Friday, November 20, 2009

Balada Negeri 1001 Boneka

Bismillaahirrohmaanirrohiim..

Artikel ini saya tulis pada hari Rabu, 18 Nopember 2009. Tidak lain untuk mengingatkan saya sendiri dan saudara/i saya yang lain. Setelah melalui pertimbangan yang matang, pemikiran yang panjang, pengeditan berkali-kali, dan konsultasi dengan beberapa pihak, barulah sekarang saya mempublikasikannya. Sungguh sangat berat bagi saya untuk mempublikasikan artikel ini, karena saya sendiri menyadari bahwa saya masih belum baik, masih penuh kekurangan di sana-sini, bahkan banyak dosa-dosa yang tidak saya sadari. Namun setelah melalui proses yang panjang, ketika lidah sudah terasa kelu untuk kembali mengingatkan, dan kekhilafan terjadi berulang-ulang dari salah seorang rekan, saya berkesimpulan akan lebih baik jika dalam proses perbaikan diri, kita tetap saling mengingatkan dengan saudara yang lain, meski hanya lewat tulisan. Diam ketika melihat kesalahan, maka lebih berdosa. InsyaAllah ini yang terakhir.

Artikel ini ditulis tidak untuk menghina atau memojokkan seseorang. Hanya sebuah evaluasi dari pengalaman ruhiyyah yang sarat makna. Sebuah evaluasi tentang adab-adab syar’i antara yang bukan muhrim. Sebuah evaluasi tentang hijab dalam arti yang luas. Sebuah evaluasi tentang proses perbaikan diri dalam penghambaan kepada Allah. Sebuah tulisan sederhana dari seorang hamba Allah yang dho’if, yang tidak ingin saudarinya terus menerus terjebak dalam lumpur kemaksiatan dan dosa. Sebagai pengingat saya sendiri untuk semakin istiqomah dalam memperbaiki diri. Semoga bisa memberi manfaat yang banyak bagi semua pihak, mejadi pengingat kita akan pengawasan Allah dalam setiap hela nafas, bisa diambil hikmah dan pelajarannya, serta menjadi parameter yang menghantarkan kita kepada keshalihan.

Kepada Allah saya memohon perlindungan dari segala fitnah, Ya Allah.. jauhkanlah hamba dari perbuatan yang sia-sia dan tidak berguna, dari penyakit-penyakit hati, dan dari kesalahan atau kekhilafan dalam membuat peringatan. Aamiin ya Robbal’alamiin..


Prolog
"Wajah tampan atau cantik, adalah karunia dari Allah, sekaligus ujian bagi yang memilikinya. Namun hakikatnya, orang tampan atau cantik, ujiannya menjadi dua kali lipat. Pertama, apakah dia bisa mensyukuri ketampanan/kecantikannya. Kedua, apakah dia bisa menjalankan amanah ketampanan/kecantikannya di jalan yang benar. Dengan wajah tampan, dia bisa menjadi playboy, misalnya, jelas bukan bentuk syukur dan menjalankan amanah yang benar. Begitu pula, mereka yang diberi paras cantik. Betapa banyak orang cantik yang menggunakan kecantikkannya untuk memperdaya laki-laki. Betapa banyak perempuan elok yang justru jatuh ke dalam kehidupan yang salah arah, 1). Alhamdulillah.. saya merasa bersyukur diberi tampang yang sedang-sedang saja, tidak cantik, jelek pun tidak. Jika saya cantik, saya khawatir malah tidak bisa bersukur dan tidak bisa mengemban amanah Allah tersebut dengan baik."

Prok..!! Prok..!! Brang!!
Prok..!! Prok..!! Brang!!
Dijual.. dijual.. sebuah boneka, murah meriah..!Siapa mau beli..?! Hayyooo..!! nanti keburu laku!!. Begitulah keriuhan pasar di negeri 1001 boneka. Menjajakan eksotikanya. Sebut saja, boneka Dola, syetan yang tak lain adalah pengikutnya, berjejer kemana pun ia melangkah. Mempromosikan Dola kemana saja. Siap pasang aksi, siap menjerat setiap mata masuk perangkapnya. Kubangan maksiat dan fitnah!. Na’udzubillah..

Prok..!! Prok..!! Brang!! Brang..!!
Prok..!! Prok..!! Brang!! Brang..!!
Dijual.. dijual.. (lagi)
sebuah boneka (lagi), murah meriah..! (lagi), Siapa mau beli..?! (lagi), Hayyooo..!! (lagi), nanti keburu laku!! (lagi). Dola (lagi).

