Thursday, June 22, 2006

Rosulullah dan Sakratul Maut

(Detik-Detik Menjelang Wafatnya Rosulullah saw)

Sakratul maut merupakan hukum Allah yang berlaku bagi semua hamba-Nya.
"Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula)." (Az – Zumar: 30)

Ketika fajar pada hari senin tanggal 12 Rabi’ul Awwal tahun ke-11 Hijriyah telah masuk, dan orang-orang pun telah sholat di belakang Abu Bakar, tiba-tiba kain penutup yang melintang di kamar ‘Aisyah terbuka dan Rosulullah saw pun muncul dari baliknya lalu sambil tersenyum memandang mereka yang sedang berbaris sholat. Kemudian abu Bakar pun mundur hendak memberi tempat kepada beliau, karena mengira beliau akan melaksanakan sholat. Demikian pula kaum muslimin. Mereka nyaris menangguhkan sholat dan hendak keluar dari shaft karena bergembira menyaksikan Rosulullah saw. Namun beliau segera memberi isyarat dengan tangannya agar mereka tetap melanjutkan sholat. Kemudian beliau masuk kamar lagi seraya melabuhkan kain penutup itu.

Karena mengira Rosulullah telah sembuh, maka setelah menunaikan sholat, orang-orang pun bergegas meninggalkan masjid. Namun itu adalah pandangan perpisahan beliau kepada para sahabatnya. Rosulullah saw ke kamar ‘Aisyah lalu berbaring seraya menyandarkan kepalanya di dada ‘Aisyah. ‘Aisyah berkata : Ketika aku sedang memangku Rosulullah saw, tiba-tiba Abdurrahman masuk seraya membawa siwak. Aku lihat Rosulullah terus-menerus memandangnya sehingga aku tahu beliau menginginkan siwak. Aku Tanya "ku ambilkan untukmu?" Setelah memberi isyarat "Ya" lalu ku berikan siwak itu kepada beliau. Karena siwak itu terlalu keras, maka ku tawarkan untuk melunakkannya dan beliau memberi isyarat setuju. Kemudian beliau memasukkan kedua tangannya ke dalam bejana berisi air lalu mengusapkan wajahnya. Menghadapi sakratul maut ‘Aisyah berkata : Saat itu di hadapan beliau terdapat bejana berisi air, kemudian beliau mengusapkan ke wajahnya seraya berkata "Laa Ilaaha Illallah, sesungguhnya kematian itu punya sekarat". Fathimah ra berucap "Alangkah berat penderitaan ayah!" namun beliau menjawab "Sesudah hari ini, ayahmu tidak akan menderita lagi". Kemudian beliau mengangkat tangannya seraya berucap "Fir Rafiqil A’laa" sampai beliau wafat dan tangannya lunglai.
Maka tersiarlah berita kematian Rosulullah saw ditengah masyarakat. Abu Bakar datang dengan menunggang kudanya dari kediamannya di Sunuh (ia kembali ke rumahnya karena mengira bahwa Rosulullah telah sembuh) hingga tiba di masjid. Abu Bakar tidak berbicara pada siapapun hingga ia masuk ke rumah ‘Aisyah dan langsung melihat Rosulullah yang sedang ditutup dengan kain buatan Yaman. Setelah menyingkap wajah beliau lalu Abu Bakar mendekap dan mencium beliau sambil menangis berkata : "Ayah dan ibuku jadi tebusanmu, Allah tidak akan mengumpulkan kepadamu dua kematian. Adapun kematian yang telah ditetapkan atasmu maka hal itu telah engkau jalani". Kemudian Abu Bakar keluar, sementara Umar ra sedang berbicara dengan orang-orang bahwa Rosulullah saw tidak mati tetapi sedang pergi menemui Robbnya sebagaimana Musa bin Imran dan beliau tidak akan mati sebelum orang-orang munafiqin punah. Kemudian Abu Bakar mendatanginya seraya berkata : "Tunggu sebentar wahai Umar, diamlah!" namun Umar tidak menggubrisnya dan terus berbicara dengan emosional. Melihat Umar tidak mau berhenti, maka Abu Bakar pergi menemui orang-orang dan mereka pun menemui Abu Bakar seraya meninggalkan Umar. Abu Bakar lalu berkata: "Amma Ba’du, wahai manusia! Barang siapa diantara kalian menyembah Muhammdad, maka ketahuilah bahwa Muhammad telah meninggal dan barang siapa yang menyembah Allah sesungguhnya Allah Maha hidup dan tidak mati. Allah berfirman :

