allah.. jauhkanlah hamba dari perbuatan yang sia-sia dan tidak berguna, dari penyakit-penyakit hati, dan dari kesalahan atau kekhilafan dalam membuat peringatan. Aamiin ya Robbal’alamiin..


Prolog
"Wajah tampan atau cantik, adalah karunia dari Allah, sekaligus ujian bagi yang memilikinya. Namun hakikatnya, orang tampan atau cantik, ujiannya menjadi dua kali lipat. Pertama, apakah dia bisa mensyukuri ketampanan/kecantikannya. Kedua, apakah dia bisa menjalankan amanah ketampanan/kecantikannya di jalan yang benar. Dengan wajah tampan, dia bisa menjadi playboy, misalnya, jelas bukan bentuk syukur dan menjalankan amanah yang benar. Begitu pula, mereka yang diberi paras cantik. Betapa banyak orang cantik yang menggunakan kecantikkannya untuk memperdaya laki-laki. Betapa banyak perempuan elok yang justru jatuh ke dalam kehidupan yang salah arah, 1). Alhamdulillah.. saya merasa bersyukur diberi tampang yang sedang-sedang saja, tidak cantik, jelek pun tidak. Jika saya cantik, saya khawatir malah tidak bisa bersukur dan tidak bisa mengemban amanah Allah tersebut dengan baik."

Prok..!! Prok..!! Brang!!
Prok..!! Prok..!! Brang!!
Dijual.. dijual.. sebuah boneka, murah meriah..!Siapa mau beli..?! Hayyooo..!! nanti keburu laku!!. Begitulah keriuhan pasar di negeri 1001 boneka. Menjajakan eksotikanya. Sebut saja, boneka Dola, syetan yang tak lain adalah pengikutnya, berjejer kemana pun ia melangkah. Mempromosikan Dola kemana saja. Siap pasang aksi, siap menjerat setiap mata masuk perangkapnya. Kubangan maksiat dan fitnah!. Na’udzubillah..

Prok..!! Prok..!! Brang!! Brang..!!
Prok..!! Prok..!! Brang!! Brang..!!
Dijual.. dijual.. (lagi)
sebuah boneka (lagi), murah meriah..! (lagi), Siapa mau beli..?! (lagi), Hayyooo..!! (lagi), nanti keburu laku!! (lagi). Dola (lagi).

Tersebutlah di sebuah negeri 1001 boneka (entah dari mana datangnya, anggap saja dari negeri antah berantah), terdapat sebuah boneka cantik jelita, mempesona setiap mata yang memandangnya, sedikit innocent, wajah tanpa dosa, bernama Dola.Dola, boneka cantik, berparas blasteran, dengan porsi body yang ideal, cukup berisi, tinggi, putih. Hidung bak “dasun tungga” bertengger di wajah cantiknya, 2). Mata berbinar indah seperti lautan membara. Suara merdu, lembut, syahdu, manja!. Bak irama lagu-lagu cinta para pujangga yang sedang kasmaran. Kadang bijaksana, mendayu, renyah dalam desah. Namun tak bisa tegas. Dandanannya agak semriwing hebring. Kadang rapi jali, kadang tabrak lari. Hingga membuat mata terpukau ingin melirik. Mirip artis sinetron yang mengisi infotainment-infotainment basi di negeri ini. Terutama mata.. ehm.. ehm.. yang tak kuat iman akan terjerat ikut menggoda Dola yang memang penggoda.

Entah mungkin sudah putus urat malunya. Tanpa fikir panjang, tanpa lihat rambu-rambu syar’i, tanpa tedeng aling-aling, tanpa toleh kanan toleh kiri, ia siap beraksi mencari mangsa perjaka. Semakin banyak yang terjerat, semakin ia bangga. Tanpa berfikir bahwa perbuatannya itu merusak dan dosa. Layaknya sinden yang bersiap menari, ia pun siap menjerat lelaki dengan selendangnya. Ia akan mentak-mentak jika gagal menjebak mangsanya. Sambil menggerutu, "Uugh.. kok gak luluh juga syhh…??", "Awas ya! Nanti ku…… (maaf, sensor!)", atau "Uugh.. kok ga bales-bales syiih?? Sebel!!!" (SMS atau pesan maksudnya choy). Atau.. "Aq ga puas klo si "x" belum bales pesanku!". Lagi dan lagi, Dola lupa), bahwa apa yang dilakukannya merusak dan dosa.