Tersebutlah di sebuah negeri 1001 boneka (entah dari mana datangnya, anggap saja dari negeri antah berantah), terdapat sebuah boneka cantik jelita, mempesona setiap mata yang memandangnya, sedikit innocent, wajah tanpa dosa, bernama Dola.Dola, boneka cantik, berparas blasteran, dengan porsi body yang ideal, cukup berisi, tinggi, putih. Hidung bak “dasun tungga” bertengger di wajah cantiknya, 2). Mata berbinar indah seperti lautan membara. Suara merdu, lembut, syahdu, manja!. Bak irama lagu-lagu cinta para pujangga yang sedang kasmaran. Kadang bijaksana, mendayu, renyah dalam desah. Namun tak bisa tegas. Dandanannya agak semriwing hebring. Kadang rapi jali, kadang tabrak lari. Hingga membuat mata terpukau ingin melirik. Mirip artis sinetron yang mengisi infotainment-infotainment basi di negeri ini. Terutama mata.. ehm.. ehm.. yang tak kuat iman akan terjerat ikut menggoda Dola yang memang penggoda.

Entah mungkin sudah putus urat malunya. Tanpa fikir panjang, tanpa lihat rambu-rambu syar’i, tanpa tedeng aling-aling, tanpa toleh kanan toleh kiri, ia siap beraksi mencari mangsa perjaka. Semakin banyak yang terjerat, semakin ia bangga. Tanpa berfikir bahwa perbuatannya itu merusak dan dosa. Layaknya sinden yang bersiap menari, ia pun siap menjerat lelaki dengan selendangnya. Ia akan mentak-mentak jika gagal menjebak mangsanya. Sambil menggerutu, "Uugh.. kok gak luluh juga syhh…??", "Awas ya! Nanti ku…… (maaf, sensor!)", atau "Uugh.. kok ga bales-bales syiih?? Sebel!!!" (SMS atau pesan maksudnya choy). Atau.. "Aq ga puas klo si "x" belum bales pesanku!". Lagi dan lagi, Dola lupa), bahwa apa yang dilakukannya merusak dan dosa.

Si Dola mungkin belum tahu, SMS dan pesan-pesan "ekstra khusus" antara laki-laki dan perempuan bukan muhrim itu dosa. Memberi perhatian khusus, simpati, menunjukkan rasa suka, apa lagi yang nyerempet-nyerempet, pet.. pet.. pet.. hiii… Astaghfirullah wa na’udzubillah.. Ya, Dola mungkin belum pernah belajar adab-adab syar’i antara yang bukan muhrim, atau mungkin belum pernah dapat pelajaran tentang Izzah (kemulyaan/harga diri) muslimah. Atau bahkan mungkin sudah, tapi belum kuat melaksakannya. Ya.. manusia memang memiliki kadar iman yang berbeda-beda, termasuk si Dolala Hebring Semriwing. Apa ya..?! Kata Ustadzah di negeri 1001 boneka, suka menunda-nunda taubat dan menunda berhenti bermaksiat. Berarti menunda berbuat baik dong. Padahal sudah berulang kali hal itu ia lakukan, dan berulang kali pula telah diingatkan. Ya.. Lagi dan lagi, Dola lupa, bahwa apa yang dilakukannya merusak dan dosa.

Kata pawang boneka di negeri 1001 boneka, (entah dari mana ide nulisnya), wajar klo Dola begitu, karena dia merasa dirinya cantik, punya modal buat zzZZzz… *maaf, tulisan disensor*. Dola menyangka bisa menaklukan semua lelaki yang disukainya. Hingga bertekuk lutut dihadapannya, menyukainya, mengaguminya, memujanya, dengan begitu ia puas dan bangga. Padahal apa yang dilakukannya merusak dan dosa. Ya.. Lagi dan lagi, Dola lupa, bahwa apa yang dilakukannya merusak dan dosa.EpilogDola lupa diri karena terlalu memperturutkn hawa nafsunya. Berwajah cantik tapi lupa bersyukur. Diberi amanah wajah cantik bukannya membalas karunia yang Allah berikan itu dengan mempercantik diri dengan penjagaan dan hijab hati. Tapi malah sebaliknya, tebar pesona ranjau dosa sana-sini. Kasihan para korban yang tak kuat menahan diri, tak kuat iman, jadi ikut-ikutan menanggung dosa yang disebabkan Dola. Mungkin Dola mendeklarasikan dirinya dengan semboyan "Mari kita menabung dosa rame-rame Ha. . Ha. . Ha. ." Masya Allah.. Astaghfirullah.. Lagi dan lagi, Dola lupa, lupa maksiat, lupa dosa.

Dola, mempermalukan diri sendiri, menebar fitnah disana-sini. Berjalan melenggak-lenggok persis... Jika ada yang menarik hatinya langsung ingin digoda. Ia gerakkan sedikit tangannya hingga nampak “wah” dengan jari-jari lentiknya dan gayanya yang aduhai ambooooii.. Lagi, lagi, lagi, lagi, lagi, lagi, lagi, GILA!!!, 3).

Bak kata pepatah, "Akibat nila setitik, rusak susu sebelanga". Akhirnya, Dola bilang just kidding. Padahal tanpa ia sadari just kiddingnya yang berlebih-lebihan itu telah merusak, menjerumuskan dirinya sendiri ke dalam kubangan lumpur maksiat dan dosa. Benarlah bila dikatakan bahwa yang berlebih-lebihan itu mubazir. Yang mubazir biasanya akan dibuang. Biasanya di buang ke tong sampah. Yang dibuang ke tong sampah tentu saja sampah. Jika di analogikan, sampah itu sebagai dosa akibat perbuatan berlebih-lebihan, maka makin lama tumpukan dosa-dosa itu akan menggunung. Kemudian butalah mata hatinya dan mengeras hatinya sehingga tak mampu lagi melihat maksiat sebagai dosa.