"Muhammad itu adalah tidak lain seorang Rosul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa Rosul. Apakah jika ia wafa atau /dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak akan mendatangkan mudhorat kepada Allah sedikitpun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur". (Ali Imron: 144)

Sebelum Abu bakar membacakan ayat ini, seolah-olah mereka tidak tau kalau Allah telah menurunkan ayat tersebut, sehingga semua yang mendengarkan ucapan Abu Bakar dengan serentak ikut membacanya. Umar ra berkata: "Demi Allah, setelah aku mendengar Abu Bakar membaca ayat tersebut aku merasa tidak berdaya, kedua kakiku lemas sehingga aku terduduk ke tanah karena aku mendengar dia membacakan bahwa nabi saw telah meninggal dunia". Para perawi dan ahli ilmu sepakat bahwa nabi saw wafat pada usia 63 tahun di awal tahun ke 11 Hijiyah. 40 tahun beliau jalani sebelum di angkat menjadi Rosul, 13 tahun dakwah di Mekah, dan 10 tahun di Madinah setelah hijrah. Bukhori meriwayatkan bahwa Rosulullah tidak meninggalkan satu pun dinar atau dirham atau budak lelaki/budak perempuan, selain daripada baghalnya yang putih yang biasa ditungganginya dan senjata serta tanah yang sudah di ikrarkan sebagai shodaqoh untuk ibnu sabil.

BEBERAPA IBRAH:
  1. Peristiwa wafatnya Rosulullah mengungkapkan hakikat terbesar dalam kehidupan ini. Hakikat yang menjadi pangkal bagi tiran yang mempertuhankan dirinya. Hakikat yang mengantarkan diri pada kefanaan. Suatu hakikat yang memberi kesadaran (baik suka atau terpaksa) kepada orang-orang yang membangkang atau pun orang-orang yang taat, para penguasa, orang-orang yang mempertuhankan dirinya, para Rosul, nabi, orang-orang pilihan, orang-orang kaya, dan orang-orang kafir. Ia adalah hakikat yang menegaskan sepanjang zaman dan setiap tempat, di setiap telinga orang yang mendengar dan setiap kepala yang berfikir, bahwa tidak ada Uluhiah kecuali bagi Yang Maha Kekal Abadi, tidak ada satupun yang dapat menolak keputusanNya, tiada batas bagi kekuasaanNya, tiada tempat lari dari hukumNya, dan tiada ada yang dapat mengalahkan segala urusanNya. Hakikat itu adalah hakikat kematian dan sakratul maut karena dengan fenomena itu Allah menundukkan segenap penduduk dunia ini semenjak fajar kehidupan sampai terbenamnya. Allah berfirman :
    "Sesungguhnya engkau pasti menemui kematian dan sesungguhnya mereka juga pasti menemui kematian" (Az Zumar : 30)
    Adalah mudah bagi Allah untuk menjadikan RosulNya terbebas dari sakratul maut dengan segala penderitaannya, tetapi hikmah Ilahiah menghendaki bahwa ketentuan Allah ini berlaku bagi semua orang betapapun kedudukannya di sisi Allah, agar manusia hidup dalam suasana tauhid. Juga agar mereka mengetahui bahwa segala yang ada di langit dan bumi pasti akan kembali kepada Yang Maha Rahman sebagai hamba. Tidak ada seorang pun yang boleh menolak ‘ubudiah dan merasa tidak perlu mengingat sakratul maut, setelah kekasih Allah pun tidak dapat lolos darinya.
  2. Tidak ada pengutamaan dalam Hukum Islam kecuali dengan Amal Shalih
  3. Disyari’atkan Ruqyah yaitu dengan membaca berbagai macam ta’awwudz (permintaan perlindungan kepada Allah, sebagai do’a). Dari ‘Aisyah : Apabila ada seseorang yang sakit, Rosulullah saw biasanya mengusapkannya dengan tangan kanan beliau seraya mengucapkan: "Idzhabil ba’sa robbanass. Waa syufi wa antassyafi la syifa’a illa syifa ‘uka syifa ‘an la yugho diru saqoma.
    "Ya Allah, hilangkanlah penyakit ini, wahai Penguasa seluruh manusia, sembuhkanlah. Engkaulah Yang menyembuhkan, tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, sembuhkanlah dengan kesembuhan sempurna tanpa meninggalkan rasa sakit"
  4. Pandangan terakhir Rosulullah kepada para sahabatnya bahkan umatnya yang terekam di benak beliau dan yang menjadikan saksi antara mereka dengan Allah yaitu ketika para sahabat dan umat melaksanakan Sholat. Hikmah Allah telah menghendaki bahwa pandangan terakhir itu ialah Sholat! Kehendak Allah telah menentukan bahwa Sholat merupakan pesan terakhir beliau. Wallahu'alam Bishowab
    Created by : Fitrah Al Jannah, 190606. Ya Allah, jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang senantiasa bersyukur atas rahmat-Mu, dan Istiqomahkanlah kami di jalan-Mu. Amiin….

