Sunday, July 19, 2009

Mengantar Kepergian Mereka


Kutulis artikel ini dengan helaan nafas panjang. Tak mengerti. Apakah ini sebentuk wujud kelegaan atau malah keresahan. Sesakku, isakku tertahan. Tak pernah ingin ku tampakkan di depan mata mereka. Sakitku, dukaku, lelahku, ku coba tuk hadapi sendiri. Tak ingin ku tampakkan di depan mata mereka. Terus menerus tampak kuat, meski di baliknya, rapuh dengan indahnya bersemayam.

Ku hantar kepergian mereka. Di sore hari pukul 5. Dengan air mata tertahan di dada. Di hadapan mereka selalu nampak tawaku, senyumku, ceriaku. Namun dalam hatiku, tangis mengguyur peluh. Di balik kaca "taxi express" itu, ada mereka. Mereka adalah orang-orang yang ku cinta. Ku lepas kepergian mereka dengan tawa dan "sayonara daa.. daa.." ungkapan perpisahan. "Abiil.. Abiil.. Abiilku yang lucu.. akhirnya nenek dan kakekmu nun jauh di seberang sana bertemu denganmu, wahai sumber cinta keluargaku".

Begitu lama Papa menahan rindu pada cucu pertamanya. Jarak terlalu jauh memisahkan mereka. Permasalahan juga menghimpit kepercayaan antara sang ibu dan keluargaku. Entah apa permasalahan sebenarnya. Aku sendiri tak mengerti. Hanya yang selalu nampak adalah keangkuhan. Ia berjalan dengan sombong, tanpa sapa, tanpa senyum sedikit pun. Bahkan terkadang tak hendak keluar dari peraduannya ketika ku berada di sana.

Keluarku adalah pilihan. Bagiku hidup ini begitu banyak pilihan. Dan setiap pilihan-pilihan itu harus ku pertaggungjawabkan. Mau mereka benci, atau bahkan fitnah demi fitnah yang terlontar dari lisan mereka dan sampai ke telingaku, aku sudah tak peduli. Yang ku fikirkan sekarang bagaimana melanjutkan hidupku dan perbaiki diri seutuhnya, semampuku. Aku sudah tak bergantung lagi. Aku sudah tak di sana lagi. Dan ku harap mereka tak su'udzhon lagi. Bukankah kini rumah itu, benda-benda itu, bahkan saudara kandungku dan keponakkanku sendiri mereka yang memiliki. Karena bagiku memiliki itu tak pernah kekal, suatu saat nanti Allah akan mengambilnya kembali. Maka dari sini ku belajar banyak hal. Tentang mensyukuri, tentang kekuatan, tentang kebaikkan.

Ya Rabb.. Haturku memohon segenap kekuatan dalam sebuncah luka, segurat duka, setitik dendam terpendam. Pada-Mu ku ungkap asa. Pada-Mu jua ku mohon jalan terbaik, agar permasalahan ini bisa terselesaikan dengan baik. Karena semuanya berawal dengan baik, maka ketika ku pergi ku harap semua pun akan berakhir dengan baik. Amiin..

Wallahu a'lam bishshowwab

Allah Maha Baik.. Allah Maha Penolong..
Ketika Salmonela Typesa menyerang lagi

Wednesday, May 13, 2009

Muara Itu Bernama "Kebahagiaan"


20.10 wib. Teknos, 12 Mei 2009

Sudah lama mimpi itu terukir, tak pernah aku mengungkapnya. Begitu beratnya membahasakan jiwa dalam ruhani yang kaku. Jika kita menafsirkan kebahaagiaan itu terletak di sudut-sudut cinta. Ku ingin pulang ke tempat yang damai. Dimana disana bertabur cinta yang utuh, bersama mereka. Ketika ku coba lagi mengurai dentingnya, hambar ku dengar sayup-sayup melodi itu. Yang mungkin kini menyapa lagi. Lekuk-lekuk nurani yang hampa, merindukan asa, harap dan cita.