Begitulah kekuatan seorang wanita. Ia punya peranan yang sangat besar dalam menentukan sesuatu, termasuk masa depan bangsanya. Ia bisa merusak bangsanya dengan akhlak yang buruk, ia juga bisa menjadikan bangsanya bangsa yang beradab dan mulia dengan akhlaknya yang baik. Para pujangga pun berkata, di balik kesuksesan laki-laki, selalu ada seorang wanita yang hebat. Rosulullah bersabda, "Baik buruknya sebuah bangsa bergantung kepada kaum wanitanya". So, wajar saja jika bangsa ini sering mendapat ujian dari Yang Maha Kuasa, karena memang kaum wanitanya masih banyak yang belum bisa menjalankan agama dengan benar. Astaghfirullah..

"Sesungguhnya kalian sekarang melakukan perbuatan-perbuatan yang sangat mudah (memudahkan suatu perkara dosa) padahal perbuatan semacam itu termasuk suatu yang merusak agama" (HR. Bukhori).

Pesan untuk kaum muslimah, akan kemana kau bawa bangsa ini? kepada kehancuran atau kemulyaan?, tentukan sendiri.

Dola, semoga ia segera sadar dan bertaubat. Semoga Allah mengampuni dosa-dosanya. Aamiin..

Wallahu'alam bishshowwab..

A'udzubillahiminasyaithonirrojiiim.. Astaghfirullahal'adziim.. Astaghfirullahal'adziim.. Astaghfirullahal'adziim..
Allahumma inni a’udzu bika min jahdil balaa-i, wa darkisy-syaqoo-i, wa suu-il qodho-i, wa syamaa tatil a’daa-i..
Aku berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk, dari kejahatan orang-orang yang dzalim, dari kebodohan orang-orang yang jahil dan tidak berpengetahuan, dan dari kesalahan-kesalahan dan kekhilafan sendiri dalam membuat peringatan.

Ya Allah.. perbaikilah hamba, perbaikilah agama dan penghidupan hamba, perbaikilah pemahaman agama hamba, perbaikilah urusan dunia dan akhirat hamba, tambahkanlah ilmu agama hamba, dan mudahkanlah hamba dalam menjalankan apa yang Engkau perintah, menjauhi apa yang Engkau larang. Amiin.. Allahummaghfirlii.. Aamiin..

1)Pracoyo Wiryoutomo "Ujian: Tampan dan Cantik", Hikmah Sabar, Juni 2009
2)Lail Khair El Rasyid, "Perjalanan Seorang nene", Al Izzah ed. Mei 2005
3)Zack Bajoet, "Aktivis Dunia fantasi, Sebuah Cerita dari Dunia Aktifitas Fantasi..", Al Izzah ed. Feb 2005

Thursday, October 08, 2009

Kenangan itu

Tiba-tiba, malam ini aku terkenang kembali kejadian itu. Tak terdefinisikan isi hatiku. Perih, duka, marah, benci, sakit, kecewa.. semua berkumpul jadi satu dalam sebuah kata, "LUKA". Tak terdefinisikan isi hatiku, luluh lantak dimakan waktu. Hilang orang-orang yang ku cinta, karena sebuah perbuatan "dzolim" seorang perempuan. Astaghfirullah.. Ampunilah dosa-dosa kami Ya Allah...

Sesaat, wajah-wajah itu melintas di fikiranku. Wajah-wajah yang dzolim itu, wajah-wajah keluargaku yang hilang satu persatu dari dekap keseharianku. Terlintas dalam benak, mereka sedang bergelimang menikmati kebahagiaan yang dulu milikku. Astaghfirullah.. aku tak mau su'udzhon..bebaskan hati ini dari belenggu fikiran yang selalu melintas melibas iman Ya Allah.. hamba sungguh takut , namun bagaimana semuanya harus diikhlaskan..?

Semua bermuara pada sebuah kata. Dalam sekali maknanya. Ikhlas. Mengapa hati ini sulit mengikhlaskan? karena kita merasa memiliki. Akhirnya kembali ku sadari. Dalam dekap nurani, bilik hati berkata, memiliki tak pernah kekal. Bahkan kita tak pernah memiliki apa pun, karena semuanya adalah milik Allah.

Satu persatu kejadian datang silih berganti. Memberi hikmah dan ilmu, menghujani hidup dengan pengalaman. Untuk melangkah di hari depan. Menghadapi segala tantangan dan ujian.

Kuatkan hamba Ya Allah Yang Maha Kuat..
Laa haula wa laa quwwata illaa billaah..
Aamiin..