    Sbr:SIRAH NABAWIYAH – Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Al – Buthy (1397 H/1977 M)

Saturday, June 17, 2006

Surat Untuk Robbku

Tiada Tuhan kecuali Allah...
Maha penyantun yang maha mulia
Maha suci Allah...
Tuhan yang memiliki 'Arasy yang besar
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam
Hamba memohon kepadaMu
Perkenankan rahmatMu dan keampunanMu
dan memohon pemeliharaan dari segala dosa
dan pemberian dari segala kebaikan
serta keselamatan dari segala dosa..
Janganlah Engkau tinggalkan dengan gelimang dosa tanpa ampunanMu
Janganlah Engkau tinggalkan hamba dalam keadaan sengsara tanpa Engkau melapangkannya
dan tiada kehendak kepadaMu dengan keridhaan
kecuali Engkau yang mendatangkannya
Ya Dzat yang lebih belas kasih terhadap orang yang memelas kasih...
Amiin ya Robbal'alamin
Sepucuk do'a dari sahabat, usholli sunnatal hajati...

Friday, June 02, 2006

Aku, dalam ke"BT"anku

Hening...
Tak ada suara

Pusing...
ngga tau musti nulis apa

Tulis itu salah
Tulis ini salah

yang ada cuma kepalsuan di mana-mana
dan wajah-wajah penuh tanda tanya

Seperti dalam ruang tiga dimensi
banyak sisi tak di mengerti

sebentar begitu
sebentar begini

hhhhgghh......
aku tak mengerti

kepala makin mumet
pikiran jadi ruwet

Rutinitas membosankan
membuat hidup jadi ribet

raut muka berkerut
lama - lama makin mengkerut (:D)

bagaikan jeruk purut,
jeruk puruuut.... mmm.... enakkan di buat jadi es jeruk aja yah :D

manis asem es jeruk
diminum di siang hari

duuuuh... suegernya :D

aah... pusing aku begini

mending pulang aja ah.... dari pada billing makin membengkak :D




Daahhhh... blog "ienk"ku ^_^

Friday, April 28, 2006

Dzikir Alam Semesta

Laut pernah berbisik kepada pasir, bahwa ia sedang bertasbih.
Lewat sentuhan lembut gelombang, yang memecah bibir pantai.
Pepohonan pernah berbisik kepada tanah dan rerumputan, bahwa ia sedang bertahmid.
Lewat sentuhan angin, yang menggoyang anggun ranting-rantingnya. Bintang-bintang pernah berbisik kepada rembulan.
Bahwa ia sedang melafadzkan kalimat tahlil, melalui pantulan kedipan sinar kecilnya.
Dan langit biru pernah bercerita, bahwa ia menyaksikan setiap peristiwa yang terjadi di alam semesta.
Alam semesta berdzikir kepada Allah.