Si Dola mungkin belum tahu, SMS dan pesan-pesan "ekstra khusus" antara laki-laki dan perempuan bukan muhrim itu dosa. Memberi perhatian khusus, simpati, menunjukkan rasa suka, apa lagi yang nyerempet-nyerempet, pet.. pet.. pet.. hiii… Astaghfirullah wa na’udzubillah.. Ya, Dola mungkin belum pernah belajar adab-adab syar’i antara yang bukan muhrim, atau mungkin belum pernah dapat pelajaran tentang Izzah (kemulyaan/harga diri) muslimah. Atau bahkan mungkin sudah, tapi belum kuat melaksakannya. Ya.. manusia memang memiliki kadar iman yang berbeda-beda, termasuk si Dolala Hebring Semriwing. Apa ya..?! Kata Ustadzah di negeri 1001 boneka, suka menunda-nunda taubat dan menunda berhenti bermaksiat. Berarti menunda berbuat baik dong. Padahal sudah berulang kali hal itu ia lakukan, dan berulang kali pula telah diingatkan. Ya.. Lagi dan lagi, Dola lupa, bahwa apa yang dilakukannya merusak dan dosa.

Kata pawang boneka di negeri 1001 boneka, (entah dari mana ide nulisnya), wajar klo Dola begitu, karena dia merasa dirinya cantik, punya modal buat zzZZzz… *maaf, tulisan disensor*. Dola menyangka bisa menaklukan semua lelaki yang disukainya. Hingga bertekuk lutut dihadapannya, menyukainya, mengaguminya, memujanya, dengan begitu ia puas dan bangga. Padahal apa yang dilakukannya merusak dan dosa. Ya.. Lagi dan lagi, Dola lupa, bahwa apa yang dilakukannya merusak dan dosa.EpilogDola lupa diri karena terlalu memperturutkn hawa nafsunya. Berwajah cantik tapi lupa bersyukur. Diberi amanah wajah cantik bukannya membalas karunia yang Allah berikan itu dengan mempercantik diri dengan penjagaan dan hijab hati. Tapi malah sebaliknya, tebar pesona ranjau dosa sana-sini. Kasihan para korban yang tak kuat menahan diri, tak kuat iman, jadi ikut-ikutan menanggung dosa yang disebabkan Dola. Mungkin Dola mendeklarasikan dirinya dengan semboyan "Mari kita menabung dosa rame-rame Ha. . Ha. . Ha. ." Masya Allah.. Astaghfirullah.. Lagi dan lagi, Dola lupa, lupa maksiat, lupa dosa.

Dola, mempermalukan diri sendiri, menebar fitnah disana-sini. Berjalan melenggak-lenggok persis... Jika ada yang menarik hatinya langsung ingin digoda. Ia gerakkan sedikit tangannya hingga nampak “wah” dengan jari-jari lentiknya dan gayanya yang aduhai ambooooii.. Lagi, lagi, lagi, lagi, lagi, lagi, lagi, GILA!!!, 3).

Bak kata pepatah, "Akibat nila setitik, rusak susu sebelanga". Akhirnya, Dola bilang just kidding. Padahal tanpa ia sadari just kiddingnya yang berlebih-lebihan itu telah merusak, menjerumuskan dirinya sendiri ke dalam kubangan lumpur maksiat dan dosa. Benarlah bila dikatakan bahwa yang berlebih-lebihan itu mubazir. Yang mubazir biasanya akan dibuang. Biasanya di buang ke tong sampah. Yang dibuang ke tong sampah tentu saja sampah. Jika di analogikan, sampah itu sebagai dosa akibat perbuatan berlebih-lebihan, maka makin lama tumpukan dosa-dosa itu akan menggunung. Kemudian butalah mata hatinya dan mengeras hatinya sehingga tak mampu lagi melihat maksiat sebagai dosa.

Begitulah kekuatan seorang wanita. Ia punya peranan yang sangat besar dalam menentukan sesuatu, termasuk masa depan bangsanya. Ia bisa merusak bangsanya dengan akhlak yang buruk, ia juga bisa menjadikan bangsanya bangsa yang beradab dan mulia dengan akhlaknya yang baik. Para pujangga pun berkata, di balik kesuksesan laki-laki, selalu ada seorang wanita yang hebat. Rosulullah bersabda, "Baik buruknya sebuah bangsa bergantung kepada kaum wanitanya". So, wajar saja jika bangsa ini sering mendapat ujian dari Yang Maha Kuasa, karena memang kaum wanitanya masih banyak yang belum bisa menjalankan agama dengan benar. Astaghfirullah..

"Sesungguhnya kalian sekarang melakukan perbuatan-perbuatan yang sangat mudah (memudahkan suatu perkara dosa) padahal perbuatan semacam itu termasuk suatu yang merusak agama" (HR. Bukhori).