Ah… tak sanggup aku membahasakannya, karena do’a itu tak begitu sesederhana yang ku kira. Hanya Ia yang tau. Perlahan sebait do’a mulai ku sampaikan lewat bisik angin. Perlahan ku ungkap perasaan agar tak jua Ia melepasnya. Rembulan nampak terang setelah rumput-rumput basah karena gerimis. Ya.. danau, lautan, bahkan samudra pun tak jua mampu membahasakannya. Padahal mungkin ia sangatlah sederhana. Aku ingin kembali bahagia.

Kembali ku terpaku. Mencoba menikmati alunan merdu itu. Perlahan ku buka, lalu tutup mata membayangkan padang hijau di kelilingi bunga-bunga indah warna-warni. Layaknya sebuah taman terindah tempat tinggal abadi nanti. Ah.. tersentak ku tersadar. Bahwa mereka tak kan pernah mengerti aku. Dan aku pun tak pernah meminta mereka mengerti diriku.

Selamat tinggal waktu yang tlah binasa. Selamat tinggal asa yang tlah mengawang hilang. Bersama udara ia mengawang terbang. Bersama air ia menguap hilang. Tinggalah aku disini. Sendiri di tempat ini. Dan ketika perlahan kembali kubuka mata. Ku sadari bahwa semua tak seperti yang ku kira. Semua berubah, tak seperti dulu lagi. Terjadi karena goresan tinta. Kehendak Langitkah?.

Langit mendesah, mencoba mengingatkan untuk tak lagi merintih. Pelangi menyapa, memperlihatkan ada banyak warna dunia yang bisa dinikmati keindahannya. Mentari tersenyum, mencoba tuk menguatkan, bahwa masih ada hari-hari yang kan di lalui bersama secercah harapan. Bintang berbisik, bersama rembulan ia berlomba mengajak menari bersama, arungi samudra malam. Sudah… jangan berduka lagi. Karena semua tlah kau lalui. Dan akan ada bahagia menanti. Selesai sudah episode duka. Akhirnya… tersenyumlah bahagia dalam dekap cinta – NYA –

Fithri Ariani, saat semakin ku nikmati “bahagiaku”
Selamat tinggal duka, Selamat Datang Cinta

Thursday, April 16, 2009

Memupuk Keikhlasan I

Dalam hidup, tidak ada yang bisa menebak arah alur takdir manusia. Hidup yang sejatinya adalah catatan perjalanan yang hari demi hari menjadi lembar sejarah manusia, semuanya berujung pada kematian. Karena kematianlah yang kelak akan menjawab kehidupan sebenarnya. Pernahkah kita sejenak berfikir tentang kehidupan yang sejati?

Kehidupan tidak lepas dari ujian-ujian. Setiap ujian menghantar manusia pada muara hikmah. Karena di dalam semua ujian dan permasalahan hidup itu tersimpan hikmah. Bagi yang mampu berfikir lebih dalam mengenai hikmah ujian-ujiannya, akan memperoleh hidayah karena menggali hikmah itu adalah energi pembangun hidayah. Tinggal bagaimana kita berproses untuk belajar menggali hidayah dan hikmah yang tersembunyi dibaliknya. Kuncinya adalah kita harus siap belajar, belajar, dan belajar. Belajar tiada henti hingga akhir hayat. Belajar untuk menerima segala ujian yang Allah beri.

Sehat sakit, miskin kaya, muda tua, suka duka, bahagia menderita, semua adalah ujian. Ketika ujian demi ujian datang menerpa diri, manusia terkadang menganggapnya sebagai batu sandungan yang berat, terkadang bahkan sampai tersedu sedan tak mampu menahan rasa yang tak menentu.