Saudaraku, langit dan bumi bagaikan pasangan sejati, saling berbagi cerita tentang apa-apa saja yang terjadi diantaranya. Saudaraku, bumi dan langit saling bahu-membahu menjaga apa yang ada didalamnya. Mereka bekerja sama bagaikan sebuah tim yang selalu siap untuk para penghuninya. Mereka menjadikan dirinya, sebagai pelajaran bagi semua makhluk yang ada di dalamnya. Slalu siap sedia untuk memberikan apa saja yang dibutuhkan oleh penghuni mereka.

Ia, Robb, Pencipta alam beserta isinya. Maha pemberi cinta tanpa batas. Segalanya tersedia di hamparan bumi yang luas, karena ada cinta dari Nya Yang Maha Agung. Ia jadikan apa yang ada di bumi maupun di langit sebagai nikmat bagi manusia. Semua Allah beri pada kita tanpa pamrih sedikit pun. Bila kita menginginkan sesuatu, kita tinggal mengambil dan mengolahnya dari bumi ini. Asal kita mau berusaha. Apapun bisa kita peroleh. Karena sejatinya, bumi beserta isinya diciptakan untuk di olah dan dipergunakan manusia dengan sebaik-baiknya. Bahwasanya di antara bumi dan langit, terkandung jutaan, bahkan milyaran hikmah yang bisa di perlajari oleh manusia. Allah berikan desah nafas, detak jantung, mata yang bisa melihat, kaki yang bisa berjalan, tangan yang bisa menggenggam, keluarga, teman-teman, dan nikmat lainnya, yang tentunya tidak bisa kita urai satu persatu.

Baca selanjutnya

“Tuhan, aku selalu memujiMu dengan pujian yang kekal , sebagaimana sifat kekalMu. Aku memujiMu dengan pujian yang tiada bertepi, kecuali hanya Engkau Yang Maha tau. Aku memujiMu dengan pujian yang tiada batas, kecuali jika Engkau menghendaki batasnya. Aku selalu berusaha memujiMu, sebab tiada pahala yang akan didapat oleh pemuji, kecuali bersama ridoMu...”

(Aku, disaat alam bercerita)

Thursday, April 27, 2006

Cerita di Balik Lukisan Hujan

Mendung dikala itu
Ketika kedua kakinya melangkah dengan gontai
Paras wajahnya sayu
Tatapannya kosongMenyiratkan kepedihan

Tubuhnya melangkah lemah
Masih nampak tetesan-tetesan bening pada kedua pipinya
sesekali kepalanya mendongak menatap langit
Langit tak berbicara, hanya nampak kabut kelabu

Mendung dikala itu
Di saat sesosok tubuh berjalan
Melangkah di tengah hujan
Menerobos setiap tetesan

Terus melangkah
Lalu berlari
Semakin kencang
Dalam nafas yang tak beraturan
Menempuh jarak Melibas waktu
Dan kemudian ia roboh
Di saat hujan dan guruh
Makin menderu

Mendung di kala itu...

(Lelaki di dalam hujan)

Friday, April 21, 2006

Aku Menangis Untuk Adikku 6 Kali

16 April 2006 lalu kakakku mengirimkan sebuah artikel yang isinya terus terang membuatku terenyuh... sayang sekali, aku baru sempat cek email hari ini, so email tersebut baru ku baca. Setelah membacanya, aku memutuskan untuk menampilkannya di blogku. Isi artikel tersebut amat menyentuh hati dan mengandung hikmah yang sangat mendalam, sampai-sampai membuat mata ini tidak tahan untuk tidak menangis... terlebih lagi karena artikel ini dikirim oleh seorang kakak kepada adiknya sendiri yang amat menyayanginya. Yaa... semoa artikel ini bisa menyentuh setiap relung-relung hati yang mau dengan ikhlas membacanya sampai selesai. Semoga bermanfaat... Berikut isi email tersebut tanpa edit sama sekali...