Friday, October 02, 2009

Saudaraku, Semoga Engkau Tidak Tidur Untuk Selamanya

Rabu, 30 September 2009 lalu, menjelang siang hari, seingatku antara pukul 11.00 - 12.00 wib, aku masih sempat mengobrol (chatt) dengan salah satu rekan dakwah di kampus Politeknik Negeri Sriwijaya yang saat ini bekerja di sebuah BUMN di Padang. Ia rekan seperjuangan kami di LDK Politeknik dan mantan ketua KAMMI Komisariat Politeknik Sriwijaya, Muhammad Iswahyudi, salah satu rekan sealumni dari jurusan Teknik Sipil 2001. Seingatku hari itu tidak seperti biasanya, Yudi, begitu kami biasa menyapa saudara kami ini, online di Face book. Dan kebetulan pula, hari itu juga untuk pertama kalinya saya chatting dengan beliau hanya untuk mengucapkan "selamat Hari Raya Idul Fithri". Dalam obrolan itu tak ada yang mengindikasikan akan terjadi sesuatu. Tapi memang tidak seperti biasanya saya berani mengajak rekan yang ikhwan chatting. Tak ada maksud lain, selain mengucapkan mohon maaf lahir dan bathin.

Sebelum dzhuhur, obrolan singkat itu kami hentikan. Tak ada kesan atau pertanda apa pun hingga akhirnya berita gempa itu tersiar di televisi. Saya pun baru teringat klo hari Rabu itu sempat chatting dengan Yudi hari Kamis kemarin, satu hari setelah kejadian. Tak bisa terbayangkan oleh saya ketika melihat keadaan Padang dan sekitarnya setelah menonton televisi, begitu miris dan Subhanallah.. jika Allah berkehendak, maka "kun", jadilah..

Semua rekan yang saya kenal saya hubungi, but Yudi tidak karena saya tidak punya nomor kontaknya. Di antara rekan yang saya hubungi, belum ada yang membalas sms-sms saya. Sempat khawatir dengan rekan-rekan yang belum membalas pesan-pesan saya. Semoga Allah melindung mereka semua. Amiin..

Back to Yudi, iseng-iseng semalam saya cek status terakhirnya, sempat bergidik melihat status terakhir beliau. Sebuah pesan singkat melalui kuis "Seperti Apakah Wajahmu Saat Tidur??". Wallahu a'lam bish showwab.. Saudaraku, Semoga Engkau Tidak Tidur untuk Selamanya. Hanya berusaha untuk berhusnudzhon. Semoga Allah melindunginya, memberikan yang terbaik baginya dan semua saudara-saudara kita disana. Aamiin..

Thursday, October 01, 2009

Membaca Ayat Ayat KebesaranMu




30 September 2009 - Dipenghujung bulan September, di awal syawal yang mulia, setelah ramadhan, ketika sayup-sayup lembayung senja hendak beranjak menuju malam, kembali Engkau peringatkan kami atas sebuah kuasa yang tak pernah bisa kami reka kapan dan dimana. Sebuah peristiwa yang mengajarkan kami tentang dalil-dalil Naqly, agar kami lebih mengenal-Mu, agar kami belajar merangkak, berjalan, bahkan berlari mendekati-Mu. Ya Robb.. ia menghentak tanah kami, menggoyang bumi tempat kami berpijak, bergetar hingga ke syaraf nadi dan uluh hati, hingga menjadi puing-puing tak berarti. Ya Robb.. Ya Robbi.. kami tak berkutik atas kuasa-Mu. Kami lemah tanpa kekuatan dariMu. Kami tak berdaya atas kehendak-Mu.

Robb.. Membaca ayat demi ayat yang Kau tuliskan melalui alam-Mu. Ketika seayat demi seayat kuasaMu menjelma Kau wujudkan di bumi-Mu, ketika Engkau menghendakinya terjadi hanya dengan "kun", maka ia terjadi. Makin menyadarkan kami, bahwa kami tanpaMu tak berarti. Robb.. Ketika mereka berlarian tak tentu arah sembari menyebut-nyebut asma-Mu. Tangis demi tangis itu.. takbir, tahmid, tahlil itu.. terdengar pilu. Duka menyelimuti kami. Duka mereka juga duka kami, maka ampunilah kami ya Allah..

Allahu Robbi.. terimalah taubat kami.. lindungilah kami, sabarkanlah kami, kuatkanlah kami, selamatkanlah kami, berikanlah kami pertolongan, Ampunilah kami hamba-hambaMu yang lalai ini, janganlah Engkau uji kami dengan ujian yang tak sanggup kami hadapi. Aamiin..

Robb.. kami tak pernah tahu kehendak-Mu, kami tak pernah tahu rencana-Mu, kami tak pernah tahu karena hanya Engkaulah Yang Maha Tahu. Maka berikanlah kami kekuatan agar mampu menghadapi segala ujian-Mu. Aamiin ya Robbal 'alamiin..

Jagalah Allah, niscaya DIA akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya DIA akan senantiasa bersamamu
(HR. Tirmidzi)

Allahumma inni a’udzu bika min jahdil balaa-i, wa darkisy-syaqoo-i, wa suu-il qodho-i, wa syamaa tatil a’daa-i.. Aamiin..