Ada satu hikmah yang saya petik dari semua runtutan ujian yang terjadi dalam kurun waktu singkat ini, ujian keluarga, ketika saya akhirnya harus menyadari bahwa ketika salah satu anggota keluarga kita menikah dan bergabung dengan keluarga yang baru, serta lahirnya generasi-generasi baru, kita harus siap kehilangan, karena semua bukan lagi menjadi milik kita. Khususnya cinta, kasih sayang, perhatian bahkan materi yang terbagi atau bahkan hilang. Artinya kita harus siap kehilangan semua yang dulu pernah kita miliki. Intinya kita harus bisa mengikhlaskan, termasuk mengikhlaskan generasi baru yang lahir dari pernikahan itu untuk lebih cenderung dan dekat dengan keluarga yang lain.

Dari kejadian ini, saya makin menyadari bahwa semua yang ada di dunia ini bukanlah milik kita. Semua adalah milik Allah, apa pun itu yang dalam sosial berstatus milik kita, seperti keluarga, harta, sahabat, suami, istri, dan apa pun bentuknya, semua itu adalah milik Allah yang dititipkan pada kita. Dan ketika waktunya tiba untuk melepas dan mengembalikan semua hak Allah yang dititipkan pada kita, kita harus siap dan ikhlas melepasnya.

Wallahu ‘alam Bishshawwab

Monday, April 06, 2009

My Life (New Episode)


Melepas penat di Puncak Dago Pakar Bandung, Senin, 30 Maret 2009


Friday, March 06, 2009

Bubur Every Day

Pagi bubur
Siang bubur
Malam bubur
Hidup bubuuuuuuuuuuuuuuuuuuuurrrrr.....................


Bubur lagi.. bubur lagi... huhhuhuhu... T_T


Ya Allah.. beri hamba jeda

Sunday, March 01, 2009

Sejenak Saja

Ciangsana, penghujung Februari 2009

Dalam hidup ini, ada kalanya manusia kelelahan. Seperti kuda perang yang kehausan, ia membutuhkan air untuk melepas dahaga dan beristirahat sejenak dari medan perang, kemudian menyiapkan energi lebih besar lagi untuk kembali berjuang.

Aktivitas seharian manusia menguras tenaga, fikiran, dan waktunya. Pagi - siang - sore bahkan malam diisi dengan amanah atau kerja-kerja yang tak ada habisnya. Malam pun tetap bekerja meski dengan intensitas yang berbeda. Saya teringat dulu ketika masih tinggal di Palembang, kota kelahiran saya, hari-hari saya pun saya habiskan dengan kerja. Ketika masih mahasiswa yang saya kerjakan adalah tugas-tugas kuliah dan aktifitas organisasi yang tak ada habisnya. Mengerjakan tugas hingga sepertiga - seperempat malam pun adalah hal yang biasa. Saking seriusnya, saya sampai nombok 1 tahun dari durasi kuliah normal yang seharusnya 5 tahun itu. Hehehe... Orang rumah bilang saya "gila kerja". Pergi pagi, pulang hampir bisa dibilang malam, paling sering ba'da maghrib/isya. padahal kerja-kerja saya waktu itu sama sekali tak menghasilkan sepeser rupiah pun. Lantas mengapa saya sampai bisa betah mengerjakan aktifitas tersebut?!?. Jawabannya sederhana saja, karena saya menyukainya. Ya begitulah manusia, jika ia sudah menyukai sesuatu, maka akan ia kerjakan meski tak menghasilkan rupiah. Satu hal yang saya tekankan saat itu, bahwa sebuah pengorbanan untuk menjalankan amanah dakwah meski tak dibayar sekali pun pasti akan mendapatkan ganjaran pahala, karena perbuatan baik meski hanya seberat zarah pasti akan tetap ada nilainya.

Setelah lulus dan bekerja, aktifitas pun tetap padat. Meski jadwal bertambah karena pekerjaan, amanah dakwah juga harus tetap dijalankan. Ikhtiar untuk tetap istiqomah dan berkontribusi di jalan dakwah ini tetap diazzamkan. Meski jasad hampir terkapar sekali pun.