My Brother says : "Inget dengan kumoro kan (salah satu peserta TIM ke-1) diangkatan ku, lewat email2nya, dia bisa dibilang penasehat spiritual, yang bisa meluluhkan hati ku di saat angkuh dan membatu. berikut salah satu kirimannya(sudah lama dikirim ke milis angkatan). cerita sedih memang, tapi mudah2an bermanfaat."

Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku. Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya. "Siapa yang mencuri uang itu?" Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapapun mengaku, jadi Beliau mengatakan, "Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!" Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, "Ayah, aku yang melakukannya!" Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batubata kami dan memarahi, "Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang?... Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!" Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, "Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi." ....
Ya Allah...
dalam hening, dalam riuh...
aku ingin tetap menyebut namaMu...
Mengagungkan asmaMu...
Jadikanlah setiap kisah yang terlintas
Apa yang terbaca
Melalui mata, hati, dan fikiran hamba
sebagai pengingat dan guru terbaik bagi hamba...
Amiin...
Idzinkan hamba mencinta-Mu semampuku

Saturday, April 15, 2006

Panah Syetan

Oleh : Shalih bin Muhammad Al-Wunaiyyan
DAFTAR ISI
Mukadimah
Panah Pertama: Nilai Ketaatan Yang Memudar dan Melemah Faktor-Faktor Penyebab Melemah dan Memudarnya Nilai Ketaatan
Panah Kedua: Penyakit Ujub Terhadap Diri Sendiri dan Amal Definisi Ujub Sebab-sebab Ujub Dampak Negatif yang Timbul Akibat Ujub
Panah Ketiga: Sanjungan yang Menghanyutkan Tanya Jawab

Mukaddimah

Segala puji hanyalah bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala semata. Kami se-nantiasa memuji-Nya, memohon pertolongan serta meminta ampunan kepada-Nya. Kami memohon perlindungan kepada-Nya dari kejahatan yang dibisikkan oleh jiwa-jiwa kami, serta dari keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah berikan hidayah, niscaya tiada satu orang pun yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, niscaya tiada seorang pun yang dapat memberinya hidayah.

Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang ber-hak diibadahi dengan benar selain Allah Subhanahu wa Ta'ala semata, tiada sekutu baginya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam adalah seorang hamba dan utusan-Nya. Shalawat dan salam semoga tercurah atas junjungan kita Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, atas segenap keluarga serta seluruh sahabat beliau.
Amma ba'du,

Wahai pembaca yang mulia, sebelumnya kami ucapkan: Salamun 'Alaikum wa Rahmatullahi wa Bara-kaatuhu,
Sudah kita maklumi bersama bahwa banyak sekali tipu daya setan untuk menyesatkan bani Adam. Oleh sebab itu, saya katakan dengan serta merta meminta pertolongan kepada Allah, bahwa panah-panah setan tersebut sangat banyak. Panah yang dapat melumpuh-kan mangsanya sehingga tidak kuasa berbuat kebaikan dan mampu menggiringnya untuk selalu mengikuti hawa nafsu serta berkhayal yang muluk-muluk. Jika se-buah panah meleset dari sasarannya, pasti akan diikuti dengan panah kedua, ketiga dst. Syair di bawah ini sangat tepat untuk menggambarkan hal itu:
To mbak Wie', trims atas kiriman rtikelnya ^_^

Monday, April 03, 2006

Moment-moment kebahagiaan

Setiap manusia, memiliki moment-moment penting dalam hidupnya. Moment-moment tersebut bisa pada saat merayakan hari lahir kita, pada saat lulus kuiah, memperoleh pekerjaan, atau sekedar membahagiakan orang lain di sekitar kita. Meskipun hal tersebut amat kecil di mata orang lain, namun memiliki nilai tersendiri bagi kita. Namun, moment2 tersebut sejatinya bisa terjadi saat kita memperoleh suatu nikmat, maupun suatu musibah yang keduanya sebenarnya merupakan moment2 membahagiakan. Suatu moment dan pengalaman berharga yang tidak bisa dinilai dengan apapun juga.