“Wahai Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesengsaraan, dan jurang kecelakaan, dan nasib yang malang, dan ejekan musuh. Aamiin..”

Untuk semua saudara-saudara kami di Padang, Riau, Medan, Jawa Barat, Filiphina, Thailand yang sedang terkena musibah.







Sunday, September 06, 2009

Hikmah

Para sesepuh memberi banyak tausiyah. Ku ingat hari ini ketika bertemu salah satu guru, beliau menyampaikan pesan-pesan yang sangat berharga. Sebuah ilmu yang berasal dari akar pemahaman agama yang baik. Bersumber dari pedoman hidup kita, rujukan mulia Al Qur'an dan Sunnah dan dari qudwah hasanah Rosulullah saw.

Mereka berkata, "Bila menghendaki pasangan hidup yang sholih/sholihah, maka jadikanlah diri sholih/sholihah terlebih dahulu, jika menghendaki pasangan hidup yang menjaga kesucian hati dan diri, maka jagalah kesucian hati dan diri terlebih dahulu. Jika menghendaki pasangan yang mendatangkan barokah, maka berusahalah untuk menjalani hidup dengan kaidah agama dan aturan syar'i agar setiap detik hidup mendatangkan barokah. Penjagaan diri itu perlu. Menghindari/menjauhi hal-hal yang bisa mendatangkan mudhorat dan menjauhi hal-hal yang tidak dihalalkan adalah lebih baik dari pada menikmati keindahan yang tidak halal. Membantu menjaga iman saudara/i itu juga amal baik. Jika kau lihat saudara/imu menjadi salah karena akibat perbuatanmu, maka bertaubatlah. Karena Allah Maha Penerima taubat. Sesuatu yang mubah seperti memberi perhatian, boleh-boleh saja, namun tetap harus ada batasannya. Aktivitas yang berkaitan dengan lawan jenis memang boleh, tapi jika berlebih-lebihan, maka akan menjerumuskan saudara/imu ke lubang dosa. Seseorang yang sudah berusaha menjaga diri saja bisa terkena fitnah. Apa lagi yang tidak/kurang menjaga dirinya. Maka jagalah dirimu dan jagalah pula saudaramu"

Bulan ramadhan bulan perbaikkan. Jika ada banyak hal yang harus di revisi dalam hidup, maka revisilah. Jika ada banyak yang harus diperbaiki dalam hidup, maka perbaikilah. Jika merasa banyak melakukan dosa atau tanpa sengaja menjerumuskan saudara/imu ke dalam kesalahan, maka bermuhasabalah, bertaubatlah dan introspeksi diri. Jika ada rasa malu pada diri, maka itu baik. Karena malu adalah sebagian dari iman. Dan MALU-lah kepada Allah, maka itu lebih utama dari pada MALU kepada makhluk. Rasakan tiap detik hidup selalu diawasi-Nya, dan setiap amal perbuatan di catat oleh kedua malaikat. Maka, bersyukurlah.. karena Allah telah menjaga aib-aib dan menutupi kekurangan. Bersyukurlah, karena Allah mengaruniakan saudara-saudara yang bisa menjaga aib dan kekurangan. Pepatah mengatakan, "Berteman dengan penjual minyak wangi maka akan mendapatkan bau wanginya, berteman dengan pandai besi maka akan mendapat hitamnya".

Hm.. Subhanallah.. tausiyah yang menenangkan. Syukurku tak henti-hentinya terhatur. Alhamdulillah, aku tetap berada di jalan ini, di lingkungan orang-orang baik. istiqomah hingga saat ini. Dan semoga hingga ajal menjemput nanti. Amiin..

Ku langkahkan kakiku dari rumah sang guru. Ku hirup udara siang hari ini dengan kelegaan. Meski panas, aku berharap, panas itu yang kan melebur semua dosa-dosaku. Terima kasih guru-guruku.

Ya Allah.. hamba telah berjuang dan berusaha untuk menjaga kesucian diri, semoga Engkau mengaruniakan ia yang juga menjaga kesucian diri. Amiin..
Ya Allah.. perbaikilah hamba, perbaikilah agama dan penghidupan hamba, perbaikilah pemahaman agama hamba, perbaikilah urusan dunia dan akhirat hamba, dan tambahkanlah ilmu agama hamba. Amiin..

4 you: Introspeksi diri

Tuesday, August 25, 2009

Memupuk Keikhlasan 2


..Aku meninggalkan ciuman di kening & pipinya ketika matahari pun masih enggan terjaga..dan dia mencariku hingga ke balik batas asa dg langkah kaki kecilnya saat mentari menatapnya haru..(catatan seorang ayah kepada putri kecilnya..)


Kakak.. ketika ku baca statusmu, atas kalimat-kalimat yang tertoreh, ku rasakan gerimis membasuh peluh hatiku. Dan bulir-bulir bening itu mengalir lembut di kedua pipiku. Semoga semua ini mengandung hikmah dan kita bisa memperbaiki semua lebih dari seperti dulu. Amiin..Epilog..