Ciangsana, 21 Februari 2009, 12.00 wib
Benturan itu keras sekali, sampai melebamkan lutut dan otot kaki. Motor bagian depan semua hancur. Penutup spidometer terbelah dua. Lampu sen hancur semua. Klakson diganti baru karena banyak kabel-kabel yang putus. Saat itu, tangan menahan stang "kuda besi" agar tetap seimbang. Hingga menyebabkan tulang tangan semua terasa nyeri dan rusuk dada terasa sakit. Alhamdulillah, meski tabrakannya keras, saya masih bisa menahan motor dan tak terjatuh. Hari itu menjadi hari bersejarah bagi saya. Setelah tabrakan terakhir ketika kelas 2 SMP dulu. Beberapa hari sejak tabrakkan keras itu saya merasakan ada yang salah pada beberapa otot dan pernafasan saya. Bahkan selang 2 hari setelah tabrakkan itu badan panas. bahkan hingga saat ini lutut bagian kiri masih terasa nyeri. Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa. Amiin.

Ciangsana, 25 Februari 2009, 10.00 wib
Lima hari setelah tabrakan, badan panas tinggi sekali. Tubuh terasa dingin bahkan setiap malam menggigil kedinginan, sebaliknya suhu badan panas tinggi. Perut selalu terasa nyeri. Entah mengapa. Masih berharap tidak terjadi sesuatu. Namun aktifitas tetap saja dijalankan. Tugas mengajar di Sekolah, pulangnya juga masih mengisi private di Legenda dan Kota Wisata. Kegiatan pekanan dan amanah dakwah yang sudah lama dipersiapkan harus tetap dijalankan. Ya.. 5 hari setelah tabrakan itu, saya sama sekali tidak istirahat. Bahkan ketika harus kehujanan saat berangkat mengisi private. Hingga detik ini pun, saya masih belum bisa dibilang istirahat karena setiap malam harus mempersiapkan materi mengajar. Saya punya amanah anak-anak private yang hendak ujian UAN, kelas 9 dan 12 SMA. Soal-soal ujian UAN itulah yang hampir setiap malam saya kerjakan karena memang dari bimbel tidak diberi kunci jawabannya. Fisika, Kimia, B. Indo, Math... etc... Fffiuuuh.. karena.... karena..... karena............. Aaaggghhhhh....

Hari itu, kutekadkan cek ke dokter, ada apa gerangan panas tinggi + pusing-pusing itu datang dan berkocol ditubuhku. Dokter menjelaskan banyak hal, dampak akibat tabrakkan keras itu dan aktifitas yang terlalu padat tak henti. Hingga akhirnya dokter memutuskan untuk mencek darahku karena suhu badan sampai 38 derajat. Dua setengah jam kemudian, ku terima selembar kertas hasil analisa dokter, ya... aku positif terkena typus. Ada 5 widal yang positif dari 7 widal yang ada. Astaghfirullah...


Over Load
Saat semua tugas-tugas menumpuk, pekerjaan tiada henti, amanah datang silih berganti, adakah sejenak saja kita luangkan waktu untuk "jasad" kita sendiri?!?. Sisi lain dari hatiku berbisik, "Istirahatlah sejenak. Tariklah nafas dalam sesaat. Lepas dahaga itu. Buang jauh-jauh lelah payah itu". Namun kenyataannya, Aku berteriak kelelahan, tapi aku tak punya pilihan. Semua harus tetap dijalankan. Bahkan hingga terkapar atau nafas terakhir sekali pun. Wallahu a'lam...