Sejatinya, hidup itu berwarna. Kadang hitam, kadang putih, namun kadang bisa menjadi pink, atau biru. Hijau, jingga, ungu dll (mejikuhibiniu :)). Rosulullah bersabda dalam salah satu hadistnya :
“Tidaklah seseorang ditimpa sesuatu kemalangan, walaupun hanya tertusuk duri sekalipun melainkan Allah akan menghapus dosa2nya, sebagaimana daun2 yang berguguran” (HR .Bukhori-Muslim)

Dari hadist tersebut, kita bisa menarik suatu hikmah bahwa musibah juga merupakan moment2 membahagiakan, karena dengan itu Allah akan menghapus dosa2 kita. Subhanallah.. Maha Suci Allah yang maha kasih. Tak ada yang bisa melebihi rasa kasih, seperti Allah mengasihi hamba2Nya.

Saudaraku, di dalam kitabbullah pun Allah telah menyampaikan, “Karena sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (QS Alam Nasyrah 5-6).Dalam dua ayat tersebut Allah kembali mengingatkan kita akan kasih sayangNya. Sesungguhnya Allah selalu memperhatikan hambaNya, menyayangi mereka, dan menguatkan mereka ketika mereka lemah. Ia limpahkan anugerah kasih sayangNya tanpa batas, kecuali bagi orang-orang yang membatasi dirinya dengan Allah.

Subhanallah… disaat2 sulit pun Allah masih memperhatikan kita, Allah menjanjikan kemudahan bagi kita, meskipun terkadang kita tidak ridho atas segala ujian dariNya, dikarenakan keterbatasan akal kita, sehingga kita tidak bisa menarik makna mendalam atas musibah yang kita alami.

Semoga sebuah hadist berikut ini, bisa kembali menggugah hati-hati kita, yang terkadang terlalu penat dengan urusan dunia dan gemerlapnya yang melenakan kita dari mengingatNya. “Orang-orang mukmin itu menakjubkan, segala urusan amat baik baginya, ketika mendapat kesenangan ia bersyukur, ketika mendapat kesulitan ia bersabar” (HR Muslim).

Dan atas kekuasaanNya, kepadaNya lah seharusnya kita bergantung, kepadaNyalah kita berharap,kepadaNya kita meminta pertolongan. Semoga risalah ini bisa menjadi sarana penyejukbagi kita semua. Amin. Wallahua’lam bishowab.

Aku, disaat moment2 kebahagiaan :)

Ilmu Yang Bermanfaat


Jika engkau ingin mengetahui ilmu dan amal yang bermanfaat dan paling penting bagimu, maka bayangkanlah bahwa besok engkau akan mati, kembali kepada Allah Ta’ala & berdiri dihadapanNya. Bayangkanlah Allah SWT kemudian menanyakan semua ilmu, amal, dan keadaanmu. Setelah itu engkau akan dimasukkan ke dalam Syurga (Al-Jannah) atau Neraka (An-Narr).

Ilmu & amal yang engkau anggap lebih utama pada saat membayangkan kematian itu adalah ilmu & amal yang penting & bermanfaat untuk engkau miliki. Itulah yang seharusnya engkau tekuni. Sedangkan semua yang engkau anggap tidak bermanfaat untuk akhiratmu ketika engkau membayangkan kematian tersebut, maka tinggalkanlah.

Jangan sibukkan dirimu pada hal yang tidak bermanfaat untuk akhiratmu. Apa yang kau anggap penting & memang harus kau penuhi ketika membayangkan kematian itu, maka jangan kau tinggalkan. Dan apa yang tidak kau butuhkan pada saat itu maka tinggalkanlah dan jangan kau lakukan.