"Yang Terserak di Pelataran Malam"

Ku biarkan semua mengalir dari mulut "Sang Waktu" yang membius kekakuan, memecah kebekuan yang selama ini menganga di antara ia dan aku. Hening tersimpan semua beban, namun syukurku tak henti-henti ku haturkan ketika semua itu berlalu dan usai bagai tanah kerontang di sapu hujan.


"Manusia tempatnya khilaf dan salah.."

Ya.. begitulah, ku coba terus melangkah di bawah kuasa-NYA. Coba terus lepaskan memori-memori usang itu. karena disana tersimpan sejuta salah dan khilafku padanya, dan salah dan khilafnya padaku. Kami.. bagaikan manusia yang tak pernah saling mengenal sebelumnya. Kaku. Dan seketika ku hendak mengklarifikasi semuanya, BLAR..!! Bagai kapal di hantam ombak, aku tenggelam dalam biasnya. Bias yang sebenarnya ia buat sendiri.


"Pakaian Rombeng Itu"Dahulu IA memberi sebuah pakaian yang indah pada seorang lelaki dan keluarganya. Pakaian itu nampak berkilau saking indah dan sucinya. Namun tak berselang waktu berlalu, warna pakaian itu mulai memudar dan makin lama makin tampak warna aslinya yang suram dan buruk, bahkan bahan-bahannya pun ternyata tak sebagus yang di lihat. Pakaian itu makin lama makin kusam. Layaknya sebuah pakaian yang sudah tak layak pakai, bolong disana - sini, di perbaiki juga sepertinya tak bisa dipakai lagi, mirip pakaian-pakaian rombeng yang datang dari negeri antah berantah. Maka akhirnya pakaian itu hanya layak disimpan di kardus atau gudang, tak terpakai. Atau jika mau dimanfaatkan kembali ia hanya bisa dijadikan kain lap, membasuh atau membersihkan bagian-bagian kotor di dapur. Kemudian akhirnya pakaian itu hanya layak untuk dibuang. Ya.. kemudian aku sendiri yang membuangnya. Membuangnya perlahan, tetap dengan kelembutan. Karena ia sendiri yang meminta untuk dibuang. Meski rangkulan tanganku tak disambut baik bahkan dipentalkan olehnya. Sungguh.. aku kasihan padanya dan keluarganya. Sebenarnya mereka membutuhkan kami, tapi mereka tak membuka diri. Ya sudah.. cukup. Dayaku sudah tumpah semua. Energiku banyak terkuras untuknya. Dan kini aku tak mau repot-repot lagi hanya untuk sebuah kata "MEMAAFKAN', meski jauh di dasar lubuk hatiku, aku telah memaafkan.


Wallahu a'lam bishshowwab..


Ramadhan.. terima kasih telah menjemput jiwaku kembali. Ya Allah.. jadikanlah ramadhan ini ramadhan terbaik dan terindah dari ramadhan sebelumnya. Semangat sambut jernihnya ramadhan dalam telaga cinta-NYA. Amiin..

Friday, July 31, 2009

Berjuang Lagi

Alhamdulillah.. Hari ini dimulai lagi semua aktivitas yang rutin dilakukan 1 tahun belakang. Sore ini, kembali ku lewati barisan pepohonan Kota Wisata dan Legenda Wisata. Dengan "kuda besiku", ku pacu lajunya dengan kecepatan landai, 40 - 60 km. Sambil sedikit berdendang, memotifasi diri. Ya.. sebuah syair yang cukup menyentuh. Mendidikku untuk lebih sabar dan mensyukuri semua nikmat yang telah Allah berikan. SEMANGAT..!! SEMANGAT..!!

Setelah menolak sebuah ladang maisyah baru dengan penghasilan berkali lipat dari penghasilanku sekarang, entahlah.. aku hanya tak ingin menyesali sedikit pun pilihan yang Allah berikan. Senantiasa berhusnudzhon atas segala takdir yang Ia gariskan di perjalananku dan hanya ingin memperbaiki diri di sisa usiaku yang entah sampai kapan lembar itu ditutup dan bertemu tanda titik. Berbuat yang terbaik, berjuang untuk yang terbaik, dan kembali ke genggaman-NYA dalam kondisi yang terbaik. Amiin..

Meski cobaan-cobaan itu berat, bahkan sempat melemahkanku dan rasanya ingin pergi jauh, namun cinta Allah terlalu dalam. Membasuhku hingga ke alam ketinggian yang manusia tak mampu menyentuh. Ya.. ini duniaku, hanya ada aku dan Tuhanku. Hanya cinta Allah yang mampu menguatkan, hanya kasih sayang Allah yang mampu mengistiqomahkan dan mempertahankan jalan yang telah dipilihkanNya. Dan ku jalani semua lakon yang yang telah di berikan oleh "Sang Sutradara" kehidupan. Kembali berjuang, berusaha untuk memurnikan niat, membeningkan hati, membersihkan fikiran dari unsur-unsur negatif yang sering bersliweran melintas dan melibas iman tanpa batas. Mendekap nurani tetap pada tuntunan-NYA yang suci. Sampai ku tersadar inilah "kehidupan".