Ruang Kosong, 1 Maret 2009
Ya Allah Yang Maha Penolong, Yang Maha Kuat.
hamba memohon kekuatan dari-Mu, memohon kesehatan dari-Mu, memohon pertolongan-Mu.
Berikanlah hamba yang dhoif ini kekuatan, kesehatan, dan pertolongan agar tetap bisa menjalankan semuanya dengan semampu hamba. Dengan sebaik-baiknya dengan sisa nafas yang masih bersisa. hamba mohon pada-Mu ya Allah... kabulkanlah...

Aamiin



Sunday, February 08, 2009

Usah Kau Simpan Lara Sendiri

Jika kehidupan akan berakhir pada sebuah kematian, maka apa yang kita persiapkan sebagai bekal menyambut gerbang kematian?
Jika kau mencintai dan terluka karenanya, jangan kau dekap erat sang duka. Usah kau simpan lara sendiri.

Kehidupan manusia, tidak terlepas dari dunia romantisme. Sebuah anugerah dari Sang Maha Pemberi Cinta. Sebuah dunia yang berisi tentang bahasa perasaan. Sebuah gejolak rasa yang tumbuh dari dalam hati karena hadirnya sebentuk wujud keindahan. Sebuah fithrah yang hadir karena sebentuk kejujuran, sebuah fithrah yang lahir karena hati yang mendamba belahan jiwa. Adalah manusiawi jika manusia mencintai, adalah manusiawi jika manusia mengagumi. Adalah manusiawi jika manusia menyimpan asa, cita, dan harap kepada yang dicintai. Bila getar-getar itu datang, maka siapa yang bisa menghindari? Siapa yang mampu menolaknya?. Cinta bisa membersihkan akal dan nurani, menjadi cerdas dan baik karenanya. Namun cinta pun bisa membutakan hati. Merusak tatanan cinta kepada Ilahy yang dengan susah payah dibangunnya. Ibarat menghancurkan sebuah bangunan yang telah berdiri kokoh. Tinggal kita yang memilihnya. Akan kemana arah cinta yang telah di anugerahkan Sang Kholik kita bawa?.

Epilog
Melewati dinginnya malam, seorang lelaki muda berwajah tirus terus
berjalan di tengah kabut dan angin yang berhembus kencang. Malam terus bias ditelan gelap. Dingin menusuk hingga ke tulang. Ia sendiri. Mengitari jalan setapak di pinggiran danau. Kemudian duduk di sebuah kursi tua yang terbuat dari kayu pualam. Terdiam membisu tertimpa butiran salju. Bibir bergetar. Tubuh gemetar. Hingga terlelap di tengah sunyinya malam.

Cuaca tak bersahabat menemani. Salju turun perlahan mengubah bibir malam yang mulanya indah ditemani rembulan yang cahayanya terpantul di tengah danau. Bayang – bayang rumput jarum turut bergerak perlahan di tengah riak gelombang danau yang tertimpa butiran salju. Lelaki itu terus melangkah lagi. Tak tentu arah. Galau jiwa yang menerpa sejak terdengar detik kematian kekasih.

Jauh disana, di seberang lautan, belahan jiwa telah menutup mata tuk selamanya. Berpulang dengan bibir mengulas senyum terindah. Hati bergetar. Kala malaikat pencabut nyawa yang memisah terasa turut mengalir di aliran darah. Dari dua tangan yang terpisah karena kehendak langit. Alam yang telah berbeda.

Ia tak bisa menebak kehendak langit. Mencoba terus membuka mata dan hati untuk ikhlas melepas. Melupakan semua kenangan yang tersimpan dalam langit-langit jiwa. Melupakan segala duka. Mencoba bangkit dan melangkah lagi. Mengulur jemari untuk berbagi galau hati. Namun ia tak jua menemukan muaranya. Detik demi detik berlalu. Terpisah dua nyawa saling mencinta. Tertinggal sepenggal kisah dan kenangan. Malam semakin larut, salju turun semakin deras. Tuhan melihat. Malaikat melihat. Lelaki muda itu tersungkur, jatuh, menghela nafas terakhir, kemudian tak bangkit lagi tuk selamanya.