Renungkanlah uraian ini… Uraian ini akan sangat bermanfaat bagi orang yang mempunyai bashirah (ketajaman mata hati), yang memperhatikan kehidupannya kelak, saat kembalinya kepada Allah, keselamatannya di akhirat yang kekal kelak.
Dan hanyalah Allah lah yang dapat memberikan taufik. Sesungguhnya semua karunia berasal dari Allah SWT, dan ia berikan karuniNya itu kepada hambaNya yang ia kehendaki. Sesungguhnya karunia Allah sangatlah luas
(Fa-jannah/arsip/HIKMAH/03)

Saturday, March 25, 2006

Memory Yang Mengesankan


Pin Pon Sayang....
Waktu SMP pernah di kasih seekor kucing oleh teman sekelas. Kucing tersebut diberi nama Pinpon oleh adik bungsunya si Fitri, Icha’. Pinpon dipelihara sejak kecil hingga punya banyak anak coz suatu hari si pinpon minta restu untuk memboyong betinanya ke rumah. Jadilah mereka sebuah keluarga kucing dengan banyak anak. Ada yang hitam, abu-abu, putih, kuning, dan belang tiga. Eleuh..eleuh.. Si pinpon terbilang kucing yang cerdas dan lucu. Ia cepat mempelajari sesuatu, seperti ketika papa memberi makan ayam, bebek, dan angsa si pinpon ikut2an nongkrong dan bercengkrama dengan peliharaan lainnya di belakang rumah. Dan pinpon tidak pernah mengganggu teman2nya itu.
Pinpon juga telaten menjaga rumah, hingga dirumah tidak ada tikus dan kecoa. Sebab klo ada tikus or kecoa, si pinpon akan mengejar hewan2 itu sampai dapat, kemudian… yaa… dia meletakan bangkai binatang2 buruannya di depan pintu dapur, tempat mangkal favoritnya Hehehe… Selain itu, klo orang2 rumah mo jalan2, pinpon menghantar sampai pagar sambil mengucapkan “Myeoooong…. 3x” Artinya… “Selamat jalan, dan jangan lupa pulang, satu lagi… oleh-oleh yaaa…” klo orang rumah mo pergi sembari mengatakan “Assalamu’alaikum pinpon, jaga rumah baik-baik yaaa…” pinpon selalu menyahut salam kami yaa… tentu saja dalam bahasa kucing. Weleh… weleh…
Pinpon juga pernah mengklakson mobil dinas Papa yang diparkir dihalaman depan. Waktu itu kami sekeluarga mengira ada korsleting kabel klakson, tapi sebelum papa mmeriksa mobil, kami melihat pinpon dengan gagahnya berada di setir mobil sambil meong-meong seolah memperkenalkan hobi barunya. Tiiiiiin… tiiiiiin… tiiiiiin… Meooooong… Meooooong… Meooooong….Ck..ck..ck…..
Pinpon juga ditakuti anjing tetangga, sehingga tidak ada yang berani memasuki halaman rumah. Anehnya, pinpon suka makan apa saja… “yang penting halal” katanya. Nasi yang dicampur air putihpun dilahapnya termasuk buah2an seperti durian…. (yaaa ampyuuun ). Pinpon juga bisa merasakan apa yang dirasakan pemiliknya. Pernah suatu hari ketika Fitri besedih, pinpon mendekat dan berputar2 dikakinya, seolah2 ingin menghibur. Subhanallah…
Sejak kepindahan kami sekeluarga ke Palembang, kami tidak tau kabar pinpon lagi. Sehari sebelum berangkat, pinpon hanya mengendus-endus semua barang yang sudah disimpan ditas dan kardus2. Ia mengenali barang2 tersebut. Menjelang keberangkatan kami, pinpon naik ke atap rumah dan memandangai kami dari kejauhan sampai tak terlihat lagi. Satu yang ku ingat di pertemuan terakhir itu, pinpon menaiki atap rumah sambil menyuarakan suara yang terdengar sedih ditelinga… yaa… seperti nyanyian perpisahan… “Selamat jalan Fitri… jadi anak yang sholehah yaa…” hehehe….
Dimanapun pinpon berada...
Semoga pinpon baik-baik saja…
Amiin.