Dan aku.. ingin menikmati hidup ini dalam damai dekap cinta-NYA. Menghirup udara kehidupan yang menenangkan. Menatap langit-langit, melihat lebih dalam kehidupan manusia, memetik buah hikmah dari setiap kejadiannya, luasnya alam membentang dengan segenap hiasan dan bumbu-bumbunya dengan tatapan kebaikan yang menyejukkan. Tetap berjuang di jalan Allah.. perbaiki diri seutuhnya.. perbaiki amalan dan ibadah semampunya.. menyiapkan bekal tuk kembali bertemu dengan "Sang Pencipta".. tetap semangat menatap masa depan..

Ya.. semoga semua perjalanan ini mengandung hikmah, keberkahan, dan kebaikan. Amiin Ya Robbal'alamin...

- 10 Juli 2009, Refleksi di 26 tahun usia -

Keep smilling Fithri.. !!^^!! .: peace 2 jari tangan kanan tangan kiri :.
SEMANGAT..!!

Sunday, July 19, 2009

Mengantar Kepergian Mereka


Kutulis artikel ini dengan helaan nafas panjang. Tak mengerti. Apakah ini sebentuk wujud kelegaan atau malah keresahan. Sesakku, isakku tertahan. Tak pernah ingin ku tampakkan di depan mata mereka. Sakitku, dukaku, lelahku, ku coba tuk hadapi sendiri. Tak ingin ku tampakkan di depan mata mereka. Terus menerus tampak kuat, meski di baliknya, rapuh dengan indahnya bersemayam.

Ku hantar kepergian mereka. Di sore hari pukul 5. Dengan air mata tertahan di dada. Di hadapan mereka selalu nampak tawaku, senyumku, ceriaku. Namun dalam hatiku, tangis mengguyur peluh. Di balik kaca "taxi express" itu, ada mereka. Mereka adalah orang-orang yang ku cinta. Ku lepas kepergian mereka dengan tawa dan "sayonara daa.. daa.." ungkapan perpisahan. "Abiil.. Abiil.. Abiilku yang lucu.. akhirnya nenek dan kakekmu nun jauh di seberang sana bertemu denganmu, wahai sumber cinta keluargaku".

Begitu lama Papa menahan rindu pada cucu pertamanya. Jarak terlalu jauh memisahkan mereka. Permasalahan juga menghimpit kepercayaan antara sang ibu dan keluargaku. Entah apa permasalahan sebenarnya. Aku sendiri tak mengerti. Hanya yang selalu nampak adalah keangkuhan. Ia berjalan dengan sombong, tanpa sapa, tanpa senyum sedikit pun. Bahkan terkadang tak hendak keluar dari peraduannya ketika ku berada di sana.

Keluarku adalah pilihan. Bagiku hidup ini begitu banyak pilihan. Dan setiap pilihan-pilihan itu harus ku pertaggungjawabkan. Mau mereka benci, atau bahkan fitnah demi fitnah yang terlontar dari lisan mereka dan sampai ke telingaku, aku sudah tak peduli. Yang ku fikirkan sekarang bagaimana melanjutkan hidupku dan perbaiki diri seutuhnya, semampuku. Aku sudah tak bergantung lagi. Aku sudah tak di sana lagi. Dan ku harap mereka tak su'udzhon lagi. Bukankah kini rumah itu, benda-benda itu, bahkan saudara kandungku dan keponakkanku sendiri mereka yang memiliki. Karena bagiku memiliki itu tak pernah kekal, suatu saat nanti Allah akan mengambilnya kembali. Maka dari sini ku belajar banyak hal. Tentang mensyukuri, tentang kekuatan, tentang kebaikkan.

Ya Rabb.. Haturku memohon segenap kekuatan dalam sebuncah luka, segurat duka, setitik dendam terpendam. Pada-Mu ku ungkap asa. Pada-Mu jua ku mohon jalan terbaik, agar permasalahan ini bisa terselesaikan dengan baik. Karena semuanya berawal dengan baik, maka ketika ku pergi ku harap semua pun akan berakhir dengan baik. Amiin..

Wallahu a'lam bishshowwab

Allah Maha Baik.. Allah Maha Penolong..
Ketika Salmonela Typesa menyerang lagi

Wednesday, May 13, 2009

Muara Itu Bernama "Kebahagiaan"


20.10 wib. Teknos, 12 Mei 2009

Sudah lama mimpi itu terukir, tak pernah aku mengungkapnya. Begitu beratnya membahasakan jiwa dalam ruhani yang kaku. Jika kita menafsirkan kebahaagiaan itu terletak di sudut-sudut cinta. Ku ingin pulang ke tempat yang damai. Dimana disana bertabur cinta yang utuh, bersama mereka. Ketika ku coba lagi mengurai dentingnya, hambar ku dengar sayup-sayup melodi itu. Yang mungkin kini menyapa lagi. Lekuk-lekuk nurani yang hampa, merindukan asa, harap dan cita.