Kelahiran, kehidupan, kematian, adalah misteri yang setiap makhluk tak kan pernah mengetahuinya. Karena semua itu “Rahasia Langit”. Kematian, meninggalkan memoar sejarah kehidupan. Tak jarang ia meninggalkan duka dan kenangan tak terlupa. Maka, bekal apa yang kita persiapkan untuk menyambutnya?


"Lelaki Di Balik Lukisan Hujan 2"
Give your heart to Allah

Friday, December 05, 2008

Yang Terbang Terhapus hujan













Dia..
Yang tak pernah ku kenal
Tak pernah ku tahu
Tak pernah ku lihat
Tak pernah ku dengar
Tak pernah terbayangkan

Dia..
Adalah rahasia yang belum terkuak
Adalah maya jiwa yang tak nampak
Adalah desiran angin yang menyapa namun tak terjawab
Adalah partikel yang terbang terhapus hujan
Adalah energi yang menghilang mengawang

Lalu..
Biarlah jemari-jemari kecil itu menjadi kenangan..

Dia..
Yang terbang terhapus hujan

Ciangsana, 05 Des 2008
Saat belajarku berproses lagi

Tuesday, December 02, 2008

Hari yang Indah

Ciangsana, 02 Desember 2008

Pagi ini ketika membuka gorden jendela kamar, ku lihat pemandangan indah terhampar di hadapan. Sebuah gunung berdiri megah. Layaknya teman yang senantiasa setia menyapa pagi demi pagiku yang syahdu. Sepertiga malam, setelah lail, tilawah dan shubuh, pagi adalah sesosok hadiah terindah yang Allah berikan. Rutinitas demi rutinitas yang melelahkan, di bayar dengan kedamaian jiwa lewat megahnya alam pagi hasil kreasi Sang Pencipta. Bahagianya hati ini masih bisa memandang hamparan pemandangan indah.

Burung bernyanyi-nyanyi riang, saling bersahut-sahutan. Beberapa ekor kupu-kupu terbang menari-nari di bunga three color dan Air brush di taman depan rumah. Wangi pagi sehabis hujan semalam, semakin menyemarakkan aroma bumi tersapu hujan. Hmm... ku tarik nafas dalam-dalam, sembari mensyukuri nikmat pagi yang Allah berikan dengan senyum terkembang. Alhamdulillah... Allahu Akbar...

15 menit kemudian, siap ku langkahkan kaki menuju kuda besi. Ku pacu kuda besi dengan kecepatan rendah, menuruni tebing blok SB2 Villa 5. Di ufuk timur, nampak mentari tersenyum sembari memamerkan pancaran cahaya yang menyilaukan mata. Rutinitas lain dipagiku, menyapa sang mentari. "Pagi mentari...", sapaku padanya yang tetap saja mengawang di angkasa setiap hari. "Pagi Fithri..." balasnya. Jangan heran bin bingung, saya terbiasa mengajak serta penghuni alam bercengkrama.

Di awali dari pagi. Kehidupan dimulai. Lembaran baru pun kembali diisi. Tulisan-tulisan dari "pena kepribadian" pun mulai terangkai kembali. Ku sapa setumpuk buku-buku di meja kamar. Dari buku-buku tipis, hingga yang tebal. Ngomong-ngomong, hutang baca saya banyak sekali, beli buku tp lom khatam-khatam juga hehehe. Buku-buku itu seperti menagih hutang saja. Oh ya, buku yang sedang saya baca sekarang, "Khadijah, The True Love Story of Muhammad" dan temannya "Di Jalan Dakwah Aku Menikah". Cyeeeeee... Kenapa saya sebut temannya?? karena kedua buku itu warnanya sama-sama pink. Kompak!. Buku kedua itu saya baca ulang, karena dulu sudah pernah baca. Yang sekarang di tangan adalah revisinya. Ust. Cahyadi, Thank's untuk ilmunya :).