Pesan untuk kaum muslimah, akan kemana kau bawa bangsa ini? kepada kehancuran atau kemulyaan?, tentukan sendiri.

Dola, semoga ia segera sadar dan bertaubat. Semoga Allah mengampuni dosa-dosanya. Aamiin..

Wallahu'alam bishshowwab..

A'udzubillahiminasyaithonirrojiiim.. Astaghfirullahal'adziim.. Astaghfirullahal'adziim.. Astaghfirullahal'adziim..
Allahumma inni a’udzu bika min jahdil balaa-i, wa darkisy-syaqoo-i, wa suu-il qodho-i, wa syamaa tatil a’daa-i..
Aku berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk, dari kejahatan orang-orang yang dzalim, dari kebodohan orang-orang yang jahil dan tidak berpengetahuan, dan dari kesalahan-kesalahan dan kekhilafan sendiri dalam membuat peringatan.

Ya Allah.. perbaikilah hamba, perbaikilah agama dan penghidupan hamba, perbaikilah pemahaman agama hamba, perbaikilah urusan dunia dan akhirat hamba, tambahkanlah ilmu agama hamba, dan mudahkanlah hamba dalam menjalankan apa yang Engkau perintah, menjauhi apa yang Engkau larang. Amiin.. Allahummaghfirlii.. Aamiin..

1)Pracoyo Wiryoutomo "Ujian: Tampan dan Cantik", Hikmah Sabar, Juni 2009
2)Lail Khair El Rasyid, "Perjalanan Seorang nene", Al Izzah ed. Mei 2005
3)Zack Bajoet, "Aktivis Dunia fantasi, Sebuah Cerita dari Dunia Aktifitas Fantasi..", Al Izzah ed. Feb 2005

Thursday, October 08, 2009

Kenangan itu

Tiba-tiba, malam ini aku terkenang kembali kejadian itu. Tak terdefinisikan isi hatiku. Perih, duka, marah, benci, sakit, kecewa.. semua berkumpul jadi satu dalam sebuah kata, "LUKA". Tak terdefinisikan isi hatiku, luluh lantak dimakan waktu. Hilang orang-orang yang ku cinta, karena sebuah perbuatan "dzolim" seorang perempuan. Astaghfirullah.. Ampunilah dosa-dosa kami Ya Allah...

Sesaat, wajah-wajah itu melintas di fikiranku. Wajah-wajah yang dzolim itu, wajah-wajah keluargaku yang hilang satu persatu dari dekap keseharianku. Terlintas dalam benak, mereka sedang bergelimang menikmati kebahagiaan yang dulu milikku. Astaghfirullah.. aku tak mau su'udzhon..bebaskan hati ini dari belenggu fikiran yang selalu melintas melibas iman Ya Allah.. hamba sungguh takut , namun bagaimana semuanya harus diikhlaskan..?

Semua bermuara pada sebuah kata. Dalam sekali maknanya. Ikhlas. Mengapa hati ini sulit mengikhlaskan? karena kita merasa memiliki. Akhirnya kembali ku sadari. Dalam dekap nurani, bilik hati berkata, memiliki tak pernah kekal. Bahkan kita tak pernah memiliki apa pun, karena semuanya adalah milik Allah.

Satu persatu kejadian datang silih berganti. Memberi hikmah dan ilmu, menghujani hidup dengan pengalaman. Untuk melangkah di hari depan. Menghadapi segala tantangan dan ujian.

Kuatkan hamba Ya Allah Yang Maha Kuat..
Laa haula wa laa quwwata illaa billaah..
Aamiin..

Friday, October 02, 2009

Saudaraku, Semoga Engkau Tidak Tidur Untuk Selamanya

Rabu, 30 September 2009 lalu, menjelang siang hari, seingatku antara pukul 11.00 - 12.00 wib, aku masih sempat mengobrol (chatt) dengan salah satu rekan dakwah di kampus Politeknik Negeri Sriwijaya yang saat ini bekerja di sebuah BUMN di Padang. Ia rekan seperjuangan kami di LDK Politeknik dan mantan ketua KAMMI Komisariat Politeknik Sriwijaya, Muhammad Iswahyudi, salah satu rekan sealumni dari jurusan Teknik Sipil 2001. Seingatku hari itu tidak seperti biasanya, Yudi, begitu kami biasa menyapa saudara kami ini, online di Face book. Dan kebetulan pula, hari itu juga untuk pertama kalinya saya chatting dengan beliau hanya untuk mengucapkan "selamat Hari Raya Idul Fithri". Dalam obrolan itu tak ada yang mengindikasikan akan terjadi sesuatu. Tapi memang tidak seperti biasanya saya berani mengajak rekan yang ikhwan chatting. Tak ada maksud lain, selain mengucapkan mohon maaf lahir dan bathin.