Ah… tak sanggup aku membahasakannya, karena do’a itu tak begitu sesederhana yang ku kira. Hanya Ia yang tau. Perlahan sebait do’a mulai ku sampaikan lewat bisik angin. Perlahan ku ungkap perasaan agar tak jua Ia melepasnya. Rembulan nampak terang setelah rumput-rumput basah karena gerimis. Ya.. danau, lautan, bahkan samudra pun tak jua mampu membahasakannya. Padahal mungkin ia sangatlah sederhana. Aku ingin kembali bahagia.

Kembali ku terpaku. Mencoba menikmati alunan merdu itu. Perlahan ku buka, lalu tutup mata membayangkan padang hijau di kelilingi bunga-bunga indah warna-warni. Layaknya sebuah taman terindah tempat tinggal abadi nanti. Ah.. tersentak ku tersadar. Bahwa mereka tak kan pernah mengerti aku. Dan aku pun tak pernah meminta mereka mengerti diriku.

Selamat tinggal waktu yang tlah binasa. Selamat tinggal asa yang tlah mengawang hilang. Bersama udara ia mengawang terbang. Bersama air ia menguap hilang. Tinggalah aku disini. Sendiri di tempat ini. Dan ketika perlahan kembali kubuka mata. Ku sadari bahwa semua tak seperti yang ku kira. Semua berubah, tak seperti dulu lagi. Terjadi karena goresan tinta. Kehendak Langitkah?.

Langit mendesah, mencoba mengingatkan untuk tak lagi merintih. Pelangi menyapa, memperlihatkan ada banyak warna dunia yang bisa dinikmati keindahannya. Mentari tersenyum, mencoba tuk menguatkan, bahwa masih ada hari-hari yang kan di lalui bersama secercah harapan. Bintang berbisik, bersama rembulan ia berlomba mengajak menari bersama, arungi samudra malam. Sudah… jangan berduka lagi. Karena semua tlah kau lalui. Dan akan ada bahagia menanti. Selesai sudah episode duka. Akhirnya… tersenyumlah bahagia dalam dekap cinta – NYA –

Fithri Ariani, saat semakin ku nikmati “bahagiaku”
Selamat tinggal duka, Selamat Datang Cinta

Thursday, April 16, 2009

Memupuk Keikhlasan I

Dalam hidup, tidak ada yang bisa menebak arah alur takdir manusia. Hidup yang sejatinya adalah catatan perjalanan yang hari demi hari menjadi lembar sejarah manusia, semuanya berujung pada kematian. Karena kematianlah yang kelak akan menjawab kehidupan sebenarnya. Pernahkah kita sejenak berfikir tentang kehidupan yang sejati?

Kehidupan tidak lepas dari ujian-ujian. Setiap ujian menghantar manusia pada muara hikmah. Karena di dalam semua ujian dan permasalahan hidup itu tersimpan hikmah. Bagi yang mampu berfikir lebih dalam mengenai hikmah ujian-ujiannya, akan memperoleh hidayah karena menggali hikmah itu adalah energi pembangun hidayah. Tinggal bagaimana kita berproses untuk belajar menggali hidayah dan hikmah yang tersembunyi dibaliknya. Kuncinya adalah kita harus siap belajar, belajar, dan belajar. Belajar tiada henti hingga akhir hayat. Belajar untuk menerima segala ujian yang Allah beri.

Sehat sakit, miskin kaya, muda tua, suka duka, bahagia menderita, semua adalah ujian. Ketika ujian demi ujian datang menerpa diri, manusia terkadang menganggapnya sebagai batu sandungan yang berat, terkadang bahkan sampai tersedu sedan tak mampu menahan rasa yang tak menentu.

Ada satu hikmah yang saya petik dari semua runtutan ujian yang terjadi dalam kurun waktu singkat ini, ujian keluarga, ketika saya akhirnya harus menyadari bahwa ketika salah satu anggota keluarga kita menikah dan bergabung dengan keluarga yang baru, serta lahirnya generasi-generasi baru, kita harus siap kehilangan, karena semua bukan lagi menjadi milik kita. Khususnya cinta, kasih sayang, perhatian bahkan materi yang terbagi atau bahkan hilang. Artinya kita harus siap kehilangan semua yang dulu pernah kita miliki. Intinya kita harus bisa mengikhlaskan, termasuk mengikhlaskan generasi baru yang lahir dari pernikahan itu untuk lebih cenderung dan dekat dengan keluarga yang lain.

Dari kejadian ini, saya makin menyadari bahwa semua yang ada di dunia ini bukanlah milik kita. Semua adalah milik Allah, apa pun itu yang dalam sosial berstatus milik kita, seperti keluarga, harta, sahabat, suami, istri, dan apa pun bentuknya, semua itu adalah milik Allah yang dititipkan pada kita. Dan ketika waktunya tiba untuk melepas dan mengembalikan semua hak Allah yang dititipkan pada kita, kita harus siap dan ikhlas melepasnya.

Wallahu ‘alam Bishshawwab