Kemudian menyapa si kuda besi yang baik hati karena selalu setia menemani saya berkelana kesana-kemari. Lalu menyapa sang Gunung yang sering muncul di balik jendela kamar. Jika cuaca cerah, jika mendung dia tersenyum malu-malu bersembunyi di balik kabut. Selanjutnya menyapa sang mentari pagi - sahabat pagiku yang tak segan menyinari seisi bumi. Menyapa Bella, Jo dan William, tetangga sebelah. Menyapa satpam clusther Kasuari dan orang-orang yang ku kenal. Menyapa pepohonan, embun pagi di dedaunan, seisi alam berhiaskan bunga-bunga nan cantik, awan yang berarak dll.

Hari ini, jam 13.00 ba'da zhuhur hujan kembali membasahi bumi setelah cuaca panas seharian. Kebiasaanku, memperhatikan hujan. Dari kaca jendela ruang komputer sekolah tempatku bekerja, ku lepas pandang keluar. Kala itu hujan turun dengan derasnya. Alam pun nampak tetap menyambut akrab sang hujan. Seperti sepasang sahabat lama yang saling melepas rindu. Selalu sama. Ketika hujan, alam selalu menyambutnya dengan suka cita. Seluruh partikel bumi nampak bersuka ria. Basah ranting-ranting pepohonan. Dedaunan yang menghijau cerah tersapu hujan. Pepohonan, bunga-bungaan, rerumputan, penduduk bumi, semuanya merunduk bertasbih mensyukuri nikmat Allah yang bernama hujan. Subhanallah...

Usai mengetik tugas-tugas persiaan Ulangan Umum, Qurban dan Baksos di komputer 13 segera ku ayunkan langkah ke kelas langit untuk bersiap-siap menuju Legenda Wisata Cibubur. Sebuah perumahan elit tempatku mengisi jadwal private matematika dengan salah seorang siswa IGM yang tinggal di kawasan Mozart. Ku pacu kuda besiku lebih cepat agar tak terlambat karena jarak yang ku tempuh cukup jauh, 7 km kurang lebih. Selama perjalanan ku pandangi alam indah sepanjang jalan. Jalur perjalananku menuju Legenda Wisata melewati Kota Wisata, sebuah perumahan elit yang juga terletak di kawasan Cibubur. Kedua perumahan elit ini bergaya Amrik. Tata letak perumahan dan taman-tamannya benar-benar asri. Pepohonan rindang di sisi kiri kanan nampak berbaris rapi. Dari Kota Wisata inilah, aku bisa melihat barisan pegunungan yang berdiri kokoh. Gugusan bukit-bukit kecil yang mengapit sebuah gunung yang menjulang tinggi. Megah, indah ciptaan Allah. Damai terasa, bahagia jiwa menatap hamparan indah ciptaan Yang Kuasa. Allahu Akbar.... Hal inilah yang paling kusukai dari tiap perjalananku menuju Legenda Wisata. Sesuatu yang sangat sulit ke temukan jika berada di tengah perkotaan, seperti Palembang atau Jakarta.

Saat ini, tiada hal lain yang harus di kufuri dari segala nikmat yang Allah beri. Bahkan semuanya harus disyukuri. Meski hati terus merintih, cercaan dan hinaan terus menghantam diri dari orang-orang yang kurang memahami agama, orang-orang yang merasa telah hebat, telah pintar. Ya... mereka sebenarnya adalah orang-orang yang patut dikasihani. Manusia-manusia yang berjiwa kerdil. Jika saja mereka menyadari bahwa setiap detik itu di hisab, jika saja mereka bisa menyadari bahwa bisa jadi detik itu adalah detik terakhir kehidupan, nafas terakhir. Jika saja mereka mengerti bahwa kematian itu kapan saja bisa menghampiri. Jika saja mereka bisa mendalami makna hakikat penghambaan diri, mereka pasti bisa berubah. Minimal menjadi lebih rendah hati dan tawadhu'. Semoga saja, ya... semoga saja aku bisa segera keluar dari "lingkaran abu-abu dan air keruh" itu. Amiin..