Sebelum dzhuhur, obrolan singkat itu kami hentikan. Tak ada kesan atau pertanda apa pun hingga akhirnya berita gempa itu tersiar di televisi. Saya pun baru teringat klo hari Rabu itu sempat chatting dengan Yudi hari Kamis kemarin, satu hari setelah kejadian. Tak bisa terbayangkan oleh saya ketika melihat keadaan Padang dan sekitarnya setelah menonton televisi, begitu miris dan Subhanallah.. jika Allah berkehendak, maka "kun", jadilah..

Semua rekan yang saya kenal saya hubungi, but Yudi tidak karena saya tidak punya nomor kontaknya. Di antara rekan yang saya hubungi, belum ada yang membalas sms-sms saya. Sempat khawatir dengan rekan-rekan yang belum membalas pesan-pesan saya. Semoga Allah melindung mereka semua. Amiin..

Back to Yudi, iseng-iseng semalam saya cek status terakhirnya, sempat bergidik melihat status terakhir beliau. Sebuah pesan singkat melalui kuis "Seperti Apakah Wajahmu Saat Tidur??". Wallahu a'lam bish showwab.. Saudaraku, Semoga Engkau Tidak Tidur untuk Selamanya. Hanya berusaha untuk berhusnudzhon. Semoga Allah melindunginya, memberikan yang terbaik baginya dan semua saudara-saudara kita disana. Aamiin..

Thursday, October 01, 2009

Membaca Ayat Ayat KebesaranMu




30 September 2009 - Dipenghujung bulan September, di awal syawal yang mulia, setelah ramadhan, ketika sayup-sayup lembayung senja hendak beranjak menuju malam, kembali Engkau peringatkan kami atas sebuah kuasa yang tak pernah bisa kami reka kapan dan dimana. Sebuah peristiwa yang mengajarkan kami tentang dalil-dalil Naqly, agar kami lebih mengenal-Mu, agar kami belajar merangkak, berjalan, bahkan berlari mendekati-Mu. Ya Robb.. ia menghentak tanah kami, menggoyang bumi tempat kami berpijak, bergetar hingga ke syaraf nadi dan uluh hati, hingga menjadi puing-puing tak berarti. Ya Robb.. Ya Robbi.. kami tak berkutik atas kuasa-Mu. Kami lemah tanpa kekuatan dariMu. Kami tak berdaya atas kehendak-Mu.

Robb.. Membaca ayat demi ayat yang Kau tuliskan melalui alam-Mu. Ketika seayat demi seayat kuasaMu menjelma Kau wujudkan di bumi-Mu, ketika Engkau menghendakinya terjadi hanya dengan "kun", maka ia terjadi. Makin menyadarkan kami, bahwa kami tanpaMu tak berarti. Robb.. Ketika mereka berlarian tak tentu arah sembari menyebut-nyebut asma-Mu. Tangis demi tangis itu.. takbir, tahmid, tahlil itu.. terdengar pilu. Duka menyelimuti kami. Duka mereka juga duka kami, maka ampunilah kami ya Allah..

Allahu Robbi.. terimalah taubat kami.. lindungilah kami, sabarkanlah kami, kuatkanlah kami, selamatkanlah kami, berikanlah kami pertolongan, Ampunilah kami hamba-hambaMu yang lalai ini, janganlah Engkau uji kami dengan ujian yang tak sanggup kami hadapi. Aamiin..

Robb.. kami tak pernah tahu kehendak-Mu, kami tak pernah tahu rencana-Mu, kami tak pernah tahu karena hanya Engkaulah Yang Maha Tahu. Maka berikanlah kami kekuatan agar mampu menghadapi segala ujian-Mu. Aamiin ya Robbal 'alamiin..

Jagalah Allah, niscaya DIA akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya DIA akan senantiasa bersamamu
(HR. Tirmidzi)

Allahumma inni a’udzu bika min jahdil balaa-i, wa darkisy-syaqoo-i, wa suu-il qodho-i, wa syamaa tatil a’daa-i.. Aamiin..

“Wahai Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesengsaraan, dan jurang kecelakaan, dan nasib yang malang, dan ejekan musuh. Aamiin..”

Untuk semua saudara-saudara kami di Padang, Riau, Medan, Jawa Barat, Filiphina, Thailand yang sedang terkena musibah.