Ya Allah Yang Maha Kuat,
Hanya kepada-Mu hamba memohon kekuatan
Hanya Engkaulah Yang Maha Memberi dan Melepas nikmat
Karuniakanlah kepadaku nikmat yang luas,
Yaitu nikmat tuk semakin mengenal-Mu,
nikmat tuk semakin mencintai-Mu
dan nikmat tuk terus mensyukuri nikmat-Mu.
Amiin...


Thursday, November 20, 2008

Meretas Jalan Ke Surga (2)

Ar Ruhbanum fillail, Wal Fursanum Finnahaar

Penghuni-penghuni surga itu, mereka bagaikan rahib-rahib yang khusyuk di malam hari, dan penunggang kuda yang perkasa di siang hari. Mereka menunaikan amanahnya dengan perangkat muwashofat yang teratur. Mereka tidak lemah dengan celaan orang-orang yang mencela. Cukuplah kesalahan dan aib yang dilakukannya, menyibukkan dan memeras air matanya dalam beribadah.

Kapankah kiranya, lahir kesadaran bagi kita untuk kembali menghadirkan profil-profil mereka hari ini. Kita yang memperkenalkan diri sebagai aktivis dakwah. Kita yang menilai diri sebagai generasi qur’ani. Kita yang paling lantang menghujat kekufuran dan kebodohan atas nilai-nilai Islam. Kita yang pasang badan paling depan atas penindasan kaum muslim atas penindasan kaum muslimin di seluruh pelosok negeri. Kapankah saatnya…?

Semakin bertambah hari ini, semakin kental tuntutan kita untuk memperbaiki diri. Menjelmakan diri kita dari kata-kata menjadi amal. Menambah daftar orang-orang sholeh yang dikenal dan menjadi rujukan masyarakat. Mementaskan dakwah yang lebih utama di segala lini kehidupan, dakwah parlemen, dakwah birokrasi, kampus, sekolah adalah tidak lebih utama dari dakwah kampung dan masyarakat. Inilah tuntutan muwashofat yang bisa kita andalkan, menjadi perangkat kita menawar cinta dan rahmat Allah swt. Sehingga pembinaan yang sekarang semakin meluas, diramaikan dengan apresiasi ruhiyah yang kental dan membumi. Sampai Allah kelompokkan kita menjadi golongan Ar Ruhban dan Al Fursan.

Hendaklah kita tidak terjebak dalam dialektika serta definisi-definisi yang rumit dan melenakan. Yang menggiring kita dari substansi kepada perangkat. Dan memalingkan kita dari tujuan kepada problem. Cukuplah pernyataan Imam Syahid Hasan Al Banna menjadi taushiah bagi kita,

“Kaum muslimin pertama semoga Allah meridhoi mereka semua tidak mengenal Islam dengan lafadz-lafadz mentereng, kata-kata dan pembagian yang memukau serta dengan definisi-definisi dan istilah-istilah ilmiah. Akan tetapi, keislaman mereka adalah aqidah yang mengakar di dalam hati, menguasai jiwa, serta mendorong mereka untuk beramal sesuai dengan aqidah tersebut dan dalam rangka mewujudkan tujuan tujuan serta kandungannya”

Semoga Allah swt senantiasa memuliakan kita dengan dakwah dan amanah yang kita emban. Melunakkan hati-hati kita yang mungkin mengeras dan terpalingkan akibat beban dakwah. Dan mampu memaknai muwashofat sebagai mana para penghuni surga memaknai keberadaannya. Hingga kita bisa berhimpun bersama mereka, karena mengemban estafet perjuangan mereka. Amiin…! Wallahu ‘alam bish showwab.


Al Izzah '05

Refleksi tarbiyahku